Mohon tunggu...
Muhamad Baqir Al Ridhawi
Muhamad Baqir Al Ridhawi Mohon Tunggu... Lagi belajar nulis setiap hari.

Blogku sepi sekali, kayaknya cuma jadi arsip untuk dibaca sendiri. Hohohoho. www.pesanglongan.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Foodie

Makan Apa Isi Bensin?

9 Maret 2021   21:51 Diperbarui: 9 Maret 2021   22:19 60 2 0 Mohon Tunggu...

Apa kalian pernah makan dengan grusa-grusu, atau tergesa-gesa, atau terburu-buru atau membabi-babi (kayaknya babi adalah simbol kerakusan. Kayak di film Spirited Away, bapak dan ibunya Chihiro jadi babi! Gara-gara nggeragas makan makanan milik entah siapa)?

To the poin, aku mau curhat. Aku baru bekerja. Belum sampai satu bulan. Di sini, kalau aku kerja aku dapat uang makan, yang kalau aku niat banget aku bisa membeli makanan yang enak menurutku. Itu sebetulnya yang aku bayangkan dulu waktu belum kerja. Bayanganku dulu, nanti kalau sudah kerja aku bisa makan enak dan mencoba makanan di sana-sini, dan tidak lupa memfotonya untuk dipamerkan lewat story Instagram dan WhatsApp, persis teman-temanku yang hits.

Tapi nyatanya tidak. Waktu berangkat kerja aku membawa bekal dari rumah. Apa saja yang dimasak ibuku aku bawa dalam kotak makan. Dan aku juga tidak pilah-pilih, tidak pernah request mau apa. Walau aku tahu aku bisa, dan biasanya dituruti. Pokoknya aku tidak mau ribet malahan.

Tidak tahu kenapa, tapi aku merasa, kayak itu ada jeleknya juga. Aku tahu sisi positifnya aku jadi bisa menabung. Nantinya bisa mendapatkan keenakan yang lebih, lebih enak atau lebih lama enaknya. 

Tapi tidak tahu kenapa kok waktu istirahat kerja, aku makan seperti.. bleng-bleng-bleng, pokoknya masukan makanan, biar tidak lapar dan kuat bekerja lagi. Kayak cuma ngisi bensin buat berkendara. Aku kayak tidak makan. Tapi aku ngisi perut dengan makanan. Aduh, gimana ya njelasinnya, bahasa memang terbatas ya? Atau akunya yang kurang ahli dalam merangkai kata?

Intinya makan jadi kayak tidak ada enaknya, tidak ada nikmatnya. Padahal aku tahu kalau aku makan di waktu lapar itu bisa menyebabkan segala makanan terasa nikmat. Tapi kok ini tidak?! Apa gara-gara dikerja waktu? Atau pikiran tegangku soal kerja masih kebawa? Atau.. ohya, mungkin ini. Waktu istirahatku satu jam. Dan itu sebetulnya lebih dari cukup untuk makan dan salat. Tapi itu jadi terasa tidak cukup, gara-gara aku juga ingin santai-santai main HP, menyegarkan pikiran, atau bahasa kasarnya, aku ingin balas dendam. Tadi pikiranku habis buat kerja dan sekarang aku harus puas-puasin untuk bersantai-santai. Dan akhirnya aku makan dengan cepat dan/atau sambil main HP.

Aku jadi ingat waktu ngobrol dengan temanku yang pulkam dari Jakarta, dan sekarang kerja jarak jauh dari rumah. Katanya, dia setiap hari makan ayam waktu di kantornya, di Jakarta. Saat kutanya, "apa gak bosen?" jawabannya, "gak. Tapi kan diolahnya beda-beda. Enak-enak kok masakannya. Aku sudah langganan pesan." Sudah langganan? Seolah berpikir makan apa sudah tidak ada di agendanya. Karena perhatiannya sudah habis untuk pekerjaan.

Dan sekarang kayaknya aku juga begitu.

Aku jadi mikir kalau makan enak itu penting semisal itu bisa membuatku merasakan nikmatnya hidup. Atau supaya bisa membuatku bersyukur. Atau mungkin penjelasan yang ekstrim bisa lebih menjelaskan, begini nih, makan makanan mahal itu rasanya enak nan nikmat sekali buatku. Karena itu membuatku sangat begitu merasa lagi makan. Karena enaknya. Karena uang yang keluar banyak, uang jerih payahku sendiri. Karena aku membuat pilihan dengan penuh perhitungan. Karena kenangan yang akan tercipta. Karena jarang sekali. Karena luar biasa!

Tetapi sebetulnya, apapun makanannya kita harus makan dengan betul-betul merasakan kalau kita lagi makan.

Oke. Besok kalau makan pelan-pelan saja. Santai. Kunyah makanan sampai halus. Jangan kunyah setengah-setengah sampai--jadi seret--malah butuh bantuan air untuk menelannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN