Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Karyawan Swasta

Kelahiran Kotanopan Sumatera Utara.Menjadi penulis lepas di beberapa koran lokal Palembang dan nasional.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | O Bertemu O

9 Januari 2019   13:24 Diperbarui: 10 Januari 2019   22:20 805 21 16
Cerpen | O Bertemu O
Ref. Foto : pixabay

Duduklah di sini, dan dengarlah ceritaku. Kau jangan tertawa kalau ini membuatmu geli. Karena yang tertawa duluan adalah yang menangis belakangan. Maka, duduk, diamlah. Diam lebih baik bagimu, ketimbang bercakap terus, agar ceritaku mengena di hatimu.

Kau mengenal Saoci, kan? Lelaki berperawakan Cina, tapi keturunan Batak tulen. Matanya sipit. Badannya gembul. Pipinya seperti biasa, serupa bakpao. Tapi jangan dengar kalau dia berbicara, logat Bataknya masih kental. Lebih kental dari kopi pahit yang sudah terhidang di hadapan kita.

Sering kali aku mengejek, bahwa meski hampir sepuluh tahun merantau di Jakarta, tabiat cakapnya masih serupa dulu. Tapi atas setiap ejekanku, dia membalas dengan senyuman. Dia berprinsip, jangan memberikan kulitnya, ketika orang melemparmu dengan buah durian. Namun berikanlah isinya, sementara kulitnya letakkan di tong sampah. Prinsip yang konyol, menurutku. Seperti konyolnya keinginannya sebulan lalu.

Saat itu aku sedang menyiangi rumput di halaman depan rumah kontrakan. Panas sebenar terik, walau masih jam sembilan pagi. Topi lebarku dapat memayungi keterikan itu. Sementara dia, si Saoci itu, memakai pakaian training. Mengalungkan handuk belel serupa sopir truk di leher. Hendak ke mana orang aneh itu? Aku sendiri tak tahu dan sama sekali tak mau tahu. Kecuali akhirnya dia menyapa lebih dulu.

"Lagi mencari apa, Bang? Apa ada biji emas di situ?" dia memang senang bercanda. Padahal aku sering kesal. Aku paling benci dicandai.

"Biji emas dari mana?" aku menjawab tanpa menoleh. "Kau itu mau kemana? Berpakaian training panas begini, apa tak dianggap orang kau setengah miring?" dia cekakak. Kutahu perutnya yang membusung akan berguncang.

Saoci paling anti olah raga. Baginya, kegemukan tubuhnya adalah berkah dari Tuhan. Maka itu, dia paling senang makanan berlemak dan minuman yang manis-manis. Satu lagi, ketika libur bekerja, dia menghabiskan waktu mengorok di kamarnya yang hampir berdekatan dengan jendela kamarku. Suaranya laksana petir, sehingga aku lebih senang menyudahi bersantai di tempat tidur, lalu berlari ke luar rumah mengerjakan perkara yang remah-remah demi membunuh waktu sampai menjelang malam. Maklum, sekali lagi karena aku bujang lapuk.

Kuakui memang kegemukan Saoci berkenaan dengan pekerjaan yang digelutinya sekarang. Dia seorang koki di restoran siap saji. Klop lah! Selain masakannya dipuji orang, dia juga lebih dekat dengan segala aroma yang membuatnya selalu seperti orang kelaparan.

"Rif, aku mau bertobat menjadi orang gemuk," dia membuatku tertarik. Seumur-umur aku belum pernah mendengarnya mengeluh. Dia orang yang optimis. Dia pantang mengeluhkan kepada orang lain atas setiap kondisi buruk yang sewaktu-waktu menimpanya. Sebagai tetangga, akulah yang paling sering menyampahinya dengan keluh-kesahku.

Kataku, dia ibarat tong sampah yang baik hati. Meski senang bercanda---ketika aku mengeluh---dia akan diam serupa kukang. Dia benar-benar pendengar yang baik. Nyaris tanpa memberi solusi apa-apa. Tapi biasanya setelah mengeluh kepadanya, hatiku sedikit plong.

Nah, sekarang dia mengeluh kepadaku? Itu artinya ada masalah super besar menimpanya. Segera kuletakkan arit di teras. Kuminum air dari ceret langsung dari corongnya. Tabiat buruk yang tak perlu dicontoh!

"Kenapa pula? Katamu, gemuk itu adalah berkah. Katamu, dengan tubuh gemuk, otomatis menjadi iklan bahwa makanan di restoran tempatmu bekerja memang super nikmat. Aneh! Apalagi sekarang kau sudah bangun dan hendak berolahraga. Ada gerangan apa membuatmu berubah seratus persen begini?"

"Mak-ku di kampung kemarin menelepon!"

"Bukannya itu perkara biasa?" ketusku.

"Masalahnya pelik, Rif," wajahnya berubah kuyu. Tak pernah dia kelihatan sekusut itu. Aku jatuh iba.

"Ceritakanlah!"

"Aku mau dijodohkan Mak dengan perempuan di kampung. Sebetulnya aku enggan. Malu rasanya dijodoh-jodohkan, meski perempuan itu anak tulangku. Tapi setelah menerima kiriman foto perempuan itu, hatiku berbalik suka. Perempuan itu memang belum pernah bersua denganku, karena selama ini dia tinggal di Irian Jaya. Kemarin itu pas bapaknya mutasi kerja ke Medan, singgah sebentarlah dia sekeluarga di rumah Mak, sekaligus mengancang-ancang menjodohkan kami berdua."

"Perempuan itu cantik, kan?"

"Iyalah pula! Kalau tak cantik tak maunya aku," wajah kusutnya kembali merona.

Dia mengatakan ingin secepatnya menikah dengan perempuan itu. Tapi ada masalah pelik yang membuatnya amat merana. Dari telepon Mak, ternyata si perempuan tak senang melihat foto Saoci yang terpampang di dinding rumah dengan postur serupa kerbau. Perempuan itu menginginkan Saoci yang bertubuh proporsional.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4