Mohon tunggu...
Ribut Achwandi
Ribut Achwandi Mohon Tunggu... Penulis - Penyiar radio dan TV, Pendiri Yayasan Omah Sinau Sogan, Penulis dan Editor lepas

Penyuka hal-hal baru yang seru biar ada kesempatan untuk selalu belajar.

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Memberi "Panggung" untuk Pendengar Setia

7 Oktober 2021   01:04 Diperbarui: 7 Oktober 2021   01:12 305
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber foto: dokumen pribadi | Opixhitamarang

Yang jelas, saya sangat bergembira dengan kehadiran mereka yang tak disangka-sangka itu. Sebagai ungkapan rasa kegembiraan itu, malam itu juga (Senin, 4/10) kami memberikan tempat bagi pasangan suami-istri ini untuk ikut bersiaran. Ikut merasakan bagaimana bersiaran di radio.

Mula-mula mereka menolak dengan alasan malu dan takut salah. Tetapi, kami meyakinkan bahwa mereka tidak perlu mencemaskan apapun. Jadilah siaran kami ditemani sepasang suami-istri yang datang dari Comal, Pemalang itu.

Di ruang siaran kami bercas-cis-cus. Saling berbagi cerita dan pengalaman satu sama lain. Kata pasangan suami-istri ini, mereka merasa senang bisa ikut siaran. Tidak pernah terbayangkan, bagaimana rasanya bersiaran di radio. Dan ini adalah kesempatan langka buat mereka.

Tentu, mereka sangat senang dengan sambutan yang kami berikan. Bahkan, dalam obrolan mereka, saya sempat menangkap pernyataan sang istri, jika peristiwa ini akan menjadi peristiwa yang akan mereka kenang selama-lamanya. Sekali seumur hidup, mereka baru merasakan bagaimana bersiaran di radio.

Tak terasa, jam siaran pun tuntas tepat pukul 24.00. Kami pun segera undur diri dari ruang siaran. Begitu pula dengan pasangan suami-istri, Mas Watno dan Mbak Halimah.

Selepas bersiaran, mereka mohon izin pamit pulang. Sebelum pamit, mereka meminta izin berfoto bareng. Permintaan itu pun kami terima. Malah dengan senang hari. Setidaknya, sebagai oleh-oleh dan kenangan untuk mereka.

Begitu selesai sesi foto-foto, mereka segera pulang. Tetapi, karena khawatir tidak cukup mengenal jalan, saya dan Opix menawari mereka untuk mengantar sampai di POM Bensin dekat Stasiun Pekalongan. Mereka pun tak keberatan.

Berkaca dari pengalaman ini, ada hal yang sangat bermakna bagi saya. Ternyata, membuat orang lain bahagia itu mudah dan bisa membuat kita bahagia. Cukup dengan memberi mereka kesempatan untuk muncul ke permukaan. Istilah lainnya, memberi mereka panggung.

Ya, memberi panggung untuk orang lain sebenarnya hal yang tak sulit. Bahkan, itu menjadi perihal yang sangat menyenangkan. Sangat berbeda ketika saya berburu panggung. Bisa sangat melelahkan dan kadang bikin stress.

Obsesi pada panggung kadang membuat saya cenderung mudah tersinggung. Hanya karena saya merasa tidak dipanggungkan. Merasa tidak mendapatkan kesempatan untuk tampil. Merasa tidak mendapatkan apresiasi.

Yang lebih melelahkan lagi, ketika saya berusaha sekuat tenaga membikin panggung untuk diri sendiri. Rasa-rasanya seperti orang yang kehilangan kewarasan nalar. Bagaimana tidak, panggung dibikin sendiri, dinaiki sendiri, lalu berharap mendapat apresiasi dan kadang ingin disebut sebagai hero alias pahlawan. Oh!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun