Mohon tunggu...
Ribut Achwandi
Ribut Achwandi Mohon Tunggu... Penulis - Peracik Kata

Peracik kata, Mentor gadungan, Penjaga toko Ibu, Penyiar radio/tv, kadang jadi penjaja ilmu di kampus-kampus.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Catatan Perjalanan Seorang Pastor Italia ke Jawa di Era Majapahit

13 September 2021   02:44 Diperbarui: 13 September 2021   02:52 339 10 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Catatan Perjalanan Seorang Pastor Italia ke Jawa di Era Majapahit
Sisa-sisa peninggalan Majapahit (sumber foto: legaleraIndonesia.com)

"Apa guna belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan orang-orang Eropa, kalau akhirnya toh harus merangkak, beringsut seperti keong dan menyembah seorang raja kecil yang barang kali buta huruf pula!" ungkapan itu dinyatakan seorang sastrawan kenamaan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Satir dan telak! Pernyataan itu seperti tamparan bagi kaum terpelajar yang sezaman dengannya. Entah kalau sekarang.

Tapi, memang ada benarnya juga sih! Nyatanya, ada banyak kaum terpelajar Eropa yang diam-diam terkagum-kagum dengan bangsa kita. Seperti tokoh Eropa yang satu ini nih. Namanya, Odorico Mattiuzzi (1286-1331). Siapa sih Odorico Mattiuzzi? Penasaran kan?

Nih ceritanya.... Dulu, di Eropa sana, tepatnya di Italia, Odorico Mattiuzzi atau yang dikenal Odorico da Pordenone dikenal sebagai seorang biarawan dari Ordo Santo Francis. Sebagai Pastor, tentu ia tergolong terpelajar. Buktinya, ia banyak menulis buku, terutama di bidang religi dan kesusastraan.

Singkat cerita, pada suatu hari, biarawan asal Asisi ini dipanggil keuskupan Vatikan. Paus Yohanes XII memberinya tugas untuk mengunjungi Rusia selatan, India, dan China. Tugas segera dilaksanakan. Mulailah ia mendayung kapalnya dari Venesia. Berlayar menuju tiga kawasan itu.

Sepanjang perjalanan mengarungi samudra itu, ia memang kudu berlabuh di beberapa pelabuhan besar. Ya, buat melemaskan saraf-saraf yang teganglah. Cari anginlah. Ngisi bensin juga kali ya.... Yang jelas, dia mampir di pelabuhan di Konstatinopel, Teluk Persia, Mumbai, Malabar, Srilangka, Madras, dan tentu singgah pula di pulau-pulau di Indonesia. Ia sempat mampir di Sumatra, Jawa, juga Kalimantan.

Nah, ketika berlabuh di Jawa, rupanya sang biarawan sempat kesengsem pada Jawa. Ia terkagum-kagum pada kehidupan orang-orang Jawa. Makanya, ia memutuskan untuk tinggal di Jawa untuk beberapa lama. Tentu, instingnya sebagai kaum terpelajar terasah di sini. Rasa ingin tahunya semakin menjadi-jadi. Ia berusaha keras mengamati dan melakukan riset kecil untuk mengenali Jawa. Mulai dari keadaan alamnya, kehidupan masyarakatnya, ekonominya, budaya, juga politiknya.

Malah, ia juga sempat datang dan dipersilakan memasuki istana Raja Jawa kala itu. Disambut baik dan mendapatkan jamuan istimewa dari sang Raja. Di dalam istana itu, ia merasa terkagum-kagum. Tidak hanya karena kemegahan istana Raja, melainkan pula kewibawaan sang Raja.

Sayang, kunjungannya itu tak bisa diperpanjang. Ia masih mengemban misi dari keuskupan Vatikan untuk menyambangi China. Di sana, ia mesti menemui Montecorvino, uskup agung di Beijing. Ia pun akhirnya melanjutkan perjalanan menuju China. Di sana, ia tinggal selama 3 tahun (1324-1327). Lantas, kembali melanjutkan perjalanan pulang ke Italia melalui jalur darat. Melintasi pegunungan Tibet, Badachschan, Tabriz, Armenia, dan kembali ke negerinya pada bulan Mei 1330.

Setahun setelah menjalani masa istirahat dari penjelajahan panjang itu, ia tiba-tiba saja sangat ingin menemui Paus Yohanes XXII. Ia teringat pada kisah yang mengagumkan tentang Jawa. Ia merasa sangat perlu disampaikan kisah itu pada sang Paus. Tapi sayang, Paus Yohanes XII sedang dinas di Avigon, sebuah kota di selatan Perancis.

Tekadnya yang besar itu membuatnya memaksakan diri menyusul sang Paus. Ia menempuh perjalanan dari Italia menuju Avigon. Tapi, ketika sampai di Pisa, ia jatuh sakit. Tak sanggup melanjutkan perjalanan. Ia pun memutuskan kembali ke Friuli. Sayang, kondisi tubuhnya makin lemah. Sakitnya pun makin parah. Ia memutuskan beristirahan di Padua sejenak.

Di Padua, tepatnya di biara St. Antonius, ia menemui teman sejawatnya, William de Solona. Kepada kawannya itu ia meminta untuk mencatat kisah-kisahnya. Salah satunya, kisah mengagumkan dari Jawa. Dicatatnya demikian:

"Saya pergi ke sebuah pulau lain bernama Jawa yang memiliki garis keliling pantai sepanjang 3.000 mil dan raja Jawa memiliki tujuh raja lain di bawah kekuasaan utamanya. Pulau ini dianggap sebagai salah satu pulau terbesar di dunia dan sepenuhnya dihuni; berlimpahan cengkih, kemukus dan bual pala serta segala macam rempah lain juga banyak jenis makanan lain dalam jumlah besar, kecuali anggur. Raja Jawa memiliki sebuah istana besar dan mewah paling menakjubkan yang pernah saya lihat, dengan tangga lebar dan megah ke arah ruangan di bagian atas, semua anak tangga secara bergantian terbuat dari emas dan perak. Seluruh dinding bagian dalam dilapisi oleh lapisan emas dan perak. Seluruh dinding bagian dalam dilapisi oleh lapisan emas tempa, di mana gambar-gambar ksatria diukirkan pada lapisan emas tersebut. Setiap ksatria berhiaskan sebuah mahkota emas kecil yang dihias dengan beragam batu mulia. Atap istana ini terbuat dari emas murni dan seluruh ruangan di bawah dilapisi berselingan oleh lempeng-lempeng berbentuk kotak yang terbuat dari emas dan perak. Khan yang agung, atau Kaisar China, sering mengadakan peperangan dengan Raja Jawa, tetapi serangannya selalu berhasil dipatahkan dan dipukul mundur."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan