Riap Windhu
Riap Windhu Sales

senang membaca dan menulis, cinta bersepeda, suka pada tema lingkungan. Menggemari dunia pemberdayaan masyarakat. Saat ini aktif di sebuah perusahaan asuransi jiwa. Dapat dihubungi di 081287749530. Email: rwindhu@gmail.com. Instagram : riapwindhu dan twitter @riapwindhu. Bisa juga di www.rindhuhati.com

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Bulog, Bisnis Komersial dan Produk KITA yang Siap Bersaing

17 Mei 2018   12:05 Diperbarui: 17 Mei 2018   12:35 340 0 0
Bulog, Bisnis Komersial dan Produk KITA yang Siap Bersaing
Ragam Produk Bulog dengan label KITA, merupakan bagian dari bisnis komersial Bulog, sekaligus untuk menjaga pasokan bahan kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau (dok.windhu)

SUNGGUH. Bila mau jujur, baru pertama kalinya saya melihat langsung beberapa produk bermerk KITA dijajarkan sekaligus, mulai dari Tepung Terigu, Gula pasir, Beras, hingga minyak goreng. Di label depan kemasan terdapat tulisan BUMN, Hadir Untuk Negeri.  Produk Bulog?

Ya. Menyebut kata Bulog, lembaga berbentuk perusahaan umum milik negara yang bergerak di bidang logistik pangan, pikiran awal akan langsung terarah pada beras. Bahan makanan pokok utama orang Indonesia, yang ketersediaannya harus selalu ada dalam keseharian. Menjadi sumber karbohidrat bila sudah dimasak berupa nasi, yang  wajib hidang di atas meja makan. 

Jadi tak heran ketika melihat beragam produk keluaran Perum Bulog, seketika timbul pertanyaan,"Bulog saat ini jualan?"  Terlebih menjelang datangnya bulan ramadhan dan hari raya Idul Fitri, yang umumnya ditandai dengan kenaikan harga-harga sembako.

Mungkin saja, saat ini bukan cuma saya yang belum tahu seluruhnya produk-produk Bulog. Maka saat  Febby, pegawai yang bertugas di Divisi Penjualan Langsung Bulog mengajukan pertanyaan, "Siapa yang sebelumnya sudah tahu minyak goreng KITA?"

Sejumlah peserta yang hadir sebagai peserta ngopiwriting bersama Bulog bergumam belum tahu, dalam kegiatan yang berlangsung di Kanawa Coffee Jalan Suryo No.23, Rawa Barat, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis 3 Mei 2018.

Disertai dengan menyeruput  es kopi dingin yang terasa manis, perbincangan terasa hangat dan cair.  Sebagian peserta lain mengaku sudah tahu karena memang ada kerabat, kawan, atau bahkan bersentuhan langsung dengan RPK.Tapi tunggu dulu. Sebenarnya, saya bukan tidak tahu. Lebih tepatnya tidak terlalu ngeh jika produk bermerk KITA yang bertuliskan BUMN dikeluarkan Bulog.

Gula pasir kemasan 1 kg Manis Kita dari Bulog (dok.windhu)
Gula pasir kemasan 1 kg Manis Kita dari Bulog (dok.windhu)

Seingat  saya, pernah membeli gula pasir Manis Kita meski mulanya memang tak diniatkan membeli merk itu.  Saat digunakan, butiran-butiran pasir gula Manis Kita,  terasa manis untuk diseduh dengan teh maupun kopi. Bahkan juga dicampur untuk tambahan penganan lain dalam memasak hidangan.

Bisa dibilang, rasa manis gula Manis KITA produksi Bulog, tak ada bedanya dengan gula pasir yang dikeluarkan produsen lain. Bahkan, warna butiran gulanya pun bersih dan tidak kotor. 

Namun tetap saja, kenapa Bulog jualan? Lalu, seperti apa rasa produk KITA produksi Bulog yang lain,  yakni tepung terigu Kita, beras Kita, Minyak Goreng Kita, bahkan Daging Kita? Bisakah bersaing dengan kebutuhan pokok sejenis yang dikeluarkan produsen ternama, yang produknya sudah dikenal lebih dulu di masyarakat?

Bulog Era Komersialisasi

Penjualan komoditi produk KITA yang dilakukan Bulog, terkait dengan posisi Bulog saat ini yang harus mampu menghidupi dirinya sendiri melalui bidang usaha komersial. Melalui kegiatan bisnis. Selain tentunya tetap mempunyai kewajiban pelayanan publik atau Public Service Obligation (PSO).

Hal ini seiring dengan perkembangan Perum Bulog sejak tahun 1967 hingga saat ini. Tahun 2003, Bulog berubah status dari LPND menjadi Perusahaan Umum (Perum). Pada tahun 2015,  peran dan tugas Bulog ditambah menjadi pengelolaan 3 komoditi, yakni  padi, jagung, dan kedelai. Pada tahun 2016, Perum Bulog mendapat tambahan peran dengan tugas mengelola 12 komoditas pokok.

Direktur Komersial Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh, mengatakan, selainmengemban tugas PSO, Bulog juga menjalankan bisnis komersial. (dok.windhu)
Direktur Komersial Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh, mengatakan, selainmengemban tugas PSO, Bulog juga menjalankan bisnis komersial. (dok.windhu)

"Bulog saat ini  tidak lagi hanya PSO saja, tapi sudah harus mencari omset untuk berjuang menghidupi diri sendiri," kata Direktur Komersial Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh.

Sebagai perusahaan yang tetap mengemban tugas publik dari pemerintah, Bulog tetap melakukan kegiatan menjaga Harga Dasar Pembelian untuk gabah, stabilisasi harga khususnya harga pokok, menyalurkan beras untuk orang miskin (Raskin) dan pengelolaan stok pangan.

Dalam peraturan Presiden (Perpres) No. 48 Tahun 2016 tentang penugasan kepada Perum Bulog dalam rangka ketahanan pangan nasional, tertera sebagai berikut :

1. Kewajiban PSO, yakni melaksanakan penugasan stabilisasi harga beberapa komoditas melalui:

a. Menjaga stabilitas harga tingkat produsen

b. Menjaga stabilitas harga tingkat konsumen

c. Menjaga stok pada jumlah tertentu untuk melakukan intervensi

pasar pada saat dibutuhkan oleh pasar (darurat, stablisasi harga

dll)

Febby, dari Divisi Penjualan Langsung Bulog memegang produk Minyak Goreng KITA yang bagus untuk menggoreng (dok.kompasiana)
Febby, dari Divisi Penjualan Langsung Bulog memegang produk Minyak Goreng KITA yang bagus untuk menggoreng (dok.kompasiana)

2. Tugas Komersial, yang terdiri atas :

a. Perdagangan Komoditi, yakni melakukan perdagangan komoditi pangan strategis seperti Kedelai, Jagung, Gula, Bawang Merah, Cabai Merah, Daging, Minyak Goreng, dll

b. Unit Bisnis

Unit Bisnis (UB) yang dimiliki BULOG berupa unit struktural otonom, yaitu UB Jastasma (menyelenggarakan kegiatan usaha jasa survey kualitas, jasa system penyimpanan dan jasa pemberantasan hama, UB Opaset (kegiatan usaha peningkatan dan optimalisasi asset melalui bangunan, gudang, lahan kosong), UB Retail (menyelenggarakan kegiatan usaha Perdagangan komoditi pangan dan produk turunannya melalui mekanisme pengembangan jaringan distribusi penjualan dalam bentuk RPK dan sejenisnya, UB Industri (menyelenggarakan kegiatan usaha yang meliputi produksi, Perdagangan dan jasa).

c. Anak Perusahaan

Anak Perusahaan (Anper) dengan kegiatan Bisnis yang bergerak pada industri logistik yaitu PT. Jasa Prima Logistik BULOG (PT. JPLB). Melakukan usaha dibidang Freight forwarding, Warehousing dan Project Shipment, Jasa logistik dan angkutan baik di dalam maupun di luar wilayah Indonesia untuk mendapatkan keuntungan guna meningkatkan nilai perseroan dengan tetap menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.

 Tugas PSO dan Komersial Bulog ini, meliputi 3 pilar ketahanan pangan, sesuai dengan UU No. 18/2012 tentang Pangan, Ketahanan Pangan. Tiga pilar dalam ketahanan pangan, meliputi  ketersediaan (availability), keterjangkauan (accessibility) baik secara fisik maupun ekonomi, dan stabilitas (stability) yang harus tersedia dan terjangkau setiap saat dan setiap tempat, sehingga masyarakat atau rumah tangga mampu memenuhi ketahanan pangannya masing-masing.

Produk Bulog dengan nama KITA, salah satunya didistribusikan melaui Rumah Pangan Kita (RPK). Saat ini sudah berjumlah sebanyak 39.000 RPK. (dok.windu)
Produk Bulog dengan nama KITA, salah satunya didistribusikan melaui Rumah Pangan Kita (RPK). Saat ini sudah berjumlah sebanyak 39.000 RPK. (dok.windu)

Produk Komoditas KITA

Perdagangan komoditi Bulog dengan nama KITA, berada dalam kendali Divisi Penjualan Distributor dan Divisi Penjualan Langsung. Sebelum mencapai konsumen rumah tangga, jaringan penjualan langsung dilakukan melalui Hotel Restoran dan Kafe (horeka), pasar rakyat, baitul mal, dan Rumah Pangan Kita.

Bulog memang melaksanakan strategi saluran pelaksanaan stabilisasi harga melalui distributor besar dan/atau mitra, sinergi BUMN, RPK/pedagang pengecer, dan satgas Bulog.

Nah mengenai jaringan distribusi Rumah Pangan Kita (RPK), ternyata masyarakat umum pun  bisa memilikinya. Bulog membina langsung RPK sebagai outlet ritel milik masyarakat. Jumlahnya kini sudah mencapai 39.000 RPK.

Harga komoditas yang tersedia  di Rumah Pangan Kita (RPK) lebih terjangkau oleh masyarakat, bila  dibandingkan harga pasar untuk produk sejenis. Produk merk KITA, mulai dari minyak goreng Kita, Beras Kita, gula Manis Kita, Tepung Terigu Kita, dan Daging Kita dijual dengan harga bisa terbeli, namun memenuhi kelayakan edar dengan kualitas pangan yang terjamin.

Selain itu, lokasi RPK biasanya sangat strategis dan dekat dengan masyarakat. RPK memberikan keuntungan bagi penjual dan pembeli dari segi harga dan kelayakan pangan. Masyarakat bisa terlibat sebagai RPK dengan modal hanya dengan Rp.5 juta saja. Hanya cukup menyediakan tempat secukupnya, bahkan seluas garasi pun bisa.  

Salah satu RPK yang bisa dikunjungi adalah yang berada di wilayah Jl. Jendral Gatot Subroto, Jakarta. Disana, di depan gedung biasanya terpampang harga-harga komoditas yang diperdagangkan berikut harganya.  Harga Penjualan maksimal setinggi-tingginya, HET sesuai wilayah masing-masing daerah.

Merk produk KITA , kata Direktur Komersial BULOG Tri Wahyudi Saleh saat ini sudah diterima dengan baik di pasaran. (dok.kompasiana)
Merk produk KITA , kata Direktur Komersial BULOG Tri Wahyudi Saleh saat ini sudah diterima dengan baik di pasaran. (dok.kompasiana)

Siap Bersaing di Pasaran

Direktur Komersial Bulog Tri Wahyudi Saleh mengatakan, merk produk KITA saat ini sudah diterima dengan baik di pasaran. Kualitasnya yang bagus bisa menggoyang pasar dan menjadi pilihan pembeli.

Berdasarkan testimoni-testimoni yang sudah disampaikan oleh para konsumen produk KITA, menurut Tri, umumnya mengaku puas. Pengusaha roti merasa senang dengan kualitas tepung terigu yang sangat baik digunakan untuk adonan, sehingga bisa membuat hasil kue dan roti bagus.

Begitupun halnya dengan salah seorang pengusaha makanan yang mencoba minyak goreng produk KITA. Saat dicoba  untuk menggoreng, hasil gorengan mampu mengembang baik. Tidak berbau tengik, dan minyak goreng bisa digunakan untuk  menggoreng lebih dari sekali. Bahkan bisa sampai lima kali.   

Untuk produk beras premium, saat ini sudah tersedia di retail Transmart sehingga memudahkan masyarakat untuk bisa membeli. Nah, jelang ramadhan yang jatuh pada pertengahan bulan Mei, Bulog juga sudah menyiapkan paket-paket ramadhan yang bisa dijadikan sebagai hantaran. Semua produk komoditas KITA digarisbawahi Bulog, merupakan produk dalam negeri.

Selama ini menurut divisi penjualan langsung Bulog, penjualan komoditas produk KITA  melalui RPK  biasanya sangat diminati oleh masyarakat dan habis terjual. Sebagai produk kebutuhan sehari-hari, memang pastilah mau tidak mau akan digunakan.

Terlebih menjelang ramadhan yang umumnya disertai kebutuhan meningkat atas produk sembako. Produk KITA bisa menjadi pilihan masyarakat bila dengan harganya yang terjangkau, menjanjikan kualitas yang baik saat digunakan.

Namun perlu diingat. Buat masyarakat umum, terutama ibu-ibu kebanyakan yang biasa berurusan dengan semua produk sembako, suatu merek sebenarnya tidaklah menjadi soal. Harga yang murah, produk yang mudah didapat, serta sehat dan layak konsumsi akan menjadi pertimbangan untuk pilihan. Tinggal bagaimana Bulog benar-benar mampu menjamin itu semua di masyarakat,  sesuai dengan semboyannya yang Mudah, Murah, dan Sehat.