Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... PENULIS
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Ibu yang Beda

26 Agustus 2019   13:30 Diperbarui: 26 Agustus 2019   14:46 16 4 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi | Ibu yang Beda
sumber ilustrasi: pixabay

kau telah menjadi bapak
ketika parang tak bisa menebang
gunung-lembah tak perlu onak
biarlah keringat bersimbah darah
tak ada niat menyerah
kepada anak untuk diserah

kau menjadi hujan ketika panas parah
mengairi sawah mengupas gerah
agar semua berkah tak menjadi sepah
air mata ke mana tak perlu berkisah
biarlah disimpan sebagai cerita
dalam buku derita yang akan terbaca
ketika semua tiada hanya tinggal
alpa yang tiada terkira

bila bapak belajar dalam ruang membaca
ketika pintar dia keluar bekerja
susah payah mengukur derita
ketika  pulang dia hanya bendera
terkadang tak ingin turun  dan dikira

bila engkau belajar dalam ruang membaca
ketika pintar engkau keluar bekerja
susah payah merangkai cerita
ketika pulang harus sia menjadi perca
segala sela engkau sumpal hingga tak cela
segala kotor engkau seka hingga beda

peluh untuk keluarga
tangis untuk merdeka
ketawa untuk bersama
tetapi sekarang aku orang yang lupa
betapa tangan tak memberi derma
betapa pikir tak selau penuh dunia
ketika semua telah tiada
aku hanya bisa berdoa
semoga bisa berbagi pahala
agar kau tenang di alam sana

Ujung Kata, 819

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x