Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Karyawan Swasta

Di seluruh kalammu aku melata sebelum dunia kehilangan aksara.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Jangan Sebut Saya Pikun

7 Februari 2019   14:01 Diperbarui: 8 Februari 2019   20:57 370 21 12
Cerpen | Jangan Sebut Saya Pikun
Ref. Foto : pixabay

Saya sungguh tak ingin dianggap lelaki tua yang pikun, meskipun sekarang sudah berumur hampir tujuh puluhan tahun. Coba lihat di cermin, saya masih seperti lelaki berumur limapuluhan, kan? Belum pantas meninggalkan bisnis ekspedisi yang hampir empatpuluh tahun saya geluti.

Alangkah bodohnya, bila di masa kejayaan ini, saya membiarkannya terbengkalai, dan mewariskannya kepada anak sulung saya yang belum tentu memiliki visi dan misi seperti saya. Bisa-bisa perusahaan bangkrut karena dia terlalu royal menggunakan kas perusahaan. Dia tak paham manajemen. Selalu memperturutkan hawa nafsu.

Tentu memalukan dan menyakitkan, bila suatu hari kelak perusahaan yang saya rintis sedikit demi sedikit. Jatuh-bangun sampai saya hampir stress. Lalu ambruk secepat membalik telapak tangan.

Saya juga paling tak senang ketika mendengar anjuran anak-cucu untuk istirahat, sebab pikiran saya bukan seperti dulu lagi. Saya tahu, itu ucapan yang diperhalus saja. Mereka hanya ingin mengatakan saya pikun.

Butuh seseorang untuk merawat, misalnya perempuan, setelah mendiang istri saya pergi ke alam baka sekian tahun lewat. Maka saya selalu berusaha selalu kelihatan tegar di mata anak-cucu. Pagi-pagi saya bangun dan berolahraga mengelilingi komplek perumahan, sementara anak-cucu mungkin masih mendengkur kedinginan.

Saya pun paling anti ditemani ke mana-mana. Seperti seseorang yang harus dituntun. Diingatkan berulang-ulang untuk sesuatu yang memualkan. Misalkan; jangan lupa meminum obat, rokoknya dikurangi kalau tak ingin bengeknya kambuh, dan seabrek nasehat yang membuat telinga saya tersumbat dan pikiran mampet.

Salah satu penyelesaiannya, paling-paling saya menuju kantor. Melihat kesibukan karyawan menjalankan operasional bisnis ekspedisi. Ketika jenuh, saya akan mengunjungi restoran eksotis bergaya dan menu prancis di pusat kota Palembang.

Tapi di situ, saya tak memesan menu aneh-aneh, misalnya pizza, atau spaghetti atau salad buah. Brengsek makanan itu! Membuat saya harus sering ke kakus karena perut tak menerima.

Pilihan terbaik saya, pastilah setumpuk roti bakar, dan secangkir cappuccino. Mungkin-mungkin kalau kepingin menyeruput seloki vodka. Namun, husss.... Ini diam-diam. Bisa berabe kalau anak-cucu mengetahui perbuatan saya.

Nah, seperti hari ini, setelah bertengkar dengan anak sulung saya mengenai hobbi buruk saya menikmati es krim sembunyi-sembunyi, pilihan terbaik adalah melongok ke perusahaan. Dilanjutkan mengunjungi restoran itu sendirian. Tawaran sopir dan bodyguard di rumah untuk menemani, tak saya ladeni. Saya bersiap-siap memotong gaji bulanan mereka bila masih membantah.

Ah, lega rasanya setelah berada di meja paling sudut di restoran itu. Hawa sejuk AC membanjiri badan saya. Sengaja saya pesan seloki vodka, dan ingin mengisap cerutu. 

Tapi pilihan kedua itu dilarang, karena restoran bebas asap rokok. Terpaksalah saya mengunyah permen karet sambil menunggu roti bakar dihidangkan beserta secangkir cappuccino, dan itu tadi, seloki vodka.

Hmm, anak-cucu saya memang brengsek. Mereka selalu mengatur segala kehidupan saya. Padahal dari dulu hingga sekarang, sayalah yang memberikan mereka "hidup". 

Mengapa sekarang mereka ceriwis dengan kata-kata memualkan; Bapak, jangan jalan-jalan terlalu jauh bila tak ditemani seseorang. Kalau ada apa-apa, coba siapa yang mau membantu. Bapak jangan lupa bawa inhaler. Nanti bengek Bapak kambuh. Bapak jangan merokok. Bapak jangan makan es krim. Jangan mengunyah permen karet. Jangan.... Setan!

Seorang perempuan berumur sekitar tiga puluhan tahun, akhirnya meluruhkan kekesalan saya. Dia berwajah cantik. Pipinya montok dengan dada sedikit membusung. Perempuan yang menjadi idola saya sejak dulu.

Tapi apa yang bisa diharapkan pada lelaki tua seperti saya? Perempuan itu pasti tak tahu ketampanan saya sekian puluh tahun lewat. Dia hanya bisa melihat saya sekarang. Seorang lelaki yang wajib dibantu. Dikasihani.

Setelah menghabiskan seloki vodka, saya menambahkan dua loki lagi, yang membuat perempuan itu mengakhiri sikap berdirinya dan mendekati meja di seberang saya. Begitu mata kami bersitatap, dia langsung tersenyum.

Dia memberi isyarat, dengan jari telunjuk, seolah menanyakan apakah kursi di samping saya ada pemiliknya. Buru-buru saya menjawab dengan kode gelengan kepala.

"Sendirian, Pak?" tanyanya lembut. Dia memesan sepiring spaghetti dan segelas lemon hangat.

"Ya, kamu?" balas saya. Dia menjawab bahwa dia sendirian juga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3