Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... PENULIS

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Selintas Cinta (I)

16 Agustus 2019   15:49 Diperbarui: 16 Agustus 2019   16:07 0 5 3 Mohon Tunggu...
Selintas Cinta (I)
sumber ilustrasi : pixabay

Pukul 22.00 WIB.

Dingin merapat. Kantuk terasa berat. Tapi, kepalaku terasa berpusing oleh tuntutan imajinasi. Tak kuhiraukan penat karena tumpukan pekerjaan di kantor tadi siang. Tak kuhiraukan lelah setelah kemarin pulang-pergi ke rumah sakit seperti setrikaan, mengurusi tetek-bengek mertua yang sedang apes, diserang stroke untuk yang kedua kali. Lumpuh sebelah kanan berpindah ke sebelah kiri.

"Belum tidur?" Istri bertanya. "Ini sudah malam. Jangan terlalu capek."

Aku hanya mendesah perlahan sambil mengambil laptob dari dalam lemari. Ketika imajinasi sedang liar, betapapun capek, aku harus menumpahkannya dalam tulisan. Kalau tak, kantuk hanya kubawa guling-gulingan di kasur. Imajinasi liar, meskipun aku mencoba menghitung domba-domba, mereka terlalu lincah. Dihitung limapuluh, aku lupa hitungan keberapa, sehingga harus dimulai dari satu.

Malam semakin pekat. Imajinasi tertuntaskan hampir setengah jam. Kututup laptob. Kubiarkan pikiran bermain-main. Ingat belum mandi dari tadi sore, sengaja aku ke kamar mandi. Petuah-petuah orangtua tentang pantangan mandi malam, melesat begitu saja. Terkadang ego lebih sering menaklukkan akal sehat.

Kunikmati guyuran air. Segar sungguh terasa badan. Setelah berpakaian dan siap menjemput peraduan, tanganku liar meraih smartphone. Benda satu ini baru sekitar tiga bulan kumiliki. Tapi, seperti namanya, dia memang pintar merayu. Rencana tidur, dia halau begitu saja. Beberapa media sosial kusambangi. Sekilas jari berpindah ke pemutar video. Hmm, film baru diunduh terpampang di situ. Aku tergoda menonton, kendati mata mulai menyipit. Beberapa kali benda pintar itu terjatuh ke dadaku, karena mata terpejam, ingatan hilang sekilat. Otak yang memerintahkan tangan berhenti bekerja, membuat benda pintar itu terjatuh.

Tiba-tiba sekali aku merasa tak bisa mengatur isi kepala. Seolah ada dua yang mengendalikannya. Satunya aku, dan satunya lagi entah siapa. Panas menjalar antara kepala, wajah, badan, kaki. Kantuk seolah tercerabut dari akarnya. Aku berubah posisi tidur dari utara ke selatan. Mencoba lena dan membuang pikiran yang kacau.

Kenapa dengan aku ini? Kucoba duduk, terasa badan limbung. Kucoba berdiri, aku berjalan seperti di atas kasur busa. Melayang-layang seakan burung yang terbang dan oleng, hampir saja terhempas. Aku berkeringat. Inikah tanda-tanda kematian? Bagaimana kalau aku kaku tanpa seorang pun tahu? Istri dan anak-anak tidur di kamar, sementara aku tidur di ruang tengah. Aku terbiasa demikian ketika sedang asyik bersama laptob. Aku ingin menyatu dengan imajinasi tanpa gangguan, dan tak juga ingin mengganggu mereka yang menyatu tidur sebagai berkah.

Aku mencoba masuk ke kamar sambil ngesot. Istri terbangun. "Ada apa, Pa? Papa kenapa ngesot?"

"Tak tahu, aku tak bisa tidur," keluhku. Mata anak-anak membuka. Hatiku trenyuh. Andaikan aku mati, kepada siapakah kelak mereka mengadu tentang penghidupan? Mereka hanya berdua. Mereka masih amat kecil untuk ditinggalkan. Aku perlahan memanjat tempat tidur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x