Irma Sabriany
Irma Sabriany lainnya

Berani, mengagumkan, kekanak-kanakan, suka jalan-jalan, mandiri punya gaya ngomong yang sopan, lucu, cuek

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Perjalanan Menginjakkan Kaki di Puncak Tertinggi Sulawesi

25 Juli 2018   04:42 Diperbarui: 25 Juli 2018   08:39 1408 7 3
Perjalanan Menginjakkan Kaki di Puncak Tertinggi Sulawesi
Pos 1 (dok. pribadi)

Jika beberapa orang patah hati membuat makian di media sosialnya, terus ada juga yang menyileti lengannya bahkan ada yang hingga bunuh diri, bagiku patah hati justru menuntunku untuk melakukan pendakian di salah satu puncak tertinggi di Pulau Sulawesi yakni Rantemario. 

Aku ingin membuktikan kepadanya bahwa tanpa dia aku bisa menjadi manusia luar biasa. Pegunungan Latimojong terbentang dari utara ke selatan yakni dari Kabupaten Sidrap hingga Kabupaten Toraja dengan puncak tertingginya yakni Rantemario dengan ketinggian 3478 MDPL.

Adalah Kak Rimba Rizal yang mengajakku untuk melakukan pendakian ke Rantemario. Rencana tersebut dia sampaikan ke diriku sebelum Idulfitri. Kala itu aku menjawab insya allah aku ikut. Selama melakukan pendakian, baru kali ini pula aku meminta izin kepada orang tua. Ketika aku mengutarakan izin, ibuku menjawab pergilah sekalian refreshing.

Minggu, 17 Juni 2018 aku meninggalkan Makassar menuju Kota Parepare. Tujuanku adalah bertemu kak Ancha dan rombongan di kampus UMPAR Pare-Pare. Senin 18 Juni 2018, pukul 03.00 WITA kami meninggalkan Parepare menuju Baraka, Kabupaten Enrekang. Di Baraka juga kami akan bertemu dengan Kak Rimba. Dari Baraka perjalanan di lanjutkan menuju desa Karangan. 

Desa Karangan merupakan desa terakhir sebelum melakukan pendakian ke Rantemario, selain via Desa Karangan pendakian ke Rantemario dapat dilakukan via desa Bone-Bone. Di desa Karangan, pendaki harus registrasi. Terdapat aturan untuk masuk ke kawasan Gunung Latimojong seperti wajib menyerahkan kartu identitas atau membayar uang jaminan sebesar Rp. 200.000,-/kelompok (uang kembali bila sampah di bawa turun). 

Dengan entry point desa Karangan, hari itu Selasa 19 Juni 2018 pukul 09.00 WITA Aku bersama Kak Rimba, Kak Ancha, Fathur, Habibi, Asdar dan Anjas. meninggalkan Desa Baraka. 

Seharusnya tim kami berjumlah sepuluh orang tiga orang lainnya yakni Zar, Gilang dan Depo menyusul. Takdir akhirnya mempertemukan kami semua di pos 2. Target hari ini adalah pos V. Melewati jalan setapak kemudian menyusuri kebun-kebun kopi penduduk dengan medan terjal berbukit-bukit hingga pos 1. Teriknya matahari tidak menyurutkan langkah kakiku hingga pada pukul 10.18 WITA aku dan rombongan tiba pos 1 yang terletak di atas hamparan bukit yang indah.

Pukul 10.24 WITA perjalanan dilanjutkan menuju pos 2. Pada awalnya track dengan tanjakan lalu turunan. Sebelah kiri jurang, ketika itu aku mendengar suara aliran sungai. Tanah yang becek, sempit, banyak akar pohon yang melintang merupakan tantangan yang harus dihadapi. 

Sebelum mencapai pos 2 aku terpeleset. Pukul 11.50 WITA aku tiba di pos 2, kami beristirahat dan menunaikan sholat duhur. Di pos 2 ini terdapat air terjun.

Pos 2 (dok. pribadi)
Pos 2 (dok. pribadi)
Setelah beristirahat siang, pukul 13.05 WITA perjalanan dilanjutkan menuju pos 3. Kata kak Rimba disinilah puncaknya, tanjakan dengan kemiringan sekitar 75-80 derajat. 

Di beberapa titik dipasangkan tali dan rotan untuk memudahkan pendaki. Pukul 13.57 WITA sampai juga di pos 3 dengan tanah datar. Nah di pos 3 ini tidak ada sumber air tetapi terdapat sinyal HP. Hal ini diperkuat oleh Kak Ancha yang sempat menghubungi istrinya.

Pukul 14.10 WITA kami meninggalkan pos 3 menuju pos 4. Pukul 15.05 WITA kami tiba di pos 4. Aku meminta waktu sekitar 10-20 menit untuk beristrahat. Tubuh ini mulai lelah. Pukul 15.25 aku meninggalkan pos 4 menuju pos 5. 

Tubuh mulai capek, kebiasaanku mulai muncul yakni jalan beberapa langkah terus berhenti mengambil nafas belum lagi bertanya terus ke Kak Rimba kapan sampainya. Kak Rimba dengan sabarnya menyemangatiku sedikit lagi di depan ada track dengan turunan dan kau pasti suka, tetapi kenyataannya malah semakin menanjak. 

Pukul 17.05 WITA akhirnya tiba juga di pos V, yang mengejutkan di pos V sudah banyak tenda yang berdiri hingga kami susah mencari tempat untuk mendirikan tenda. Di pos V ini terdapat sumber mata air. 

Aku bertanya ke beberapa orang, ternyata banyak pendaki yang berasal dari pulau Jawa, tepatnya mereka mengikuti open trip. Setelah mendapatkan tempat maka kami berbagi tugas yakni ada yang mendirikan tenda dan beberapa orang lainnya mulai menyeduh air serta memasak untuk makan malam.

Rabu 20 Juni 2018, pukul 08.58 WITA setelah sarapan pagi dan berdoa, kami bergerak menuju puncak. Sekitar 20 menit perjalanan, Kak Ancha dan Fathur meminta izin untuk kembali ke pos V. Alasannya Fathur sesak nafas.

Rinai hujan menemani perjalananku menuju pos 6 dengan track tanjakan seakan yang tiada henti. Tiba di pos 6, aku meminta istirahat sebentar. Kata Kak Rimba jalanmu pelan-pelan saja yang penting terus berjalan daripada buru-buru tetapi banyak berhenti. 

Setelah menikmati energy bar aku melanjutkan perjalanan menuju pos 7. Dari pos 6, aku seakan masuk hutan yang kemudian berupa hutan lumut. Lama kelamaan hutan lumut menghilang dan masih tetap gerimis menemani perjalananku. Pohon cantigi mulai mendominasi pandangan mata di kanan kiri jalur.

Hutan lumut (dok. prubadi)
Hutan lumut (dok. prubadi)
Istirahat pos di pos 7 sambil menikmati the panas. Pos 7 ini seperti perkemahan di lembah kecil. Terdapat sumber air yang tidak jauh yakni berupa aliran sungai kecil. Setelah menikmati the panas perjalanan dilanjutkan menuju pos 8 yakni pos telaga. Meninggalkan pos 7 kembali tanjakan terjal menanti, setelah itu areal terbuka dengan rumput-rumput mirip dengan savana lalu melewati telaga-telaga kecil. 

Di pinggir telaga ada pertigaan yakni dengan jalur menuju rantemario dan puncak nenemori. Di pandu oleh kak Rimba, aku mengambil arah ke kiri. Dari telaga jalur telah landai, tanjakan tidak terjal lagi dan aku mulai mendengar suara-suara keributan yang artinya puncak telah dekat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2