Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... PENULIS

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara Pilihan

Kenapa Saya Memilih Prabowo-Sandi

20 Februari 2019   20:20 Diperbarui: 21 Februari 2019   12:43 0 19 7 Mohon Tunggu...
Kenapa Saya Memilih Prabowo-Sandi
Foto Prabowo-Sandi (www.detiknews.com)

Persoalan memilih pemimpin, memang harus dipikirkan matang. Apalagi memilih capres dan cawapres. Bila salah, hasil kesalahan itu akan saya nikmati selama lima tahun. Itu tentu sangat menyakitkan!

Saya tidak ingin muluk-muluk memikirkan bagaimana visi-misi, hasil debat, polling dan isu-isu lain tentang capres-cawapres. Saya orang awam yang hanya menuruti kata batin, mata dan telinga. Maka saya menjatuhkan pilihan kepada capres Prabowo dan cawapres Sandi.

Tentu agak lucu bila saya tak memberikan alasan tentang pilihan tersebut. Alasan saya, meskipun saya bukan keledai, tapi saya tak ingin lebih rendah dari dia. Mungkin terdengar ekstrim. Tapi itu keputusan saya.

Saya belum pernah merasakan dipimpin oleh Prabowo-Sandi. Sementara track record petahana saya rasa lumayan buruk. Jadi, wajar pilihan saya jatuhkan kepada Prabowo-Sandi. Ibarat dua baju baru, saya pasti memilih baju baru ketimbang baju lama yang tidak nyaman. 

Bagaimana kalau kenyataannya Prabowo-Sandi tidak sesuai harapan saya? Mudah saja, lima tahun lagi tidak usah pilih mereka. 

Terus-terang dulu saya pendukung berat petahana. Semakin ke sini saya kecewa dan ingin yang baru. Tak salah dong saya pilih yang baru. Saya hanya berusaha, selanjutnya terserah Tuhan.

---o0o0o0o---

Nb (Na porlu binoto :) )

Mungkin tulisan ini terasa amat sangat dangkal, tapi inilah yang saya dapat lakukan. Prabowo-Sandi baru saja mencalon presiden dan wakil presiden, sehingga tak ada hal yang bisa saya jadikan pedoman. Mungkin track record mereka mumpuni, hanya saja itu di bidang lain. Jejak Prabowo yang saya tahu hanya sebatas ketentaraan dan pengusaha. Sementara Sandi selain nglotok di bidang bisnis, dia juga pernah menjadi wagub DKI. Tentu tidak relevan bila saya kemukakan kehebatan mereka, padahal pekerjaan belum dimulai. Masalah visi-misi, saya tak ingin terjebak di dalamnya. Visi-misi hanya tekstual, sering pula dilanggar. Siapa saja mungkin  bisa membuat visi-misi. Saya tak ingin kecewa berat ketika visi-misi kelak dilanggar (namun saya yakin mereka konsekuen). 

Hidup bukan coba-coba. Tapi antara dua pilihan, tak ada salahnya saya mencoba, bila pilihan yang lama mengecewakan. Maaf Nb-nya terlalu panjang.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x