Mohon tunggu...
Ribut Achwandi
Ribut Achwandi Mohon Tunggu... Penulis - Peracik Kata

Peracik kata, Mentor gadungan, Penjaga toko Ibu, Penyiar radio/tv, kadang jadi penjaja ilmu di kampus-kampus.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Museum Sekolah

8 September 2021   02:50 Diperbarui: 8 September 2021   03:01 86 4 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Museum Sekolah
Sekolah Kartini Pekalongan (Koleksi Depo Arsip Pekalongan)

Ngomongin sejarah, nggak melulu soal politik dan perang. Tetapi, ada juga sejarah pendidikan. Ini yang kadang dilupakan. Seperti yang selama ini kerap didengung-dengungkan di setiap diskusi sejarah di Pekalongan, khususnya kota Pekalongan. 

Tidak jarang, sejarah yang diungkap masih menyoroti soal politik dan perang di masa penjajahan. Sementara, sejarah pendidikan sepertinya terabaikan. Malah, cenderung pembahasan sejarah terpatok pada sosok yang ditokohkan.

Kali ini, saya pengin ngajak Anda  ngobrolin sejarah yang berbeda. Yaitu, sejarah pendidikan di kota Pekalongan. Saya adalah alumni SMP 6 Pekalongan. Saat saya masih duduk di bangku SMP 6 Pekalongan, sempat saya dapat cerita dari Ibu. 

Katanya, sekolah itu merupakan sekolah tertua di Pekalongan. Dulu, adalah Sekolah Kartini. Lalu, berjalannya waktu, berubah jadi Sekolah Kepandaian Putri. Terus di akhir episodenya jadi SMP 6 Pekalongan.

Sayang, periode-periode pergantian itu tidak diingat oleh Ibu saya. Maklum, beliau cuma seorang Ibu biasa. Nggak sempat mengingat peristiwa-peristiwa penting semacam itu.

Tetapi, lebih tragisnya, selama saya bolak-balik berangkat sekolah di sana, selama 3 tahun, saya kok belum dapat cerita apa-apa soal sejarah SMP 6 Pekalongan. Cuma sekilas. Saya juga nggak sempat memperhatikan dengan cermat apa makna prasasti yang tertempel pada sudut dinding di sekolah saya kala itu.

Baru saya tahu, kalau prasasti itu menandai peristiwa peletakan batu pertama pembangunan gedung sekolah yang dilakukan Raden Ayo Hadining Ario Soerjo (istri Bupati Pekalongan era 1924-1944, R.M.T. Ario Soerjo). Di prasasti itu tertulis tanggal 22 Mei 1931. Wah, kalau gitu, bangunan gedung sekolah saya itu tua banget dan bersejarah.

Kenapa bersejarah? Karena didirikan pada masa Kolonial Hindia-Belanda. Karena didirikan sebagai Sekolah Kartini yang merupakan kelanjutan dari semangat menyebarkan pemikiran Kartini. Waktu itu, Sekolah Kartini didirikan awalnya oleh Deventer melalui Yayasan Kartini. Yayasan ini didirikan di Belanda pada tahun 1912, karena merasa tergugah oleh pemikiran Kartini.

Wah, kalau menceritakan bagian ini bisa panjang dah kayaknya. Tetapi singkatnya, pemikiran Kartini yang kemudian menyebarluas di Belanda sana, sempat membuat Ratu Belanda kala itu merasa berempati. Lalu, memerintahkan agar Deventer dan Abadenon merumuskan pendidikan perempuan Jawa sebagai kelanjutan dari pelaksanaan politik etis Belanda.

Nah, semangat menyebarkan pemikiran Kartini ini pun terasa pula sampai ke kota Pekalongan. Buktinya, ada Yayasan Kartini di Pekalongan yang diprakarsai R.A. Hadining Ario Soerjo. Sampai-sampai yayasan ini konon punya aset yang bejibun. Berupa lahan tanah di kawasan Keputran. Sayang, sampai saat ini aset itu tak terlacak lagi.

Parahnya lagi, gedung Sekolah Kartini sudah berubah. Yang masih asli cuma sedikit. Paling kentara ya yang sekarang jadi ruang guru/TU dan Kepala Sekolah. Nggak tahu deh apakah peralatan di masa sekolah ini didirikan kali pertama masih ada apa nggak. Cuma hemat saya, mengingat umur sekolah dan sejarahnya yang luar biasa ini, saya kira perlulah dibikin semacam ruang khusus untuk museum pendidikan di sekolah ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan