Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... Penulis - PENULIS
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Anjing Herder Mang Ojo

22 Mei 2019   15:49 Diperbarui: 22 Mei 2019   16:05 104
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber ilustrasi : pixabay

Biasanya aku selalu melewati Gang Aman saat berangkat atau pulang sekolah. Jarak tempuh dari rumahku ke sekolah lumayan dekat bila lewat gang itu. Tapi sekarang aku terpaksa naik angkutan kota. Selain Ibu harus menambahkan uang jajanku untuk ongkos, jarak tempuh menuju sekolah menjadi semakin jauh. Apalagi kalau penumpang angkutan kota selalu penuh. Beberapa kali aku hampir terlambat masuk sekolah, dengan tubuh basah dan bau keringat.

Semua ini gara-gara Mang Ojo memelihara anjing herder.  Badan anjing herder itu tinggi besar dan tatapannya menyeramkan. Sekali saja  dia menggongong, aku langsung lari terbirit-birit. Husin pernah dikejar anjing herder itu. Husin nakal, melemparnya dengan batu. Untung saja Mang Ojo sigap menangkap rantai anjing herder itu dan mengikatnya kembali di tiang rumah.

"Kenapa sih Mang Ojo harus memelihara anjing herder?" rutukku setelah selesai makan siang. "Gara-gara anjing itu Ibu harus menambahkan uang jajanku. Aku juga capek berdesakan di dalam angkutan kota. Sering hampir terlambat masuk sekolah. Mana bau lagi!"

Seperti biasa Ibu hanya tersenyum. Dia mengelus-elus rambutku. "Mang Ojo itu kan seorang polisi. Kebetulan tempat anjing herder itu di kantor polisi sedang diperbaiki. Jadi, Mang Ojo bertugas merawatnya. Hanya sementara kok. Tidak selamanya."

"Tapi...."

 "Sudahlah, Fandi! Jadi anak cowok itu harus pemberani. Anjing herder itu tidak akan mau mengganggumu kalau kau berani. Tapi kau juga tidak boleh mengganggunya. Paham?" Ibu membereskan peralatan makan di meja. Aku paham apa yang dikatakan Ibu. Cuma,aku merasa tetap menjadi anak cowok penakut. Huh!

Hingga tibalah saat-saat yang paling menakutkanku. Karena istri Mang Ojo sedang mudik ke kampung, dia memesan makanan masak  kepada Ibu. Ya, masakan Ibu memang terkenal enak selangit. Sesekali Ibu menerima pesanan dari teman-temannya.

"Nah, tugasmu yang mengantarkan makanan ini ke rumah Mang Ojo, Fandi. Ibu lagi repot mengerjakan kue  pesanan Bu Siti. Bantu Ibu ya, anak pintar," rayunya.

Aku meringis. Sebenarnya tanpa dirayu, aku selalu siap membantu ibuku tersayang. Tapi kalau harus mengantarkan makanan ke rumah Mang Ojo, anjing herder itu mau dikemanain? Kurayu Ibu agar menyuruh Kak Sapto saja. Sayang sekali kakakku itu sedang belajar untuk  menghadapi ulangan besok hari. Minta tolong kepada Ayah, lebih tak masuk akal. Ayah pulang dari kantor satu jam lagi. Itu artinya membuat Mang Ojo kelaparan.

Karena didesak terus oleh Ibu, akhirnya aku memberanikan diri mengantarkan makanan itu ke rumah Mang Ojo. Pertama-tama langkahku cepat. Lama-lama melambat dan semakin lambat. Tapi selambat-lambatnya aku melangkah, tetap saja sampai di depan pintu pagar rumah Mang Ojo. Anjing herder itu tidak kelihatan di halaman. Syukurlah!

Kuketok pelan pintu pagar. Namun tidak ada suara yang menjawab dari dalam rumah. Aku tidak sengaja mendorong pintu pagar yang langsung terbuka lebar. Tiba-tiba anjing herder itu muncul di hadapanku. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun