Riap Windhu
Riap Windhu Sales

senang membaca dan menulis, cinta bersepeda, suka pada tema lingkungan. Menggemari dunia pemberdayaan masyarakat. Saat ini aktif di sebuah perusahaan asuransi jiwa. Dapat dihubungi di 081287749530. Email: rwindhu@gmail.com. Instagram : riapwindhu dan twitter @riapwindhu. Bisa juga di www.rindhuhati.com

Selanjutnya

Tutup

Mikro Pilihan

Pencatatan Keuangan Usaha Mikro, Lamikro, dan Naik Kelas

22 Mei 2018   21:33 Diperbarui: 22 Mei 2018   21:52 753 1 1
Pencatatan Keuangan Usaha Mikro, Lamikro, dan Naik Kelas
Aplikasi Lamikro (kepanjangan dari Laporan Akuntansi Usaha Mikro) yang diluncurkan Kementerian Koperasi dan UMKM yang bekerja sama dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) ditujukan untuk mempermudah pencatatan keuangan pengusaha mikro (dok.windhu)

Hingga saat ini, para pelaku usaha mikro atau wirausaha pemula masih banyak yang masih berkutat dengan metode tradisional pencatatan keuangan manual. Semuanya  dilakukan dengan serba tunai, baik catatan uang masuk dan uang keluar. Mereka sudah seharusnya naik kelas.

Nala Jati, salah seorang pengusaha mikro berlabel Qayuqu mengatakan, para pelaku usaha mikro menghadapi dilema dan bisa disebut dengan istilah 4 L, yang merupakan kependekan dari Lo Lagi, Lo Lagi.

Alasannya adalah sebagai pelaku usaha mikro, tak jarang seorang Direktur, Wakil Direktur, dan bagian keuangan sekaligus. Terkadang, ketika ada pemesanan barang yang harus diantar, masih harus turun juga ikut mengantarkan pesanan.

Tak hanya itu, bila mengikuti suatu sosialisasi atau seminar, bingung menentukan uang yang dikeluarkan harus diambil dari uang pribadi ataupun dari hasil usaha. Bon-bon yang didapat dari setiap transaksi hanya  diletakkan jadi satu di sebuah kotak sepatu.

Lelaki bertubuh besar ini menginginkan sebuah sistem pencacatan yang rapi. Semua itu seakan bersambut dengan adanya hadirnya sebuah pencatatan keuangan berbasis aplikasi.

Bagian depan aplikasi Lamikro yang memenuhi standar akuntansi keuangan (dok.windhu)
Bagian depan aplikasi Lamikro yang memenuhi standar akuntansi keuangan (dok.windhu)
Sebenarnya, aplikasi Lamikro (kepanjangan dari Laporan Akuntansi Usaha Mikro) yang diluncurkan Kementerian Koperasi dan UMKM yang bekerja sama dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sudah diluncurkan sejak Oktober tahun 2017.

Hingga telah berjalan selama 8 bulan, kegiatan sosialisasi yang ditargetkan menjangkau sejuta  pengusaha mikro masih terus dilakukan. Salah satunya dalam kegiatan bertema Aplikasi Laporan Keuangan Sederhana bagi Usaha Mikro, yang dilakukan 9 Mei 2018, di Gedung Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta.

Nala, yang juga memiliki usaha di bidang kuliner mengakui awalnya merasa skeptis dengan Lamikro. Apalagi, berupa aplikasi gratisan yang dapat diunduh secara gratis melalui Playstore oleh para pelaku usaha mikro.

Semula Nala Jati khawatir aplikasi Lamikro cuma seadanya dan tetap harus disibukkan dengan pencatatan sendiri. Ternyata tidak demikian dan bisa menarik napas lega karena ternyata semua catatan pemasukan dan pengeluaran bisa terdata dengan baik.

Selain itu, sebagai pelaku usaha mikro bisa lebih terbuka kepada karyawan mengenai perkembangan usaha yang dijalani. Hal ini meningkatkan rasa percaya dan menumbuhkan kesetiaan para karyawan.

Nala Jati, pelaku usaha mikro mengatakan, mindset para pelaku usaha mikro harus terbuka untuk mempelajari pencatatan keuangan yang memenuhi standar akuntansi (dok.windhu)
Nala Jati, pelaku usaha mikro mengatakan, mindset para pelaku usaha mikro harus terbuka untuk mempelajari pencatatan keuangan yang memenuhi standar akuntansi (dok.windhu)
Semua Harus Tercatat

Pencatatan keuangan yang baik merupakan jantung sebuah usaha yang dilakukan. Intinya, uang yang masuk ataupun keluar berapapun jumlahnya harus dicatat dengan baik.

Namun, pencatatan arus kas masuk dan arus kas keluar yang kebanyakan bersifat tunai bagi para pelaku usaha mikro tidak bisa hanya di dalam lembaran kertas atau buku. Kenapa? "Kalau di buku, nantinya bisa ketelisut dan hilang jika dicorat-coret anak," kata Tia Dityasih dari  Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

Menurut Anang Rachman, Kepala Bidang Lembaga Kewirausahaan Deputi SDM Kemenkop UKM, masih banyak para pelaku usaha mikro belum bisa memetakan dengan tepat kebutuhan usahanya bila  berhadapan dengan mitra usaha.

Misalnya, saat ditanyakan membutuhkan kredit berapa? Seorang pelaku usaha  mengatakan cukup bila diberikan Rp 50 juta, begitupun juga bila ditanyakan nilai Rp.100 juta pun akan bilang cukup.

Suasana sosialisasi apikasi Lamikro di gedung Dekop dan KUKM. (dok.windhu)
Suasana sosialisasi apikasi Lamikro di gedung Dekop dan KUKM. (dok.windhu)
Tanpa adanya pencatatan keuangan sesuai standar, para pelaku usaha ataupun wirausaha pemula seringkali berbenturan dan  tidak memenuhi persyaratan yang diberikan oleh lembaga-lembaga keuangan resmi. Banyak pelaku usaha mikro yang tidak bankable.

 Tia Dityasih dari  Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) mengatakan, apikasi Lamikro benar-benar ditujukan untuk usaha mikro yang masih  banyak bersifat transaksi tunai.

Pencatatan keuangan yang rapi selain menjadi lebih bankable, dapat memetakan keuangan usahanya, juga bisa membuat pelaku usaha mikro menjadi lebih percaya diri, menurut  Anang Rachman (Kepala Bidang Lembaga Kewirausahaan Deputi SDM Kemenkop UKM)

Meskipun tidak berpendidikan seorang akuntan, seorang pengeharus bisa naik kelas. Harus ada laporan yang standar akuntani keuangan. Memperlajarinya bukan sesuatu yang menakutkan ataupun mahal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2