Mohon tunggu...
Ridha Afzal
Ridha Afzal Mohon Tunggu... Perawat - Occupational Health Nurse

If I can't change the world, I'll change the way I see it

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Utang Menjulang, Rakyat Ditimang dengan Tunjangan dan Bantuan

2 September 2020   20:23 Diperbarui: 2 September 2020   20:22 169
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Untuk lihat Elephant Garden (Taman Gajah) di India tamu asing hanya bayar Rp 2 ribu perak. Di kita untuk masuk Jatim Park saja, harus merogoh kocek Rp 100 ribu. Kalau makmur dan tidak punya beban hutang, kita tidak mungkin bayar ke fasilitas milik rakyat.

Inilah keindahan dan kemewahan semu yang kita bangun. Semua kita bangun indah, tetapi lewat utang. Anda boleh punya argumentasi beda, terkait hutang untuk tujuan pembangunan ini. Tetapi jangan ditolah kenyataan, hanya karena atas nama pembangunan, ternyata kita sangat menderita.

Didikan Hidup Sederhana

Pak Mingan, seorang petani di Trenggalek Selatan. Saya pernah berkunjung ke rumahnya. Kalau duit katanya, dia tidak punya, tetapi kekurangan makan, tidak pernah. Itu jauh lebih baik dari pada hidup penuh fasilitas, rumah mewah, mobil, motor dan aneka sarana hidup lainnya, namun hutang tidak kunjung padam.

Dari sejak sekolah dasar, kita sudah diajari cara berinvestasi (Baca: Hutang). Utang secara besar-besaran diseminarkan. Bank-bank membuka jendelanya lebar-lebar, menyebarkan sales executive nya ke kantor-kantor dengan alasan memberikan pinjaman lunak.

Sesudah pinjaman diberikan, giliran pasukan dari bank ini bergerilya setiap bulan menagih. Kalau terlambat, jika perlu menggunakan Debt Collector yang bertato. Sehingga orang takut kalau tidak bayat utang tepat waktu.

Hutang, manis di depan, seram di belakang. Tapi yang seram-seram ini tidak diajarkan, tidak pernah ditunjukkan, saat sekolah dalam mata ajar ekonomi. Kecuali dalam mata ajar Agama yang tidak populer, karena kalah santer iklannya dengan iklan utang. Yang diceritakan yang enak-enak saja, bagaimana orang bisa sukses karena hutangnya.

Giliran Rakyat yang Sengsara

Kini giliran rakyat yang harus menanggung derita. Semua sumber daya alam dikeruk oleh investor asing, karena kita tidak punya SDM yang mampu mengelola. Kita juga tidak punya dana. Sementara perjanjian sudah dibuat. 

Orang asing masuk sesuai perjanjian untuk mengola sumber daya kita: emas, batubara, minyak, kayu, karet, kekayaan laut dan lain-lain, diambil, diolah, kemudian kita disuruh membelinya.

Rakyat tidak berdaya ketika pekerja asing masuk, karena sudah menjadi bagian dari perjanjian saat kita utang. Kejadian ini bukan impian.

Zimbabwe, negara Afrika yang terjerat utang ke China harus menelan pil pahit karena gagal membayar utang sebesar $ 40 juta, hingga izinkan mata uang mereka jadi Yen (Kompas, 22/3/2018).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun