Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... PENULIS
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kekayaan Telah Membutakanku

6 Juli 2019   13:35 Diperbarui: 6 Juli 2019   14:15 293 4 1 Mohon Tunggu...
Kekayaan Telah Membutakanku
sumber ilustrasi : pixabay

Setelah menikah dengan Ir (nama samaran), dan harus memisahkan diri dari keluarga besar orang tuaku, betapa hidup kurasakan seakan menjepit. Aku dan Ir tinggal di rumah kontrakan tak layak huni. Penghasilanku yang tak jelas, cukuplah membuat keuangan keluarga amburadul. Hutang-hutang menumpuk di warung. Terkadang sehari kami hanya makan nasi dua kali, itu pun dengan berbagi. Bagaimana kemudian bayang-bayang kehadiran seorang anak, membuat kami cemas. Sanggupkah dua insan ini membiayai hidup seorang anak, padahal untuk dua mulut saja tak terpenuhi?

Terkadang aku ingin memilih tinggal di rumah orang tuaku saja. Hitung-hitung bisa terlepas dari biaya bulanan listrik dan air. Tapi itu jelas tak mungkin. Ayahku hanya pensiunan guru esde. Dia tentu bertambah kesulitan untuk memenuhi dua mulut lagi. Sementara di rumahnya masih ada tiga mulut yang harus dibiayai. 

Mulut ibu, adik dan tentu saja mulut ayahku. Lagi pula alangkah sumpek dan sempitnya rumah orang tuaku apalagi aku dan Ir tinggal bersama mereka. Di rumah orang tuaku telah dihuni tiga keluarga. Pertama keluarga orang tua, kedua keluarga abang dan ketiga keluarga kakakku. Belakangan aku hanya bisa berkeluh-kesah.

Rasa putus asa sering kutumpahkan kepada Isa (nama samaran) seorang teman senasib denganku. Bedanya dia tawakal, sedangkan aku tak sabaran. Sering aku mengutarakan niat kepada Isa, bahwa diri ini ingin melakukan ritual menyimpang demi mengundang harta memenuhi pundi-pundi keluargaku. Misalnya saja dengan pesugihan. Hanya saja Isa selalu mencegahku dengan memberikan wejangan-wejangan yang membuatku mengurungkan niat syirik itu. 

Menurut Isa, kemiskinan yang aku alami belum tentu tersebab Allah benci kepadaku, melainkan Dia sangat menyayangiku. Bisa saja Allah sengaja membuatku tetap miskin, agar aku tak melupakan-Nya apabila diri ini berharta banyak. Berharta banyak sudah pasti membuka jalan bukan hanya untuk berbuat kebaikan, termasuk juga berbuat kejahatan. Bukankah dengan adanya harta aku bisa berjudi, mabuk-mabukan, ngedugem, main perempuan nakal, bahkan selingkuh? Jadi Isa berharap aku tawakal seperti yang selalu dilakukannya. Dengan bertawakal biasanya membuat orang tak merasakan kemiskinan yang dia alami.

Tapi bagiku ucapan Isa hanya omong kosong. Mustahil ada orang yang bersabar didera kemiskinan kecuali Nabi. Sekarang jaman modern, jaman jetzet. Dan tentu saja aku bukan nabi. Aku seorang manusia seperti kebanyakan yang butuh harta dan cap orang kaya. Maka ketika ada teman mengajakku melamar pekerjaan di sebuah perusahaan pertambangan, tentu saja aku langsung mengiyakan. Beruntunglah rejeki sedang berada di genggamanku. Meski akhirnya mendapat pekerjaan sebagai sopir di perusahaan itu, yang penting aku tak bekerja serabutan lagi. Apalagi ketika sebulan bekerja, aku memperoleh penghasilan lumayan.

Karena aku cukup cakap di bagian hitung-menghitung, aku kemudian diperbantukan di bagian keuangan. Ah, betapa lega hatiku. Betapa kurasakan diri ini menjadi sangat berharga. Memang kalau kita berusaha, dan tak melulu bersabar menerima kemiskinan, penghidupan pasti berubah.

Perlahan benar perabotan rumah bisa kubeli. Lebih menggembirakan lagi, aku dan Ir bisa mengontrak rumah yang lebih memadai. Belum lagi kegembiraan berikutnya datang menghampiri. Ir mengandung anak kami yang pertama.

Begitulah, dari waktu ke waktu kehidupan kami bertambah membaik. Apalagi setelah setahun bekerja, aku tak lagi diperbantukan di bagian keuangan, melainkan ditetapkan sebagai staff. Di situlah kehidupan dunia luar yang penuh pernak-pernik mulai menggodaku. Dari sekadar coba-coba, aku keranjingan meminum minuman keras. Menyusul sekali dua berjudi dengan para karyawan usai gajian. Bahkan karena merasa memiliki uang, aku mulai melirik perempuan lain yang lebih menggoda dibanding Ir.

Teman sekantor memang sering mengajakku ngedugem, sekaligus berkunjung ke lokalisasi. Hanya saja aku enggan. Aku tak menyenangi perempuan nakal sejak aku kecil. Ayahku pernah sakit karena tertular penyakit kelamin, dan aku tak ingin kondisi demikian terjadi kepadaku. Tapi kalau berselingkuh dengan perempuan seperti Ani (nama samaran), yang bekerja di perusahaan sama denganku, belum tentu akan mengakibatkan penyakit kelamin. 

Aku kenal siapa Ani. Dia dari keluarga baik-baik, dan termasuk terhormat. Aku sangat mencintai Ani, meski sungguh sulit untuk menaklukkan hatinya. Dia tahu aku sudah beristri. Dia tak ingin menghancurkan keluargaku yang harmonis. Apalagi istriku lagi mengandung anak kami yang kedua. Dia takut kuwalat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x