Mohon tunggu...
Ridha Setyasih
Ridha Setyasih Mohon Tunggu...

Lifelong learner

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Positif Negatif, Dua Kutubnya Film Negeri 5 Menara

14 April 2012   16:17 Diperbarui: 25 Juni 2015   06:36 0 0 0 Mohon Tunggu...

Hujan lebat yang tiba-tiba turun di tengah perjalanan dari kantor menuju bioskop di ambarukmo plaza Yogyakarta sempat membuat saya mengurungkan niat menonton film Negeri 5 menara pada hari kedua pemutarannya. Tapi saya pikir, kapan lagi saya punya waktu. Sekitar pukul 15.10 WIB saya sampai di bioskop, kemudian bergegas salat asar, dan membeli tiket. Nyaris terlambat, jam penayangan terdekat adalah jam 15.40 WIB. Mungkin, saya adalah orang terakhir yang membeli tiket untuk jadwal penayangan itu. Ini adalah kedua kalinya saya menonton film di bioskop seorang diri. Saya benar-benar dibuat terkagum-kagum dengan novel Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna karya A Fuadi, sampai tak sabar untuk menonton filmnya di hari-hari awal pemutarannya.

Sebelumnya, beberapa kali saya membaca statemen A Fuadi di berbagai media, yang mengatakan bahwa novel dan film Negeri 5 Menara adalah dua karya yang berbeda. Statemen itu seolah mengisyaratkan bahwa akan ada banyak perbedaan antara novel dan filmnya. Setelah saya menontonnya, memang akhirnya saya memutuskan untuk tidak mau membandingkan antara novel dan filmnya. Film dengan durasi kurang dari 2 jam tidak mungkin bisa memuat setiap detil cerita novelnya yang setebal 423 halaman.

Film ini diawali dengan Alif, anak Minang sekitar danau Maninjau Sumatra Barat, yang berlari bersama sahabatnya, Randai, menuju tepian danau kemudian menceburkan diri ke danau karena berhasil lulus dari Madrasah setingkat SMP. Alif dan Randai sama-sama bercita-cita melanjutkan sekolah ke SMA di Bandung kemudian berkuliah di ITB. Ketika sampai di rumah, Amak Alif meminta Alif untuk melanjutkan ke pondok pesantren. Seharian Alif mengurung diri di kamar karena tidak menyetujui keinginan orang tuanya itu. Sampai akhirnya ayah Alif mengajak Alif mengikuti transaksi jual beli kerbau. Setelah mendapatkan petuah-petuah dari ayahnya, Alif akhirnya setuju untuk melanjutkan sekolah di pondok pesantren di Jawa Timur. Di pesantren yang bernama Pondok Madani, Alif menjalin persahabatan dengan lima orang yang berasal dari berbagai daerah, yaitu Baso dari Gowa, Atang dari Bandung, Raja dari Medan, Said dari Surabaya, dan Dulmajid dari Sumenep. Mereka berenam disebut sebagai sahibul menara karena mempunyai kebiasaan berkumpul di bawah menara menjelang maghrib. Berbagai suka duka dijalani oleh sahibul menara. Berbagai kerja sama pun dilakukan. Sampi akhirnya Baso harus meninggalkan pondok Madani karena neneknya sakit, dan ini membuat Alif jadi ingin meninggalkan pondok juga untuk meneruskan cita-citanya ke SMA di Bandung. Singkat cerita, Alif dan sahabat-sahabatnya akhirnya berhasil menggapai impian-impian mereka. Sahibul Menara berhasil mengunjungi menara-menara di negara-negara yang mereka impikan dulu.

Banyak kelebihan atau nilai-nilai positif yang terkandung dalam Film Negeri 5 Menara ini, diantaranya adalah:

  • Berbakti kepada orang tua & visi hidup

Alif menunjukkan sosok yang taat kepada keinginan orang tuanya, walaupun ia harus mengorbankan cita-citanya untuk bersekolah di Bandung. Orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Amak Alif menginginkan ada bibit unggul yang masuk ke dalam pesantren, karena selama ini pesantren dianggap sebagai ‘bengkel’ untuk merenovasi akhlak dan perbuatan anak yang dimasukkan ke sana. Keinginan Amak Alif agar Alif menjadi ulama seperti Buya Hamka, agar Alif bermanfaat untuk umat merupakan ide yang sungguh mulia. Banyak di sekitar kita yang berlomba-lomba menyekolahkan anaknya di sekolah yang popular secara akademis atau fasilitas, tanpa mempertimbangkan kebermanfaatannya ke depan. Visi seorang Amak mampu menggiring penonton untuk berpikir bahwa kita membutuhkan sosok-sosok yang bisa memikirkan dan bermanfat untuk sesama, bukan sosok-sosok yang sibuk memikirkan dirinya sendiri. Keinginan Baso untuk menghafal Al Quran juga didorong keinginannya untuk mempersembahkan jubah kemuliaan untuk orangtuanya yang telah meninggal. Penonton akan diajak untuk merenungkan hal apa yang sudah diberikan pada orang tua tercinta. Adegan ini mestinya mampu mengajak penonton untuk berbakti pada orang tua.

  • Pola asuh demokratis

Walaupun Alif pada awalnya tidak setuju dengan keinginan orangtuanya untuk melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren, orang tua Alif tidak menunjukkan kesan memaksa, tetapi tetap bersikap biasa seperti tidak terjadi masalah setelah Alif lari dari rumah dan mengurung diri di kamar. Hal ini terlihat dari Amak yang membawakan makanan ke kamar Alif. Ketika menemui perbedaan pendapat, orang tua sebaiknya tidak berkata keras kepada anak agar anak tidak semakin membangkang. Dalam film ini terlihat orang tua Alif yang tetap bijak menanggapi ketidaksetujuan Alif.

  • Keikhlasan

Tampak keikhlasan Alif ketika akhirnya menuruti keinginan orang tuanya untuk melanjutkan sekolah di Pondok Madani. Ayah Alif juga terlihat ikhlas merelakan harta mereka yang berupa kerbau untuk biaya sekolah Alif. Keikhlasan juga tampak setelah Alif membatalkan rencana menjawab asal tes masuk pondok Madani. Para ustad yang menurut Kyai Rais tidak dibayar pun mampu membuat kita membandingkan dengan banyak kalangan pegawai dewasa ini yang masih suka menuntut gaji yang lebih tinggi. Segala sesuatu kalau ikhlas dilakukan InsyaAllah akan menjadikan jalan yang ditempuh serasa ringan, bebas dari beban. Bayangkan kalau semua anak didik di Indonesia tidak ikhlas bersekolah, apa yang akan mereka dapat di sekolah? Di film ini, keikhlasan tergambarkan dengan cukup baik.

  • Motivasi

vAyah Alif memotivasi Alif melalui transaksi jual beli kerbau. Proses tawar-menawar kerbau dilakukan di dalam sarung, dengan kode-kode tertentu. Ayah Alif memberikan pemahaman kepada Alif agar kita harus berani mencoba rasanya dulu sebelum tahu baik atau buruknya sesuatu, jadi Alif dianjurkan untuk tidak cepat menilai.

vKyai Rais dalam pidatonya mengatakan bahwa para santri akan dididik menjadi orang besar, tetapi bukan orang besar seperti pengusaha besar, menteri, ketua partai, ketua DPR/MPR, atau ketua ormas Islam. Orang besar yang dimaksud Kyai Rais adalah menjadi orang yang akan menyebarkan ilmunya sampai ke pelosok negeri. Beberapa kali juga ditampilkan tulisan “Ke Madani, Apa Yang Kau Cari”, sehingga tulisan ini seolah mengingatkan para santri untuk terus meluruskan niat selama belajar di pondok pesantren.

vPada hari pertama masuk kelas, Ustad Salman membawa batang kayu dan pedang yang sudah berkarat. Di depan kelas ustad Salman terus berusaha menebas batang kayu itu dengan pedang tadi. Setelah ditebas terus-menerus, akhirnya batang kayunya dapat terbelah juga. Kemudian Ustad Salman berseru “Man Jadda Wajada, ingat, bukan yang paling tajam, siapa yang bersungguh-sungguh, dia yang akan berhasil, Man Jadda Wajada!!!”, akhirnya pepatah alias mantra berbahasa arab ini terus-menerus didengungkan oleh para santri. Mantra ini mampu menyihir keadaan yang pesimis menjadi optimis. Siapa sangka pedang tumpul berkarat mampu menebas batang kayu yang kuat? Man Jadda Wajada, Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil, sebuah mantra ajaib yang senantiasa menyemangati setiap usaha. Metode yang dipakai oleh ustad Salman itu patut dicontoh oleh para pendidik. Kita membutuhkan ilustrasi yang tepat untuk dapat memotivasi anak didik agar tujuannya tecapai. Saya rasa, adegan membelah kayu itu merupakan hal luar biasa, akan susah dilupakan.

  • Persahabatan

Ada pesahabatan yang kokoh diantara Alif, Baso, Raja, Atang, Said, dan Dulmajid, yang dijuluki Sahibul Menara. Kekokohannya tergambarkan dalam awal pesahabatan mereka di pondok Madani sampai bertahun- tehun kemudian setelah mereka melalang buana ke negeri-negeri impian mereka. Biasanya, seiring berjalannya waktu, jalinan persahabatan dengan teman-teman sekolah semakin mengendor tergerus persahabatan baru yang terjalin, tetapi di film ini digambarkan kebalikannya, ini menunjukkan ikatan silaturahmi yang dengan kuatnya tetap terjaga. Dalam persahabatan itu mereka juga saling menguatkan, terlihat ketika Alif mulai patah semangat, ingin meninggalkan pondok Madani dan meneruskan SMA di Bandung. Setelah dikucilkan karena impiannya ini, ada temannya yang menguatkan Alif untuk tetap meneruskan pendidikannya di pondok Madani.

  • Kerja sama

Di hari pertama, tampak sahibul menara saling bekerja sama mangangkat lemari yang baru di beli. Kerja sama lainnya juga terlihat ketika sahibul menara membantu memperbaiki diesel yang sering macet. Hal lain terlihat pula ketika Alif, Said, Atang, Raja, dan Dulmajid saling bekerja sama membantu latihan lomba pidato bahasa Ingrisnya Baso dengan membuat orang-orangan memakai kayu dan sarung. Pun ketika Baso mengalami ‘kemacetan’ ketika lomba, para sahibul menara langsung membantunya dengan menghadirkan orang-orangan itu ke ruang lomba sehingga Baso pun akhirnya meraih juara. Ketika sahibul menara berkeinginan menonton final piala Thomas, mereka mengajak ustad Salman untuk membujuk Ustad Thorik menyetujui usul itu. Dengan kerja sama melalui strategi bermain bulu tangkis bersama sambil mengobrol tentang pentingnya menyaksikan pertandingan final piala Thomas di televisi, akhirnya keinginan itu bisa terwujud. Kerja sama yang sangat bagus juga ditunjukkan dalam persiapan dan pelaksanaan pentas teater Ibnu Batutah. Dengan semangat sahibul menara mesti jauh-jauh menuju perkotaan Ponorogo untuk membeli es. Di adegan film digambarkan akhirnya sahibul menara kembali ke pondok Madani dengan mengendarai beberapa becak, dengan becak terakhir berisi para tukang becak. Pementasan Ibnu Babtutah sendiri akhirnya berjalan dengan memuaskan.

Kerjasama mutlak diperlukan karena setiap orang tidak mungkin bisa hidup sendiri. Kerja sama yang baik ditunjukkan dalam film ini melalui pembagian tugas.

  • Tanggung jawab

Adegan tentang tangung jawab terlihat dalam adegan Alif yang mengerjakan soal tes masuk pondok Madani menggunakan pena warisan kakeknya, setelah melihat dukungan ayahnya dari luar jendela. Alif merevisi jawaban asalnya menjadi jawaban yang benar karena Alif merasa bertanggung jawab kepada pilihannya akhirnya, yaitu belajar di pondok pesantren. Kyai Rais juga meminta sahibul menara untuk bertanggung jawab memikirkan solusi dari keluhan masalah diesel yang disampaikan sahibul menara. Manusia yang baik adalah manusia yang bisa bertanggung jawab terhadap segala hal yang berasal dari dirinya. Di film ini tergambarkan tanggung jawab terhadap pilihan dan tanggung jawab terhadap perbuatan.

  • Disiplin terhadap waktu

Ketika lonceng sudah dibunyikan, tanda bahwa para santri sudah harus ke masjid untuk salat maghrib, sahibul menara masih berurusan dengan angkut-mengangkut lemari, sehingga akhirnya mereka dihukum oleh penjaga ketertiban dengan hukuman jewer satu sama lain. Visualisasi ini mengajarkan pada kita bahwa kalau kita tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik, kerugian akan didapat.

  • Berani bermimpi

Kebiasaan sahibul menara memandang awan di bawah menara sambil menyatakan impian-impiannya pergi menuju berbagai negara merupakan hal yang patut diacungi jempol. Banyak generasi muda kita yang bermimpi saja takut. Padahal, mimpi yang berani kita utarakan akan mendorong kita melakukan langkah-langkah untuk mencapainya. Dan Tuhan adalah maha mendengar dan maha menjadikan. Terbukti di akhir film, mimpi-mimpi sahibul menara terwujud semua. Karena itu, kita diajari untuk tidak meremehkan mimpi.

  • Kerja keras

Kerja keras Alif terlihat ketika di tengah malam Alif masih mengerjakan laporan berita untuk diberikan kepada Kak Fahmi sebagai syarat bergabung dalam majalah Syams, padahal teman-teman sekamarnya sudah tidur semua. Alif juga berjuang untuk memenangkan taruhan dari temannya untuk mendapatkan foto Sarah. Piala didapatkan Baso setelah dia berlatih keras dalam lomba pidato bahasa Inggris. Apa yang kita inginkan menuntut kerja keras kita untuk meraihnya. Jarang ada sesuatu yang instan yang bisa kita raih, semuanya membutuhkan usaha, dan film ini menggambarkannya dengan baik.

  • Kreativitas

Adegan lucu Baso yang hampir terlambat menuju masjid dan terpaksa memakai selimut yang sedang dijemur sebagai sarung merupakan sisi kreativitas yang coba dihadirkan di film ini. Terkadang kita dituntut cepat untuk menyelesaikan masalah. Berpikir out of the box sering menjadi jawaban atas banyak masalah.

  • Sikap jujur

Kyai Rais menolak mentah-mentah suap-an seorang tentara yang menginginkan anak pimpinannya diloloskan untuk masuk ke pondok Madani, pasca ketidaklulusannya. Sikap Kyai Rais ini memberikan keteladanan sosok pemimpin yang jujur, yang mana negeri kita sekarang benar-benar haus akan sosok seperti ini.

  • Menetapkan prioritas

Baso akhirnya harus meninggalkan sekolahnya karena neneknya sakit keras. Segala bujukan teman-temannya untuk tetap tinggal di pesantren ditolaknya secara halus. Ia mengatakan bahwa yang datang menjemputnya jauh-jauh adalah tetangganya. Jika tetangganya saja sudah berkorban sejauh itu untuk neneknya, maka memang Baso sebaiknya meninggalkan pondok Madani. Hal yang hampir sama juga terjadi pada ustad Salman yang akhirnya harus meninggalkan pondok Madani untuk berumah tangga. Dukungan untuk pergi dari pesantren didapatkannya dari Kyai Rais. Hidup itu diwarnai dengan pilihan-pilihan. Maka menetapkan hati dengan melihat baik-buruknya merupakan hal utama yang harus dilakukan dalam menetapkan prioritas. Kita sebagai manusia berakal dituntut pintar dalam hal yang satu ini.

  • Sistem pendidikan modern pesantren

Dalam film ini tergambar dengan jelas bahwa pesantren itu tidak selalu identik dengan ngaji. Tetapi di pesantren pun kegiatan-kegiatan yang merupakan penyaluran hobi juga digiatkan. Taruhlah kegiatan olah raga, kesenian, ataupun jurnalistik. Semua keinginan santri terwadahi. Bahkan di film ini diperlihatkan sosok Kyai Rais, yang notabene adalah pimpinan pondok pesantren, jago memainkan gitar.

Kurang rasanya kalau saya banyak membicarakan tentang nilai-nilai positif atau kelebihan film Negeri 5 Menara tetapi tidak membicarakan kekurangannya. Ok, menurut saya, kekurangan film ini diantaranya:

  • Akting dari seorang adik Alif terlihat sangat kaku, sehingga kurang terlalu enak untuk dilihat.
  • Baso terlihat lebih mendominasi dalam cerita dibanding tokoh utamanya, Alif.
  • Kurang tergambarkan kerja keras dan perjuangan para santri di pondok Madani dalam belajar. Memang ada satu adegan dimana Alif megerjakan tugas sampai malam, tapi untuk kegiatan belajar menjelang ujian misalnya, tidak tergambarkan di film.
  • Adegan ustad Salman ketika melihat Alif masih mengerjakan tugas sampai malam kemudian mengatakan “Going the extra miles” tidak segera dilanjutkan dengan tahapan penjelasan bahwa going the extra miles berarti berusaha di atas rata-rata orang kebanyakan. Padahal menurut saya, kalimat ini penting, dan belum tentu semua orang yang menonton film ini memahami arti kalimat yang disampaikan ustad Salman itu.
  • Akhir dari cerita ini terlalu tiba-tiba. Tidak diceritakan walau itu berupa tulisan-tulisan singkat & cepat mengenai perjalanan kehidupan sahibul menara. Tahu-tahu, Alif, Raja. Dan Atang sudah ada di Trafalgar Square London dan menghubungi anggota sahibul menara lainnya.

Secara umum, film ini bagus, banyak nilai-nilai positif yang bisa kita ambil setelah menontonnya. Apalagi banyak adegan yang dikemas agar menimbulkan tawa penonton, sangat menghibur. Saya berharap bisa melanjutkan dengan menonton Ranah 3 Warna, semoga novelnya di filmkan juga.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x