Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... Menebus bait

Karyawan swasta dan penulis. Menulis sejak 1989 sampai sekarang

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Sederhana yang Dirindukan

9 November 2019   13:26 Diperbarui: 9 November 2019   13:31 0 8 5 Mohon Tunggu...
Sederhana yang Dirindukan
sumber ilustrasi: pixabay

Kau terkadang merasa bodoh karena salah memilih istri. Seorang perempuan yang sangat mengerti bagaimana mengelola dapur dan meja makan. Tapi sangat tidak faham bagaimana menyenangkan suami di kasur. Apalagi urusan mengurus badan agar tak mirip ondel-ondel dan berbau masam.

Dia juga gagap bergaul. Tak bisa dikedepankan. Di kalangan istri pejabat, dia hanya sebagai pelengkap penderita. Dia seringkali dianggap orang pembantu rumah tanggamu. 

Mustahil seorang pejabat tajir lagi gagah, lagi  tampan, memiliki istri tak berkelas begitu. Sementara bukan hanya rekan bisnis, bahkan anak buahmu, rata-rata memiliki istri yang menarik dan memikat. Tak jarang kau ingin  memiliki salah seorang di antara istri mereka. Ini sangat gila!

Sekali waktu terbit pikiran nakalmu bagaimana seandainya menambah istri. Kau telah memiliki seseorang yang faham urusan dapur dan meja makan. Seseorang lagi sangat lihay urusan kasur, pun sangat bisa dikedepankan. Tapi buru-buru kau hapus pikiran nakal itu. Kau tahu betul kondisi mendiang ayahmu yang memiliki istri dua. 

Kau teramat sering mendengar keluhan ibumu karena sang ayah lebih senang dan sering bersama istri mudanya yang cantik dan sintal,  ketimbang dengan seorang istri  kendor yang sering keluar masuk bengkel, yaitu ibumu.

"Ma, bagaimana sesekali kau pergi ke salon. Ya, sekedar refreshing," katamu suatu malam ketika berada di peraduan setelah melakukannya. Melakukan dengan rasa hambar, dan kau terpaksa  sebab kewajiban suami menafkahi batin istri.

Sebenarnya kata refreshing itu hanya penghalus. Kau  ingin mengatakan istrimu tak bisa merawat badan, apalagi mau dibilang cantik. Tapi dia kepala batu. Baginya pergi ke salon tak lebih membuang-buang uang. Kalau pun ada uang kalian berlebih, bukankan lebih baik diberikan kepada orang miskin agar ada pertinggal untuk akhirat?

Kau sekali lagi tak habis pikir mengapa memiliki istri seperti dia. Imbasnya kau mulai sering menerima ajakan rekan bisnis pergi ke bar, hanya untuk melihat para maskot bermain di atas catwalk. Kendati begitu, kau selalu menolak untuk berbuat lebih jauh  kecuali sekadar minum minuman keras dan tertawa haha hihi. 

Bukan kau tak ingin. Kau sangat ingin, tapi takut akan bernasib sama seperti kawanmu yang mati muda karena virus HIV.

Pada malam ini, tetiba kau harus bersikap manis terhadap istrimu. Ayah mertua sedang bertamu. Menginap di rumahmu sehari dua. Saat kalian sedang menonton televisi usai makan, ayah mertua mengatakan kau sangat pintar memilih istri. Pintar memilih istri? Heh, bukankah karena istrimu anak kandungnya? Tentu saja itu wajar sekali.

Ayah mertua mengatakan, pertama karena istrimu sangat lihay memasak. Kalau tidak ingat usia, mungkin si tua itu akan nambah nasi tiga piring. Ya, ya. Dia memang benar. Istrimu sukses besar---dengan kelihayannya memasak---membuat perutmu membuncit. Kau terpaksa gonta-ganti celana sebab banyak yang sempit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3