Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... PENULIS

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

KKN di Desa Mpok Nari

17 September 2019   14:05 Diperbarui: 17 September 2019   16:08 0 9 6 Mohon Tunggu...
KKN di Desa Mpok Nari
sumber ilustrasi: pixabay

Tak terbayangkan bagi Bibah, Luna dan Siska bakalan kembali ke zaman batu. Apa yang diharapkan mereka tentang desa  eksotis memang terbukti. Betapa eksotisnya mereka harus menumpang pick up dari ibukota kecamatan, plus sayur-mayur, plus ayam-bebek, tentu dengan percikan tahinya. 

Selepas menumpang pick up, mereka harus naik ketek melewati sungai menyeramkan, karena takut ada buayanya, dan takut kecebur ke sungai berwarna kecoklatan. Moga-moga mereka cepat sampai ke tepian di seberang.  Sungai itu lumayan lebar, sekitar seratus meter.

Kendala lain yang mereka hadapi adalah ketiadaan sinyal ponsel. Kalaupun ingin mencari sinyal, harus naik pohon yang tinggi. Pohon yang paling tinggi di desa itu adalah pohon kelapa. Urusan listrik juga membuat kelimpungan. Desa itu difasilitasi listrik tenaga air,  hanya hidup antara pukul tujuh malam sampai tujuh pagi. Selepas itu mereka mati gaya. Ada televisi hitam putih, tapi baru bisa nonton sesuai jadwal listrik hidup. Oh, betapa merananya mereka!

Mereka sebenarnya ingin menolak pergi ke desa itu. Tapi ini demi tugas. Siapa yang menyuruh mereka menjadi bidan? Itu adalah cita-cita mereka dari dulu. Kalau siap menjadi bidan, harus manut juga bila ditugaskan ke desa pedalaman. Jabatan mereka mentereng: bidan desa. Mereka menjadi pujaan warga desa. Tapi, ya, Tuhan, jangan sampai di desa kayak gini dong mereka ditempatkan.

Satu lagi yang mengesalkan, mereka ditempatkan di rumah paling besar dan seram di desa itu. Rumah panggung beratap ijuk. Bau kandang ayam di kolong rumah, tak ayal setiap saat membuat mereka hampir bersin, tapi tak sampai bersin-bersin. Baru hampir saja.

Belum lagi penunggu rumah itu, mungkin bila bertemu kamu di malam gelap, yakin kamu akan pingsan. Penunggu rumah itu seorang perawan. Perawan di sini artinya belum menikah. Tapi usianya hampir enam puluh tahun. Rambutnya melulu putih. Paling senang bersugi, sehingga dia  seperti baru selesai menghisap darah seseorang. Wajahnya juga seram. Hanya saja, kalau kau sudah kenal dekat, kau pasti senang bergaul dengannya. Mpok Nari itu orangnya latahan, dan senang bercanda.

Tugas tiga sejoli ini setiap hari harus  berkeliling desa.  Seperti vampir mereka mencari korban yang sedang sakit. Setiap berobat, orang desa selalu memberi upah dengan barter barang. Terkadang nanas atau tebu, bahkan ayam maupun bebek. Tak jarang pula tiga sejoli harus siap diajak makan bersama.

Oya, sebelum lupa, meskipun Mpok Nari itu perawan, dia memiliki tiga keponakan yang selalu bertandang ke rumah si mpok. Saya katakan selalu, sebenarnya sebelum bidan desa itu datang, mereka jarang mengunjungi Mpok Nari. Tapi, setelah keberadaan tiga sejoli itu, tak dapat tidak, sehari saja tak berkunjung, sepertinya tubuh mereka langsung gatal. Perlu saya beritahu, tiga keponakan itu, tinggal selemparan batu dari rumah Mpok Nari.

Oya, sekali lagi, sebelum saya lupa, berhubung tiga bidan desa itu tidak cantik apalagi menarik, namun karena tak ingin menghina tampilan seseorang, baiklah kita sebut saja mereka kakak-kakak nyantik alias KKN. Jadi, ceritanya nyambung, ada tiga kakak-kakak nyantik di desanya si Mpok Nari.

Bibah dan Paijo

Bibah itu seorang bertubuh gemuk. Berhubung di desa Mpok Nari udaranya dingin, rasa lapar Bibah meningkat lima derajat. Kau tentu berpikir perempuan satu itu semakin gemuk setiap harinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
KONTEN MENARIK LAINNYA
x