Mohon tunggu...
Ridha Afzal
Ridha Afzal Mohon Tunggu... Nurse

#IndonesianCaretakingTraveler

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Bidan Indonesia, Profesi di Persimpangan Jalan

11 Juli 2020   06:54 Diperbarui: 12 Juli 2020   09:01 1192 21 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bidan Indonesia, Profesi di Persimpangan Jalan
Perawat membuat pelindung wajah atau ''Face Shield (KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)

Awal tahun 1980, program Pendidikan Bidan di Indonesia "berakhir". Pemerintah mendirikan pendidikan baru, yang merupakan gabungan dari pendidikan keperawatan klinis Rumah Sakit, Kebidanan dan Masyarakat, yang dikenal dengan nama Sekolah Perawat Kesehatan (SPK). 

Sejak berdirinya SPK ini, seluruh program pendidikan keperawatan seperti Sekolah Pengatur Rawat (SPR) A dan B tutup, termasuk Pendidikan Bidan digabung, mereka gabung jadi satu.

Maksud Pemerintah bagus, yaitu efektivitas dan efisiensi pendidikan keperawatan. Kurikulumya cukup menantang, programnya padat, mata kuliah untuk pendidikan yang selevel SMA ini mencapai hampir 50 buah. Praktik lapangan program SPK luar biasa dinamis dan boleh disebut, kelemahannya, tidak fokus. 

Rumah Sakit masuk, masyarakat ikut, kebidanan juga masuk. Praktik di rumah sakit dimulai pada bulan ketiga pendidikan. Demikian pula praktik di masyarakat. Praktik yang mengarah ke jurusan kebidanan dimulai pada bulan ke enam. Untuk bisa lulus SPK, target menolong persalinan harus 10 minimal untuk cowok dan 20 untuk cewek waktu itu.

Era SPK ini merupakan era integras pendidikan keperawatan yang menurut kami sebagai awal permulaan yang cukup bagus sebagai masa awal berkembangnya pendidikan keperawatan Indonesia. Nampaknya, program ini menuai pro dan kontra. SPK berakhir sesudah berjalan sekitar 20 tahun lamanya. SPK dihapus kemudian dig anti dengan Diploma III yang pendidikan dasarnya SMA. Pamor SPK pun meredup.

Dari sini, entah trigger nya dari mana. mungkin karena hasil pendidikan SPK yang praktik di bangsal kebidanan dirasa kurang 'pas', dibanding lulusan pendidikan Bidan, kemudian muncul Program Diploma I Kebidanan.

Dari sinilah awal terjadiya 'konflik'. Dari sini kemudian lahir Program Pendidikan Diploma III Kebidanan, Program Diploma IV, hingga Sarjana dan Pasca Sarjana Kebidanan. Dari sinilah kemudian muncul berbagai pendapat simpang siur tentang masa depan Program Pendidikan Keperawata dan Kebidanan di Indonesia.

Ratusan kampus kebidanan yang ada di Indonesia. Ibaratnya, di mana ada program keperawatan, di situ ada program kebidanan. Kami tidak tahu apakah ini bagian dari visi misi pendidikan atau ajang bisnis.

Ini bukannya tanpa masalah. Berdirinya program pendidikan bidan memang berdampak positif dengan adanya Program Bidan Desa misalnya. Kita tahu jumlah desa yang ada di Indonesia sebanyak 83.931.

Bila rata-rata per tahun lulusan pendidikan bidan mencapai katakan 25.000 dari sekitar 500 lebih lembaga pendidikan kebidanan yang ada, berarti dalam waktu 3-5 tahun, akan tercapai. Selebihya akan ke mana para lulusan bidan ini?

Sementara, jumlah kebutuhan tenaga Bidan di rumah sakit tidak lebih dari 10% dari kebutuhan tenaga perawatnya. Dalam kondisi emergensi, perawat bisa melakukan tindakan kebidanan. Namun bidan tidak memiliki kompetensi keperawatan secara umum. 

Walaupun 'bisa' secara individual, namun bidan tidak disebut memiliki kewenangan secara professional di bidang keperawatan. Karena itu wajar, jika di manapun di rumah sakit, klinik, balai kesehatan, ketika ada pasien baru, yang mereka cari atau tanyakan adalah perawat. "Mana perawatnya?" Bukan "Mana bidan nya?"

Source: Mom.com
Source: Mom.com

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x