Mohon tunggu...
Ridwan Abraham
Ridwan Abraham Mohon Tunggu...

Semoga seluruh umat berbahagia

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi

Dari Sapaan ‘Pak Menteri’ Hingga Kiat Jadi Gubernur DKI

14 Januari 2017   09:21 Diperbarui: 14 Januari 2017   09:27 1211 13 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dari Sapaan ‘Pak Menteri’ Hingga Kiat Jadi Gubernur DKI
Bintang.com

Tadi malam, baru saja berlangsung debat resmi pertama yang diselenggarakan KPUD DKI Jakarta. Debat dilaksanakan untuk menyambut Pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang sudah semakin dekat. Pilkada DKI kali ini melibatkan tiga Pasangan Calon, nomor urut satu yaitu Agus Harimurti – Sylviana Murni, Nomor urut dua Basuki Tjahja Purnama – Djarot Saiful Hidayat dan nomor urut tiga Anies Baswedan – Sandiaga Uno.

Ketiga Paslon menghadiri debat yang dipimpin oleh Ira Koesno selaku moderator debat. Debat terdiri dari 6 segmen, tiap-tiap segmen memuat pertanyaan seputar visi-misi, program unggulan, cara menanggulangi masalah di Jakarta, apa yang dilakukan jika nanti terpilih dan sesi tanya jawab antara paslon.

Ada beberapa momen yang perlu diperhatikan terkait kesiapan program dan cara kepemimpinan para paslon. Pertama, menurut pantauan saya pasangan nomor urut satu seringkali terlihat ‘menghapal’ visi misi dan juga program-program unggulan mereka. Ketika diajak berdiskusi dan berdialog dengan  Paslon lain pasangan nomor urut satu sering jawabannya terkesan ‘gak nyambung’.

Sedangkan pasangan nomor  urut dua tidak terlalu mengandalkan cara berbicara atau retorika, mereka lebih menunjukkan program-program apa yang telah mereka lakukan sebagai Petahana dan apa yang akan mereka lakukan jika diberikan amanah untuk melangsungkan jabatan selama dua periode. Pasangan nomor urut tiga sangat baik dalam menyusun narasi dan alur pidato. Keduanya sama-sama memiliki kapabilitas sebagai Public Speaker yang baik. Namun, pasangan nomor urut tiga menjadi kurang tajam dalam memaparkan programnya karena terlalu sibuk beretorika.

Perdebatan program yang menarik terjadi saat sesi tanya jawab antara  Paslon nomor urut satu dengan Paslon nomor urut dua. Dua pasang ini berdebat mengenai regulasi keuangan dan skema subsidi bagi rakyat Jakarta. Nomor urut satu kekeuh dengan Bantuang Langsung Tunai, operasional RT/RW, kredit usaha rakyat, penyantunan rakyat kecil dan mengeluarkan kartu Satu Jakarta.

Sedangkan Pasangan Nomor urut dua datang dengan konsep yang lebih rapih dan meyakinkan, mereka mengusung KJP (Kartu Jakarta Pintar) BPJS, dan JakartaOne Card, sebuah kartu yang berguna untuk memantau penggunaan subsidi karena Pasangan petahana tidak mau memberikan bantuan tunai karena akan memanjakan masyarakat. Subsidi yang dilakukan petahana sudah tepat sasaran dan transparan, tidak seperti program Agus – Sylvi yang sarat korupsi menyalahi regulasi keuangan.

Penyerangan sisi pribadi pun dilakukan oleh Pasangan nomor urut satu kepada pasangan nomor urut tiga. Sylvi entah secara sengaja atau tidak, menyapa Anies dengan sebutan ‘Pak Menteri’. Sontak saja riuh rendah penonton terdengar karena insiden ini. Anies walau mencoba terlihat tenang, tidak bisa menyembunyikan kekesalannya karena terlihat mukanya cemberut saat disapa demikian oleh Sylvi.

Pasangan nomor urut dua dan tiga berdebat soal pembangunan manusia dan infrastruktur di jakarta. Anies-Sandi tetap pada pendiriannya yaitu mengutamakan pembangunan manusia dan mengkritik Ahok-Djarot yang mereka anggap hanya mengutamakan pembangunan Benda Mati. Hal ini dijawab dengan cerdas oleh petahana, mereka memaparkan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) di Jakarta semakin meningkat dari tahun ke tahun dan pembangunan manusia tak akan berjalan lancar tanpa didukung oleh infrastruktur yang memadai, contoh pendidikan tak akan berjalan lancar jika sekolahnya masih belum layak pakai.

Beberapa kutipan segmen debat diatas dapat memberikan kesimpulan bahwa Petahana menguasai alur diskursus dalam debat semalam. Mulai dari kesiapan mental, kesiapan program dan kesiapan dialog ditunjukkan oleh Petahana secara gemilang. Ahok pun berkata, “Jadi Gubernur itu gak bisa cuman modal hapalan atau retorika”.

VIDEO PILIHAN