Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... PENULIS

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Pilihan

Seni Nyambal yang Bikin Pedesnya Hafal

4 Mei 2019   02:02 Diperbarui: 4 Mei 2019   02:13 0 6 4 Mohon Tunggu...
Seni Nyambal yang Bikin Pedesnya Hafal
sumber ilustrasi : pixabay

Sebenarnya saya merasa tersinggung melihat betapa negara lain yang menunjukkan eksistensi sambalnya yang pedas, semisal Korea Selatan dan Thailand. Sementara yang bejibun penikmatnya dari Indonesia, secara warganya seperi hilang nyawa ketika makan tanpa sensasi pedas.

Bahkan saya tak.dapat mengingat satu demi satu dari ribuan varian sambal di nusantara ini. Konon kita adalah produsen nomor wahid masalah sambal menyambal. Anehnya malahan menjadi konsumen terbanyak, sementara sambal negeri sendiri perlahan dilupakan. Beruntung produsen mie instan mulai berinovasi dengan sambal nusantara, meski rasanya masih beda dengan aslinya, tapi toh merupakan terobosan yang patut diacungi jempol.

Sebenarnya kita tak mesti berbuat terlalu bombastis hanya untuk mendatangkan devisa, misalnya memproduksi pesawat terbang. Dengan hanya memajukan khazanah kuliner semacam sambal, saya kira Indonesia memiliki nilai tawar, khususnya masalah surga lidah. Pejabat pariwisatakah yang tak gencar menjemput bola, atau pihak produsen sambal yang semau dewek mengolah sambalnya? Makan kan dilihat dari lauknya yang berkelas! Mungkin itu yang terbetik di hati pegiat sambal. Padahal mereka tak tahu terkadang samballah yang membuat konsumen berpindah ke lain hati.

Kita pernah mendengar "Seni Minum Teh Ala Jepang". Sepele sekali, kan? Tapi, bila dikemas sedemikian rupa, seni yang kita anggap sepele itu amat berkelas. Kita juga pernah mendengar  "Mati Ketawa Ala Rusia". Sepertinya kita juga bisa lucu-lucu. Mengapa kita membiarkan Rusia mengklaim bahwa komedinyalah yang lucu?

Seharusnya kita juga bisa membuat "Seni Nyambal yang Bikin Pedesnya Hafal". Maksudnya bukan sambalnya yang kelewat pedas, hingga membuat sakit perut, tapi rasa pedasnya yang beda, membuat penikmat hafal, bahkan hingga ke teksturnya. 

Bukan masalah aneh kalau pelancong berkunjung ke Indonesia itu bukan semata selera mata. Pun  betapa asyiknya bagaimana menggoyang lidah.

Sebenarnya ada seni yang harus digarap bila ingin memajukan persambalan Indonesia ke kancah dunia :

Pertama, mengedepankan ulekan. Artinya, sambal itu akan tetap terjaga cita rasanya dengan diulek. Itu ibarat kutukan. Bagaimanapun caranya menyamarkan rasa tak sedap sambal blenderan, tetap saja akan terasa ada yang janggal, kendati sambal yang sudah diblender diulek kembali.

Perlu diingat, mungkin di tempat-tempat pariwisata, menyediakan juga rumah makan penyedia kuliner bersambal. Berikanlah kesempatan pelancong untuk mengulek sendiri sambalnya. Apakah itu tak keterlaluan? Jelas tidak tentunya. Terkadang orang akan semakin suka ketika berbuat melawan arus. Biarkanlah pelancong berkreasi sambal, tapi tetap di koridor sambal ala Indonesia.

Kedua, kita juga harus berani menyuguhkan seni ala kita. Jangan kita yang berusaha mensejajarkan seni nyambal kita dengan mereka yang cenderung feodal. Kita harus ingat betapa daya tarik sate kalajengking atau apalah namanya, membuat pelancong berkunjung ke Thaland hanya ingin mengicip sensasinya.

Kita mengharuskan pelancong makan tanpa alat seperti sendok-garfu. Tapi kita menyediakan tempat cuci tangan agar terasa gairahnya mencocol sambal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2