Mohon tunggu...
Ridha Afzal
Ridha Afzal Mohon Tunggu... Nurse

#IndonesianCaretakingTraveler

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Ramalan Jenis Pekerjaan Paling Diminati Tahun 2020 Meleset

16 Juli 2020   19:47 Diperbarui: 16 Juli 2020   19:48 54 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ramalan Jenis Pekerjaan Paling Diminati Tahun 2020 Meleset
Foto: Thinkstock

Pada awal Januari 2020 lalu, berlomba-lomba para 'peramal', mencoba mengidentifikasi potensi bisnis yang terjadi pada tahun 2020 ini. Di antaranya tentang jenis dan tempat pekerjaan yang paling diminati. Ada versi Dreambegins, ada yang dari Cermati.com, carajadikaya.com, urbanhire.com, moneykompas.com, cbcnindonesia.com dan lain-lain.

Selama Covid-19 ini, menurut Liputan6, perusahaan dan jenis pekerjaan yang banyak dicari adalah: makanan dan minuman, market place/E-Commerce, Kesehatan, Media dan hiburan, Jasa Pengiriman, Perbankan/finance/fintech, Fashion, Pertambangan, Perekrutan dan Pengajar.  

Kumparan.com menyebutkan, pekerjaan selama Corona yang banyak dicari: pramuniaga, operator system, akuntan public, keperawatan, pekerja konstruksi, manajer gudang, psikolog, mekanik kendaraan, penasehat akademis, dan kurir.

Jika melihat kilas balik ramalan awal tahun 2020, terdapat berbedaan mendasar antara apa yang terjadi saat ini dengan ramalan di awal 2020 lalu.

Meleset

'Ramalan' Fiki Ariyanti yang dimuat di Cermati.com. Ariyanti (2020) menyebutkan dalam artikelnya '9 Pekerjaan Paling Menjanjikan di Tahun 2020. Segera Siapkan CV Terbaik Kamu!', menyebutkan beberapa pekerjaan ini yang paling menjanjikan tahun ini adalah: Digital Marketing, Guru, Data Analis, Programmer CS, Desainer Produk, Arsitek dan Insinyur, Dokter dan Personal Trainer, Akuntan dan Ahli Keuangan serta Pekerja Industri. Semuanya meleset kecuali Data Analis dan Digital Marketing dan Dokter.

Sementara jenis pekerjaan yang disebut menjanjikan oleh Money Kompas: Software Developer, Sales Rep., Manajer Proyek, Admin, Customer Service Specialist, Digital Marketer, IT Support, Analis Data, Analis Keuangan, dan Desain Grafis.

Demikian pula yang dimuat oleh CNBC Indonesia: Digital Marketing, Manajemen Proyek, Data analis, basic IT Support, Data Driven Decision Making, Web/App Design dan Development, Cyber security, Management Risiko dan Perlindungan Data Pribadi, Artificial Intelligence/Machine Learning, serta Robotic Process Automation.

Terdapat berbedaan perkiraan (ramalan pekerjaan) pada tahun ini karena Pandemi Covid-19 ini. Intinya, ramalan mereka 60% meleset. Tidak lain kareba dampak Corona terhadap bisnis di berbagai bidang ini ternyata luar biasa. Semuanya kena dampaknya kecuali makanan, minuman dan kesehatan. 

Kalau diringkas, hanya sector kesehatan yang 'survive' pada tingkatan tertentu. Tidak semua sektor kesehatan. Karena dalam bidang perekrutan ke luar negeri di sektor yang sama, juga terhenti, alias macet.

Sementara di sektor makanan dan minuman, meskipun tidak seluruhnya. Warung, restaurant, penjual makana di jalan, mall dan makanan siap saji, bahkan distributor makanan, sempat 'semaput' juga bisnis mereka jatuh bangkrut. Bisnis konstruksi juga terhambat. Bahkan IT pun, yang melibatkan tatap muka, terkena dampaknya rekrutmennya.  

Jika ditarik benang merah, yang membuat melesetnya ramalan ini karena semua jenis pekerjaan yang membutuhkan 'tatap muka langsung' atau 'berhubungan dengan manusia yang melibatkan kontak fisik' turun drastis jumlahnya. Bahkan terhenti sama sekali selama beberapa bulan terakhir.  

Masa Depan Entrepreneur

Perubahan jenis pekerjaan selama Corona ini menjadi pelajaran baik bagi kita semua. Ada hikmah dalam setiap kejadia. Ini mengakibatkan terjadinya perubahan business mindset di semua lini profesi negeri ini yang sungguh massive.

Dalam tahap awal, sangat terasa. Saat duduk di bangku kuliah, saya amati, selalu ada mahasiswa di usia muda yang menggeluti business. Terlepas dari besar kecil ukuran bisnisnya, kegiatan semacam ini layak mendapatkan apresiasi. Bahwa ide memang tetap berkembang betapapun manusia hidup dalam kukungan. This is not about money!

Dunia pendidikan keperawatan misalnya, tergolong terlambat menjemput fenomena ini. Beberapa tahun belakangan saja muncul mata kuliah Entrepreneurship. Itupun, masih bisa dihitung dengan jari, kampus yang mengajarkan  materi kuliah ini. Terlebih, diberikan bukan oleh ahlinya. 

Padahal, Entrepreneurship bukan sekedar berbisnis menjual produk dan dapat untung. It is about idea, expertise dan selling skills. Entrepreneur ini perlu mengedepankan Ide, Kepakaran dan Kemampuan Menjual.

Ide perlu diajarkan sejak dini di kampus, lantaran tidak seharusnya ada pembatasan terhadap ide perkembangan profesi. Selama ini, konsep pendidikan kita masih berorientasi pada hapalan. Bukan kreativitas.

Ide-ide Entrepreneurship bisa maju dan dikembangkan. Di Indonesia bisa maju dan berkembang dengan mendirikan jalan mendirikan Laboratoriumnya sendiri. Dengan adanya laboratorium Entrepreneur ini (Entrepreneur Laboratory) yang terpusat misalnya, kita bisa maju tanpa harus ngirim mahasiswa ke luar negeri yang harus mengeluarkan biaya besar. Kita bisa kembangkan sendiri melalui ide-ide bisnis ini.

Expertise atau kepakaran atau keahlian. Yang satu ini kita masih belum punya banyak. Dikatakan expert, manakala sudah menjadi seorang ahli, pakar. Setingkat S3. Kita masih 'miskin' pakar, expert entrepreneurship. Doktor Entrepreneur jumlahnya masih bisa dihitung. Kehadiran doktor ini diharapkan mampu mempertajam fokus bisnis.

Sementara Selling Skills (Kemampuan Menjual) tidak kalah pentingnya. Di era modern ini kita dituntut beda. Persaingan ada di mana-mana. Akreditasi dan sertifikasi tidak bisa dibendung. Kemampuan komunikasi nyaris jadi kebutuhan setiap orang. Bisa dimaklumi, karena tanpa kemampuan ini dalam menjual, bisa dipastikan produk yang dipasarkan oleh professional tidak bakal terbeli.

Kita semua dituntut memiliki kemampuan yang satu ini: Selling Skills. Selling skills adalah mutlak dan mestinya wajib diberikan. Tanpa Selling Skills yang bagus, kita tidak mampu mentransfer visi misi hanya dalam bentuk kemasan 'verbal advertisement' atau iklan verbal. 

Kemampuan menjual yang dibungkus dalam sampul good communication skills bakal mendongkrak reputasi profesi. Jangan lupa, selling skills ini harus diperkuat dengan kemampuan merajut jaringan atau Networking.

Tiga rumusan di atas adalah langkah konkrit dalam penataan Entrepreneurship di era New Normal Life. Namun, Entrepreneur yang fokusnya ke mana?

Entrepreneur Masa Depan

Profesi apapun tidak bisa menolak perkembangan zaman dan tuntutan global anggotanya. Jika tidak diajarkan di bangku kuliah, anggota profesi apapun akan mengalami kesulitan dalam mencari peluang kerja. Di pihak lain tuntutan dalam berbisnis tidak bisa dihambat. Mernjalarnya tuntutan kebebasan ini tidak mungkin terbendung. Ini fitrah manusia.

Kita mungkin bisa membuat aturan bahwa ada batasan bisnis dalam berprofesi. Kita juga bisa bikin aturan njlimet dengan syarat ketat untuk mendefinisikan makna professional handal. Namun kita harus sadari, bahwa ide individual tidak bisa dikekang.

Tantangan besar selama wabah Corona menjadi pelajaran sangat berharga bagi kita untuk menyadari betapa penting makna entrepreneurship. Cepat atau lambat, masyarakat Indonesia akan beda gerakannya dalam berbisnis. Pergerakan yang tidak mungkin dikendalikan oleh regulasi yang sempit.


Masalahnya, fokus entrepreneur mana yang menjanjikan pekerjaan kita agar aman? Melihat jenis pekerjaan yang diurai di atas, terlepas dari ada tidaknya Corona, yang paling menjanjikan dan selalu menjadi kebutuhan di masa depan adalah industry atau pekerjaan yang ada hubungan dengan: makanan, minuman, kesehatan, konstruksi bangunan, finance, jasa kurir serta teknologi informasi (IT). 

Delapan lapangan kerja ini tidak pernah meleset dan selalu dibutuhkan.

Malang, 16 Juli 2020
Ridha Afzal

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x