Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Karyawan Swasta

Duduklah di sini, mari kita bercerita, hingga engkau merasa berada di dalam cerita.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kepak Burung Merah

8 Januari 2019   16:38 Diperbarui: 8 Januari 2019   22:17 274 4 2
Kepak Burung Merah
Sumber: pixabay

Hari cukup cerah. Kemudian hujan turun. Bermula gerimis, lalu menderas seakan ditumpahkan dari langit. Sekitar bandar udara sedikit berkabut. Dingin menggigit. Kurapatkan jaket membetot badan.

Selintas wajah Pa Tua membayang di mata. Sepuluh tahun lamanya kami tak bertemu. Dia ayahku. Akan terdengar geli bila aku menyebutnya Pa Tua, bukan ayah. Tapi panggilan Pa Tua lebih cocok di lidahku. Usia kami terpaut jauh. Ketika aku lahir, dia hampir lima puluh lima tahun. Dan aku adalah anak paling buncit dari istrinya yang paling buncit. Pa Tua itu  Don Juan. Istrinya lima.

Tujuanku bertemu dia di negeri Singa, bukan sekadar  ingin melepas kangen. Lebih tepatnya ingin mempelajari ilmu pengasih. Bagaimanapun, di usia dua puluh lima tahun, dia telah memecahkan rekor beristri tiga. Di atas usia tiga puluh tahun, sebelum berkepala empat, dia beristri lima. Sedangkan aku, menjelang empat puluh tahun, pacar saja pun tak punya. Konon lagi mau menikah. Kepergianku ke negeri Singa, pun tanpa sepengetahuan Ma Muda, ibuku. Pa Tua dan Ma Muda sudah bercerai sekitar sembilan tahun lalu. Penyebab utama, Pa Tua menikah diam-diam dengan perempuan berwajah oriental dan bolak-balik Indonesia-negeri Singa.

"Kami sedang menunggu Anda. Anda Pak Safran, kan?" Seorang perempuan berbaju terusan corak batik, tersenyum di hadapanku. Aku gelagapan. Membetulkan posisi leyeh-leyeh di kursi ruang tunggu. Kemudian meraih tas jinjing berukuran sedang. Sebelum meninggalkan perempuan itu, kuucapkan terima kasih dengan kesan malu-malu.

Di lapangan udara, burung merah itu sabar menunggu. Kuturuni beberapa tangga sebelum akhirnya buru-buru menerabas hujan. Salahku terlalu lama melamun. Salahku seperti tuli ketika orang yang memanggilku dari speaker habis kesabaran.

Masuk dari pintu di ekor burung merah, aku duduk di bangku bagian tengah, sesuai nomor tiket. Seorang perempuna muda, juga seorang perempuan setengah baya, masing-masing mengapitku. Kupikir mereka satu keluarga, atau mungkin teman. Tapi aku merasa bodoh setelah mereka mengatakan bahwa burung merahlah yang mempertemukan mereka. Ya, mengapa pula mereka harus duduk dipisahkan bangkuku, kalau memang mereka satu keluarga atau teman.

Tak ada perbincangan selanjutnya. Perempuan muda itu sibuk mematikan gadget. Aku tersenyum. Sudah hampir tiga jam kumatikan handphone sebab takut ditelepon Ma Muda. Perempuan tua itu mengeluarkan kaca mata tebal dari saku baju hangat. Lalu membuka lembaran buku yang dikepitnya di ketiak sedari tadi.

Harusnya aku lebih banyak berbincang dengan perempuan muda di sebelahku. Tapi aku bukan tipe perayu, terlebih tipe pengganggu. Melihatnya menguap, lalu menyenderkan kepala di sandaran kursi, tentu tak pantas mengajaknya berbicara. Misalnya dengan menawarkan sebatang coklat atau beberapa butir permen di balik saku jaketku. Dia pun terpejam. Entah tertidur. Malah kemudian, perempuan tua itu yang memulai perbincangan, sesaat pesawat terbang landas menembus awan tebal.

Ada getaran. Hentakan. "Kejadian ini selalu membuatku takut," kata perempuan tua itu. Perempuan muda di sebelahku mendengkur halus, seolah tak merasakan apapun. "Tapi setelahnya, kembali biasa."

"Tenangkan hatimu, Bu." Kuusap punggung tangannya. Buku yang dibacanya, jatuh ke lantai burung merah. Kuraih, dan kuletakkan pelan di pangkuannya. "Aku teramat sering mengalami hal yang demikian. Tapi percayakan saja semuanya kepada pilot. Mereka telah lihay."

"Bukan percayakan kepada Tuhan?" selanya.

"Terutama itu." Aku tersenyum.

Dia kembali membaca buku. Hanya saja, sepertinya dia lebih senang berbincang denganku. "Andai saja aku mempunyai anak yang masih gadis, akan kujodohkan dia denganmu." Senyumnya nakal. Aku terperangah. Darimana dia tahu aku belum menikah? Apakah dia cenayang? Kutepiskan takhayul itu. Senyum kulepaskan bahwa aku tak berpikir macam-macam.

"Kau pasti bingung mendengar perkataanku. Lalu menebak-nebak tak karuan. Aku sudah tua. Sudah banyak makan asam-garam. Berbagai lelaki telah berhubungan, maksudku, berbisnis denganku. Tua-muda. Jadi, apa sulitnya membedakan lelaki yang masih bujangan, menikah atau duda?" Dia tertawa pelan. Burung merah tersentak. Bergetar seolah melewati kubangan. Buku perempuan itu jatuh lagi ke lantai burung merah. Kini, dia yang pelan mengambilnya, kemudian menyimpannya di saku kangguru yang terjahit di punggung kursi di depannya.

Awan hitam menyentuh kaca. Kilat saling menghempas di sekitar sayap burung merah. Tiba-tiba aku takut kilat itu melukai sayapnya. Lalu terbakar. Lalu... ah...

"Awan kumulonimbus," katanya. Bukan perempuan tua itu yang berkata, melainkan perempuan muda di sebelahku. "Aku selalu takut bertemu awan itu. Menyeramkan. Seperti tangan maut."

Suara di speaker meminta seluruh penumpang mengencangkan sabuk pengaman. Beberapa penumpang berdoa. Hening. Dan tiba-tiba sebuah sentakan menghantam seperti di bagian paruh burung merah. Kecepatan burung merah melebihi biasanya. Bukan terbang lurus. Lebih tepatnya terjun. Kilat-kilat menyambar kaca. Semua seperti ditelan cahanya. Mataku silau. Telingaku berdenging mendengar segala derak dan jerit. Aku tak merasakan apa-apa lagi, sebelum akhirnya kubuka mata, dan melihat orang-orang di sekitarku sedang bersiap mengambil barangnya di bagasi atas kepala.

"Sudah sampai, Anak Muda! Kerjaanmu tidur saja." Perempuan tua itu tersenyum. Terlihat lebih cerah dan muda dibanding beberapa saat lalu. Ingin kutanyakan apakah dia masih ketakutan dengan kejadian barusan, maksudku saat disergap awan kumulonimbus. Tapi kupilih bungkam karena dia sudah menyuruhku berdiri. Perempuan muda di sebelahku sudah menghilang duluan.

Aku pikir ini di Bandara Changi. Orang-orang bergegas menembus gerimis. Setelah keluar dari perut burung merah sekitar sepuluh atau sebelas langkah, kusempatkan menoleh. Ajaib, burung merah itu telah lenyap!  Begitu cepatnya, seperti mengejar setoran.

Keluar dari pintu kedatangan, aku merasa melihat seseorang yang sangat kukenal di antara kerumunan penjemput dan sopir taksi. Dia menatapku takjub. Melambaikan tangan sambil tersenyum. "Safran, kapan kau tiba, Kawan?" Dia mengacuhkan larangan petugas bandara agar jangan melewati pembatas penjemput. Disongsongnya aku. Dirangkulnya bahuku. Meski agak gamang dan rikuh, tapi cepat juga kurasakan kami menjadi sangat akrab. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2