Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... PENULIS

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Deru Debu

13 Juni 2019   11:10 Diperbarui: 13 Juni 2019   11:39 0 4 0 Mohon Tunggu...
Deru Debu
Dokpri

Cerita sebelumnya: 1, 2, 3, 4

Kapak wong

-5-

Berbilang hari terlampaui, apa yang didapat Kecik dari berjualan asongan? Dia hanya bisa menikmati makanan kelas kampung. Nasi putih, sayur berkuah, sambal, ikan asin dan krupuk. Begitulah setiap hari. Padahal sekali waktu dia ingin sering-sering jumawa menikmati ayam goreng Amerika, pizza Italia,  es krim salju. Ah, semuanya hanya bisa didapatkan dengan mudah oleh John Peking. Tanpa harus menggoreng hidup di bawah terik matahari dan tanah yang membakar telapak kaki. Tanpa harus besitegang masalah harga asongan. Sampai berurusan hutang-piutang yang berujung perdebatan alot dan tak jarang berakhir dengan tak bertegur sapa. Duhai, Kecik tergoda!

Mungkin sekali waktu nasib naas menimpa Kecik, katakanlah kalau dia nekat mencari peruntungan menjadi pemalak atau apalah, dan dia terpergok. Orang yang dipalak malah lebih galak. Orang yang dirampok balas membacok. Menjadi bulan-bulanan massa. Dibui.

Tapi toh semuanya butuh pengorbanan. Semakin besar uang yang dihasilkan dari sebuah pekerjaan, maka semakin besar pengorbanan yang harus digelontorkan. Namanya juga hidup, selalu ada timbal-balik. Selalu penuh perjuangan. Bila tak demikian, hidup hanyalah kerakap di atas batu. Hidup segan mati tak mau.

Di sebuah warung kopi tak jauh dari terminal Pulo Gadung, adalah kali kesekian Kecik dan John Peking bertemu. Kendati Musa melihat gelagat buruk dari pertemuan sahabat kecilnya dengan kelompok tikus busuk itu, toh Musa bukanlah orang yang otoriter. Dia fleksibel, dia demokratis. Apapun jalan yang hendak dilalu Kecik, adalah pilihan dan resiko dirinya sendiri. Seseorang tak boleh dipaksakan untuk sesuatu yang belum sebenar keinginannya. Musa hanya memberikan gambaran dan pandangan. Perkara pilihan, sekali lagi terserah tubuh masing-masing.

"Bagaimana? Gabunglah dengan kita-kita. Lo bisa hidup lebih mewah. Lihat jam tangan baruku. Hahaha hasil jambretan. Di toko,harganya bisa sampai empat jutaan. Apa lo tak tergiur? Uang juga penuh sekantong. Mau pelesir ke tempat yang enak-enak, mudah saja. Kalau tertangkap petugas, dengan uang kita bisa lebih cepat bebas. Lagi pula bapak gue kenal banyak petugas. Dari petugas palang pintu, sampai yang berkelas."

"Aku takut dosa."

"Dosa? Hahaha, apakah lo kenal dosa? Lo pernah ibadah?"

"Pernah, setelah tinggal serumah dengan Kek Musa."

"Puasa?"

"Selama di kampung aku tak pernah diajari puasa oleh bapakku yang lebih sering mabuk ketimbang waras."

"Nah, kalau tak pernah atau katakanlah jarang beribadah, untuk apa takut dosa?" John Peking memesan kopi panas. Gerombolannya sudah mabuk sejak tadi. Gelas berisi tuak Medan telah membuat hati mereka berbunga dan berenda-renda.  "Pikirkanlah ajakan gue. Pokoknya lo diistemawakan. Setiap lo berhasil melakukan tugas, sembilan puluh persen keuntungan, itu buat lo. Selebihnya kita makan bersama-sama. Setuju?"

"Aku pikir-pikir dulu."

John Peking menghirup pelan air kopi yang telah dihidangkan Pak Makruf, si pemilik warung. "Pikir-pikir atau lo takut kepada Musa?"

"Dua-duanya."

"Musa tak mau tahu lo mau jadi apa. Semua fair. Gue tahu tabiat si tua itu. Lo masih pikir-pikir?"

Sebuah bus melaju kencang menerbangkan debu di seberang warung. Pikiran Kecik ikut terbang, dan dia bimbang. Tujuannya melanglang ke ibukota, tak lain tak bukan, ingin menjadi orang sukses. Orang sukses tak jauh beda dengan istilah ber-uang (bukan beruang). Bagaimana mungkin bisa sukses kalau melulu berharap dari asongan? Tak ada bukti pengasong bisa kaya, kecuali berani banting stir menjadi pedagang yang tentu saja harus bermodal besar.

Tapi dari mana modal untuk berdagang? Belum lagi harus menyewa toko, belum isinya, belum ijin ini-itu. Apakah otak Kecik yang majal bisa menebas semua itu? Pilihan terbaik memang seperti yang ditawarkan John. Pekerjaannya tak jauh beda dengan pengemis. Tapi tugas penjahat jalanan seperti John dan teman-temannya, membutuhkan usaha keras. Perhitungan tepat. Ketangkasan, dan tentu saja tak dianggap hina oleh orang-orang. Melainkan dianggap angker, ditakuti sekaligus dimusuhi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5