Mohon tunggu...
riap windhu
riap windhu Mohon Tunggu... Sales - Perempuan yang suka membaca dan menulis

Menulis untuk kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Setahun bersama Pandemi, Banyak Kisah Tercipta

2 Maret 2021   23:24 Diperbarui: 3 Maret 2021   12:56 239
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Setahun pandemi, spanduk masih terpasang. (dok.windhu)

Setahun yang lalu, tepat di tanggal yang sama 2 Maret, termangu menatap layar televsi. Positif sudah Indonesia terkena COVID-19. Presiden RI Joko Widodo sendiri yang mengumumkannya. Dua warga Depok  Jawa Barat terkena. 

Apa itu? Virus apa? Virus yang berasal dari kelelawar? Bikin sesak napas? Menyerang paru-paru? Bisa menyebabkan kematian? Dari Cina? 

Banyak pertanyaan menyerbu pikiran. Sejak itu, semua tak lagi sama. Setiap hari melalui layar televisi dikabarkan kondisi dan jumlah penderita COVID-19 yang selalu bertambah. Bahkan hingga kini, setelah setahun. 

Orang tak lagi bebas kemana-mana. COVID-19 menyebar ke -34 provinsi di Indonesia. Semua seakan mencekam. 

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai diberlakukan di Jakarta, mulai 10 April 2020. Spanduk-spanduk imbauan untuk pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan dipasang di pintu-pintu gerbang perumahan. 

Posko covid berupa tenda hijau dibangun di depan pasar. Siapapun yang tidak menggunakan masker akan kena sanksi. Denda uang atau disuruh menyapu halaman pasar yang luas. 

Petugas keamanan pasar bersama beberapa tentara menggunakan toa berteriak-teriak menyuruh semua pengunjung dann pedagang pasar menggunakan masker. 

Segera, yang menggunakan masker seadanya. Dilepas atau diletakkan di dagu, segera menaikkannya. Gawat, kalau sampai ketahuan! 

Setelah itu, pasar perlahan sepi! "Pasar sepi banget. Toko-toko tutup cepat. Yang jualan makanan sore nggak ada. Baru sekarang, sepinya pasar melebihi saat lebaran, "kata Ayuk penjual jamu langganan. 

Selain menjajakan jamu gendong di perumahan, ayuk juga menjualnya di pasar. Tiba-tiba penggemar jamu bertambah. Empon-empon menjadi idola banyak orang. 

Kebiasaan baru pun dimulai. Tak ada lagi jabat tangan atau cipika cipiki. Ngobrol jarak dekat pun takut. Ada yang bersin, langsung menghindar. Awas, kena Covid! 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun