Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... PENULIS

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Nekat Menikah Memberiku Kebahagiaan

12 Juli 2019   16:49 Diperbarui: 12 Juli 2019   17:21 0 3 4 Mohon Tunggu...
Nekat Menikah Memberiku Kebahagiaan
sumber ilustrasi : pixabay

Sejak berusia duapuluh tujuh tahun, hal yang paling membuatku stress adalah bila orangtua, atau salah seorang saudara, atau teman menanyakan kapan aku menikah. Pikirku, apa salahnya orang yang menunda menikah? Apakah orang-orang itu tak paham betapa banyak problem yang akan timbul bila aku menikah?

Memang secara jasmani, atau lebih khusus masalah seks, aku sudah matang, bahkan sangat matang untuk menjadi seorang pejantan. Tapi sekadar pejantan yang tak terikat tanggungjawab, terutama memenuhi tuntutan sandang-pangan dari sebuah keluarga. Coba saja, pekerjaanku belum memiliki kejelasan, meski statusku karyawan tetap sebuah perusahaan. Bagaimana mungkin jelas kalau aku bekerja di perusahaan swasta yang bernama kontraktor.

Bila proyek rutin diperoleh dan modal perusahaan mantap, mungkin sampai belasan tahun perusahaan itu bisa bertahan memberiku nafkah bulanan. Namun bila kenyataannya perusahaan itu serupa jamur yang tumbuh di musim hujan, kemudian hilang sama sekali karena tak tahan dengan banjir yang menerjang, maka nasib menjadi empot-empotan. Misalnya bisa bertahan dengan menggaji karyawan tepat waktu. Kemudian lebih parah tak bisa menggaji karyawan tepat waktu. Sampai yang terparah menyerah kalah, artinya perusahaan itu bangkrut.

Andaikata pun perusahaan tempatku bekerja bisa bertahan melawan kerasnya pertarungan bisnis, namun penghasilanku sangat jauh dari kata mencukupi. Kala itu hanya delapan ratus ribu sebulan. Untuk menunjang hidup bujangan yang masih tinggal di rumah orangtua saja, aku masih keteteran. Ketimbang bisa menabung, aku malahan lebih banyak menghutang kepada orangtua, saudara, bahkan kepada teman. Konon lagi harus menikah dan tinggal bersama orangtuaku. Maka akan banyak masalah yang timbul. Pertama, hutang-hutangku semakin membengkak karena harus membiayai dua orang, diriku sendiri dan istri. Bila anak pertama lahir, hutang-hutangku menggunung. Toh, mulut yang butuh makan bertambah satu.

Kedua, aku harus siap-siap bersabar menghadapi sikap orangtua, terutama ibuku yang mungkin akan antipati kepada menantunya. Mungkin kalau sebulan-dua bisa berjalan aman. Tapi bila berbulan-bulan, siapa yang menjamin kondisi tetap aman? Mertua dan menantu yang sama-sama perempuan, umumnya bagaikan minyak dengan air. Kerap tak kompak. Ujung-ujungnya aku bingung membela siapa. Terlalu sering membeli ibuku, istri bisa-bisa langsung minggat. Terlalu sering membela istri, ibuku mungkin menganggapku sebagai musuh. Musuh artinya harus angkat kaki dari rumahnya dan membentuk koloni di tempat lain yang jauh. Sebab bagaimanapun, prinsip membangun keluarga baru memang begitu. Membangun dua keluarga sekaligus di dalam satu rumah lebih berisiko ketimbang masing-masing terpisah.

Maka kuputuskan menunda menikah sampai aku mapan dan memiliki rumah meskipun kreditan. Tapi sampai kapan? Kapan-kapan pasti tercapai! Batinku ragu-ragu. Maka tahun demi tahun terlewati. Perempuan-perempuan silih berganti mengisi hari-hariku. Terkadang berpacaran dengan si anu, bertahan setengah tahun. Berpacaran dengan si ini bertahan setahun. Berpacaran dengan si itu hanya tiga bulan. Mereka rata-rata dengan berat hati meninggalkanku. Sebab aku lelaki yang tak bisa memegang komitmen. Artinya, aku hanya bisa memacari, tapi tak bertekad menikahi mereka. Coba siapa yang tahan dibuat begitu? Perempuan pasti tak mau saripatinya dihisap kemudian dibuang dan menjadi sampah. Mereka menuntut bila seorang lelaki sudah menghisap sari pati cinta mereka, maka si lelaki harus bersedia menikahi mereka pula.

Di usia tigapuluh dua tahun, ibukulah yang paling rewel menyuruhku menikah. Bahkan perbuatannya kunilai mulai eksrim. Dari berulangkali membawa perempuan ke rumah untuk dijodohkan denganku, sampai nekad mendatangi ahli klenik demi mengguna-gunaiku agar ngebet menikah.

Dalam kebimbangan memilih melajang terus atau menikah, secara tak sengaja bertemulah aku dengan Haris (nama samaran temanku) di sebuah hotel, saat kami sama-sama menghadiri acara pernikahan kerabat dekat ibuku. Dia sudah mapan. Memiliki mobil, meski tak mewah, tapi bisa menaikkan gengsi. Istrinya juga boleh dikatakan menarik, meski hanya rata-rata jika dikategorikan cantik. Dan dia sudah memiliki dua jagoan kembar, anak-anaknya.

Aku kagum kepadanya. Padahal semasa sekolah di SMA, dia itu adalah murid yang biasa-biasa saja jika ditilik dari kepintaran. Bahkan cenderung sangat biasa. Selama tiga tahun bersekolah dia selalu berada di seputaran peringkat  lima paling bawah di kelas kami. Namun sekarang, hilang sudah "kebiasaannya" menjadi "luar biasa".

Dia menceritakan bahwa setamat SMA dia tak lagi melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Di samping ekonomi orangtuanya tak mendukung, dia juga tak berani nekad memaksakan diri bila kelak gagal di tengah jalan sebab dia adalah orang yang sangat biasa dalam kepintaran. Maka ketika teman ayahnya menawarkan dia bekerja di pabrik karet, dia menerima saja. Bau-baulah! Begitu pikirnya. Yang penting bisa mencari duit.

Hampir setengah tahun bekerja, dia memberanikan diri menikahi perempuan yang sudah sembilan bulan dipacarinya. Dia selalu ingat pesan sang ayah, bahwa menikah itu tak pernah mengakibatkan seseorang itu jatuh miskin, malahan mendatangkan rejeki yang melimpah. Rejeki itu tak dapat dikira-kira apalagi ditebak-tebak. Tuhan yang mempunyai kuasa, dan Dia yang berhak membuat seseorang itu sengsara atau bahagia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2