Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Karyawan Swasta

Di seluruh kalammu aku melata sebelum dunia kehilangan aksara.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Sang Peracik

10 Februari 2019   17:48 Diperbarui: 10 Februari 2019   22:34 341 11 7
Sang Peracik
Ilustrasi: pixabay.com

Salmiah adalah perempuan gendut yang berjualan di pinggir pasar. Usianya tiga puluh lima tahun. Dia dipanggil Mak Sirin. Bukan berarti nama anaknya Sirin. Dia sama sekali belum menikah. Sirin itu nama kucing yang setia menemaninya berjualan.

Meskipun tidak ada lelaki yang mendekati Salmiah, tapi para perempuan sering merubunginya. Dari yang namanya ibu-ibu, sampai gadis beranjak dewasa. 

Salmiah bisa membuat perempuan yang tidak bisa memasak, menjadi koki super hebat. Dia menjadi guru masak yang handal. Bumbu yang diraciknya membuat setiap makanan menjadi enak. Misalnya, ketika seseorang buta sama sekali cara membuat rendang, Salmiah akan meramu sedemkian rupa.

Dia menjelaskan kepada pembeli bagaimana langkah-langkah membuat rendang. Dan hasilnya ajaib, rendang tersebut menjadi sangat enak di tangan perempuan yang sama sekali buta memasak.

Padahal boleh dikatakan, tempat Salmiah berjualan, jauh dari layak. Lokasinya di sudut paling sudut pasar. Menyempil di dinding toko kelontong. Atap tempatnya berjualan sudah banyak yang bolong. 

Apabila gerimis tiba, terpaksa seluruh bumbu ditutup kain terpal. Tapi, kalau gerimis menjadi hujan yang sangat deras, seluruh bumbu dipindahkan ke rumahnya. Itu artinya dia berhenti berjualan. Meskipun begitu, tetap saja pembeli mengejarnya. 

Tersebutlah Roji yang berjualan dalam toko permanen. Jauh dari becek. Bila hujan deras mengguyur, dia tetap aman berjualan. Tokonya paling tinggi di antara toko lain. Hanya saja tokonya sering sepi pembeli. Dia heran, kenapa bisa demikian. Padahal bumbu racikannya bermacam-macam. Apa yang dijualnya sama seperti yang dijual oleh Salmiah. Bahkan jualannya melebihi Salmiah.

Tapi, dia tak mengerti sama sekali dengan memasak. Bumbu raciknya sebagian dibuat oleh karyawannya. Sebagian lagi buatan pabrik. Bila ada pembeli yang buta memasak, maka dia tetap buta memasak. Bumbu racik yang dibelinya dari toko Roji tak berkhasiat sama sekali.

Suatu hari yang cerah, sengaja Roji menutup tokonya. Dia pergi ke tempat berjualan Salmiah. Dia terbelalak melihat pembeli yang berjubel. Hampir dua jam dia baru bisa lebih dekat dengan Salmiah. Itu pun karena bumbu racik yang dijual si Mak Sirin hampir habis.

Perempuan itu terkejut melihat kedatangan Roji. Apa gunanya dia ke tempat Salmiah berjualan? Bukankah jualan mereka serupa? Atau? Salmiah berusaha melemparkan senyuman termanis, "Eh, Mas Roji. Tumben-tumbenan ke mari." Segera dia ambil kursi untuk tamunya itu.

"Aku mau lihat-lihat saja. Hari masih siang begini, bumbu racikmu hampir habis. Hebat!" Roji mengedarkan pandang, lalu dia tersenyum. Berdetak juga hati Salmiah. Dia curiga Roji iri atau ada maksud apa. Tapi, ternyata dia hanya heran melihat bumbu racik yang dijual Salmiah, laris bagaikan kacang goreng. 

Saran Roji, lebih baik Salmiah berjualan makanan saja. Salmiah kan jago bumbu! Bahkan dia sangat ahli memasak. Para pembeli yang tidak bisa memasak, bisa menjadi koki hebat. Mereka mendapat pujian dari suami atau orang tua mereka. Padahal yang harus mendapat pujian itu Salmiah.

"Maksud Mas Roji?" Salmiah melayani seorang pembeli. Pembicaraan mereka berhenti sejenak. 

"Maksudku kenapa bukan kau sendiri yang memasak. Kau berjualan makanan saja. Untungnya lebih banyak dari bumbu racik. Kau bisa memperbaiki tempat berjualan ini. Bahkan kau bisa menyewa atau malahan membeli toko seperti milikku. Apa kau tetap ingin seperti ini?"

Salmiah hanya tersenyum. Perbincangan mereka terhenti karena tiba-tiba hujan turun deras. Tapi, saran Roji terngiang-ngiang terus di telinga perempuan itu.

Ah, mungkin saja Roji hanya iri karena merasa tersaingi. Bila Salmiah beralih menjadi penjual makanan, otomatis saingan Roji akan berkurang. Ya, ya. Mungkin saja lelaki itu hanya tersaingi.

Berminggu-minggu setelah perbincangan itu, Salmiah masih bimbang. Seandainya niat Roji tulus ikhlas, bisa jadi hidup Salmiah bisa menjadi lebih baik. Dia tidak lagi berjualan di tempat becek, yang selalu harus janbar alias kalau hujan harus bubar.

Dua bulan setelah dirundung kebimbangan, tiba-tiba Salmiah menuruti saran Roji. Tempat jualannya diubah menjadi lebih luas. Agar tidak selalu becek, dia mendapat pinjaman uang dari Roji untuk menyemen lantai tempat jualan itu.

Karyawan yang membantu Salmiah ditambah dua orang. Mengerjakan bumbu racik tentu beda dengan berjualan makanan. Apalagi yang akan djual Salmiah adalah makanan siap saji alias makan siang berupa nasi dan lauk-pauknya.

Sehari-dua setelah Salmiah berjualan makanan, yang ada hanya wajah-wajah kecewa para pembeli. Mereka yang berharap memperoleh bumbu racik sekaligus beberapa wejangan dari Salmiah, musnah sudah. Terpaksalah mereka ke warung Roji. Sedangkan makanan Salmiah tidak ada yang menyentuh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3