RIFAN OKTAVIANUS
RIFAN OKTAVIANUS

Desainer grafis lepas yang juga penggiat lingkungan hidup, yang sedang gencar bercerita tentang bahaya sampah plastik.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Perinatologi Untuk Negeri

3 Desember 2018   13:15 Diperbarui: 4 Desember 2018   18:27 1479 0 0
Perinatologi Untuk Negeri
Foto: Rifan Oktavianus

Biak, Desember 2017

Pukul sembilan pagi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Biak Kota tidaklah terlalu sibuk, terlihat beberapa pasien dan dokter sedang lalu-lalang dalam komplek rumah sakit yang cukup luas yang tengah berbenah renovasi. Dalam sebuah gedung yang terletak di paling belakang kompleks, seorang dokter tampak sibuk rekam medis pasien di meja utama. 

Di balik meja, Anda langsung bisa melihat ruangan dengan sepuluh bayi mungil yang tidur berdua-dua pada lima buah unit infant warmer (tempat tidur bayi dengan mesin penghangat di atasnya). Idealnya, satu infant warmer digunakan oleh satu bayi saja, namun hari ini tampaknya sedang overload pasien. 

Di dalam ruangan ini juga terdapat empat inkubator yang juga penuh terisi. Kesembilan unit ini turut dilengkapi dengan berbagi alat-alat medis penunjang seperi CPAP bubble, ventilator mekanik, pompa untuk infus dan alat fototerapi.

Ruang inilah seorang bayi yang baru lahir (neonatus*) mendapatkan perawatan intensif, ruang ini disebut Ruang NICU (Neonatus Intensive Care Unit), yang merupakan bagian dari Unit Perinatologi.

Sebelum Unit Perinatologi terbentuk, perawatan intensif untuk bayi yang baru lahir digabungkan dengan bangsal anak. Ruangan berisi bayi berusia beberapa hari hingga remaja usia 17 tahun. Sebelum tahun 2011, neonatus yang sakit dirawat bersama di Ruang Anak (usia kurang dari 18 tahun). 

Sedangkan neonatus yang sehat dirawat digabungkan dengan ibu di ruangan bersalin. Unit Perinatologi, terbentuk sejak 2011 berdiri sendiri, karena mempunyai fungsi yang berbeda dengan perawatan yang berbeda, 

(*= Selanjutnya akan digunakan istilah 'neonatus' untuk menyebut bayi yang baru lahir kurang dari 28 hari).

Unit Perinatologi merupakan unit pelayanan khusus untuk neonatus dengan penanganan yang berbeda dari bayi normal, antara lain: bayi dengan gangguan pernafasan gawat yang memerlukan alat bantu nafas, neonatus dengan infeksi, bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) dan keadaan lain yang memerlukan monitoring ketat. 

Foto: Rifan Oktavianus
Foto: Rifan Oktavianus
Selain fasilitas ruang NICU, fasilitas lain yang merupakan bagian dari Unit Perinatologi adalah: Ruang Menyusui dan ruang (perawatan) kangguru, Ruang Isolasi, dan Ruang SCN (Special Care of Nursery---Ruang dengan bayi yang membutuhkan perawatan khusus selepas dari Ruang NICU).

Tidak lama berselang, dua perawat nampak sibuk. Berbobot 1.200 gram, bayi Putri termasuk bayi dengan kondisi BBLR. Beratnya tidak sampai setengah dari berat badan bayi baru lahir (2.500-4.000 gram). 

Suster Ruth dan Riani dengan sigap menangani bayi Putri, mereka memasangan alat bantu pernapasan yang selanjutnya dilakukan tindakan sesuai prosedur yaitu memasang infus di kaki, memberikan suntik dan jika perlu memasang selang lambung untuk pemberian asi. 

Foto: Rifan Oktavianus
Foto: Rifan Oktavianus
Setelah selesai, bayi Putri dibungkus dengan cara nesting dengan mengelilingkan kain. Nesting bertujuan untuk membuat bayi terasa seperti di dalam rahim sang ibu. Kini bayi Putri dapat tidur dengan damai.

Foto: Rifan Oktavianus
Foto: Rifan Oktavianus
Pemandangan seperti ini adalah pemandangan sehari-hari pada Unit Perinatologi. Para perawat selalu menangani bayi-bayi dengan penuh cinta layaknya anak mereka sendiri. 

Tidak sedramatis apa yang kita bayangkan terjadi di Ruang UGD, tetapi di Unit Perinatologi para perawat tetap melaksanakan tugasnya dengan profesional, sesuai dengan prosedur yang benar dan pastinya dengan penuh cinta kasih.

Bayi Yohanes sudah berada di dalam inkubator selama dua minggu. Setiap jam, perawat terus memonitor kondisi jabang yang lahir dengan bobot 1.215 gram. 

Suster Mariani dari Tim Nutrisi Laktasi secara telaten memberi susu, mengganti popok, serta memberikan obat-obatan yang diperlukan. Observasi setiap jam terus dilakukan hingga tiga minggu.

Dalam situasi normal, Bayi Yohanes baru bisa pulang ke rumah ketika sudah mencapai berat 1.800 gram dan catatan kondisi lain, seperti: suhu badan stabil tanpa penghangat, sudah bernapas dengan stabil tanpa alat bantu pernapasan dan sudah bisa menghisap tanpa alat bantu selang lambung. 

Lain lagi dengan penanganan yang dilakukan jika berat bayi di bawah 1.000 gram. Bayi akan tinggal lebih lama sampai sekitar dua bulan, karena biasanya bayi mengalami komplikasi dan membutuhkan penanganan yang lebih serius. 

.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3