Irma Sabriany
Irma Sabriany lainnya

Berani, mengagumkan, kekanak-kanakan, suka jalan-jalan, mandiri punya gaya ngomong yang sopan, lucu, cuek

Selanjutnya

Tutup

Travel-story Artikel Utama

2 Hari di Ho Chi Minh City

14 April 2018   05:13 Diperbarui: 16 April 2018   22:00 1936 3 1
2 Hari di Ho Chi Minh City
dokpri

Jumat, 9 Februari 2018 kami  (aku dan Aini Darafiyah NHJ) tiba di Bandara Tansonnhat International, Ho Chi Minh City. Dari bandara perjalanan menuju penginapan di kawasan Buivien dengan menggunakan bus bandara. 

Kami menginap di Kiki's Saigon Backpackers Hostel. Harga penginapan selama dua malam yakni 258.000 VND (11 USD = 23.454 VND). Setelah urusan check in kelar, istirahat lalu mencari sarapan.  

Setelah sholat duhur, dengan bermodalkan peta. Hostel yang kami kunjungi  menyediakan peta. Peta ini sangat berguna dan memudahkan untuk menemukan lokasi yang akan kami kunjungi, selain itu fungsi peta juga untuk membantu ketika akan bertanya kepada penduduk lokal yang tidak tidak bisa berbahasa inggris.

Tujuan pertama kami adalah War Remnants Museum Dengan harga karcis 40.000 VND. Museum ini terdiri dari tiga lantai. Untuk ruang 1-5 berada di lantai 3, untuk ruang 6-9 berada di lantai 2, untuk 10 dan 11 di lantai 1, terakhir untuk 12 dan 13 berada di halaman museum.

Perang dingin antara Vietnam selatan dan Vietnam utara. Jika Vietnam selatan didukung oleh Amerika Serikat nah Vietnam Utara didukung oleh USSR dan Tiongkok. Museum ini sangat berbau militer.

Pada halaman yakni bagian 12 diperlihatkan tiger cages, terakhir bagian 13 museum akan diperlihatkan tank, helicopter, rongsokan bom-bom. Di dalam museum akan dipamerkan foto-foto, poster yang terpampang di dinding yang tentu saja dilengkapi dengan keterangan yang saat itu membuat mimic wajahku berubah.

War Museum (dok. pribadi)
War Museum (dok. pribadi)

Di kepalaku berputar-putar pertanyaan apakah museum ini dibuat untuk menunjukkan kekejaman yang dilakukan oleh pasukan Amerika Serikat kepada rakyat Vietnam. Berdasarkan hasil  melihat dokumentasi baik itu berwarna dan hitam. 

Beberapa potret tentang rakyat Vietnam mulai dari anak-anak hingga dewasa yang menjadi korban ledakan bom  dan ranjau darat, terjangan peluru bahkan semprotan cairan kimia beracun yakni  Agent Orange (dioxin) dari pesawat serta dampak agent orange ini terhadap masyarakat dan tentara yang kesemuanya di pajang di setiap dinding. Ough iya ada juga kotak-kotak kaca yang berisi mayat bayi yang mengalami malformasi akibat agent orange ini yang diawetkan.

Tiga jam berada di museum ini bagiku belum cukup, pukul 17.00 museum akan tutup. Aku pulang dan merenungkan bahwa dengan alasan apapun perang hanya akan membawa kesedihan, kerugian, luka hingga rasa trauma.

Dari war remnants museum selanjutnya menuju Independence palace atau Reunification Palace. Tempat ini merupakan suatu situs bersejarah tempat dimana berakhirnya perang Vietnam pada tahun 1975.

Pada awalnya bangunan ini merupakan bangunan lama yakni Indochina Governor Palaceyang dibangun oleh Perancis. Lalu hancur terkena serangan bom. Tahun 1962, adalah Presiden Ngo Dinh Diem meminta arsitek Ngo Viet Thu untuk merancang bangunan istana ini. 

Jika dilihat bangunan ini menggabungkan arsitektur modern dengan tradisional oriental. Dari berbagai sumber, pembangunan istana ini memakan waktu tiga tahun, setahun pembangunan presiden Ngo Dinh Diem tewas  penyebabnya kudeta. Kemudian digantikan oleh Nguyen Van Thieu.

Presiden inilah yang menghuni istana ini terakhir, sebelum beliau kabur dengan menggunakan helicopter karena dua tank milik Vietnam Utara mendobrak pintu gerbang lalu menduduki istana.

Independence Palace (dok. pribadi)
Independence Palace (dok. pribadi)

Dampak dari ini adalah perang Vietnam pun berakhir. Yang selanjutnya menyebabkan terjadinya perundingan antara Vietnam Utara -- Vietnam Selatan. Hasil perundingan yakni kesepakatan untuk bersatu dan membentuk pemerintahan bersama.

Pemerintahan bersama merupakan cita-cita dari Presiden Vietnam Utara yakni Ho Chi Minh. Awalnya ibukota Vietnam Selatan adalah Saigon, setelah peristiwa ini berubah menjadi Ho Chi Minh yang diambil dari nama presiden pertama. 

Malam pun datang, waktunya kembali ke penginapan. Dalam perjalanan pulang menemukan Ben Thank Market. Pasar ini merupakan pasar tradisional yang terbesar di kota HCM.

Ciri khas dari pasar ini adalah terdapat sebuah clock tower. Disini dapat ditemui berbagai macam souvenir seperti baju, tas. Karena kami datangnya malam, otomatis pasar ini sudah akan tutup dan kami tidak sempat berbelanja. Di dekat pasar ini banyak terdapat restoran muslim yang pemiliknya berasal dari negeri Jiran, Malaysia.

Ben Thanh Market (dok. pribadi)
Ben Thanh Market (dok. pribadi)

Dari pasar, kami menuju hostel. Berhubung kami mendapatkan hostel yang terletak di jalan Buivien yang ketika malam hari sangatlah ramai. Malam itu aku tertarik ingin mencicipi air tebu limau. Harganya 7000 VND yang akan aku nikmati bersama nasi goreng. Harga seporsi nasi goreng seafood di jalan Buivien yakni 95.000 VND. Mahal kan. Sekedar info untuk kurs 1 USD = 22.000-22500 VND. Harga tinggi jika menukar dengan pecahan 100 USD (22500 VND) jika hanya 1-10 USD (22.000 VND). Banyak kok money changer di daerah ini dan harus pintar-pintar mencari money changer yang rate harganya tinggi.  

Sabtu, 10 Februari 2017 kami melakukan walking tour. Tujuan pertama adalah  Saigon Notre-Dame Basilica atau Basilica of Our  Lady of the Immaculate Conception. Bangunan ini dibangun pada tahun 1863 dan selesai 11 April 1880 Tempat ini adalah sebuah katedral yang indah dan didepannya terdapat patung bunda maria. Jika tak salah ingat, pada Oktober 2005 terjadi suatu peristiwa yakni patung Maria yang dikabarkan mengeluarkan air  mata yang pada akhirnya Dewan Gereja Katholik di Vietnam mengeluarkan sebuah pernyataan bahwa hal itu tidak terjadi.

Saigon Notre - Dame Basilica (dok. pribadi)
Saigon Notre - Dame Basilica (dok. pribadi)

Disamping kanan bangunan ini terapat Saigon Central Post Office. Jika dilihat kantor pos ini bergaya arsitektur perancis dan didesain oleh Gustave Eiffel. Bangunan ini dibangun antara tahun 1886-1891 dan saat ini difungsikan sebagai kantor pos pusat kota Ho Chi Minh City. Di kantor pos ini aku sempat membeli kartu pos. Di dalam kantor pos banyak juga souvenir-souvenir yang diperjualbelikan. 

Nah disebelah Saigon Post Office terdapat restoran siap saji. Di restoran inilah aku makan siang, cukup dengan kentang + es cream cone dengan harga 25.000 VND.

Setelah menikmati makan siang, tujuan selanjutnya adalah Saigon Opera House. Gedung dengan arsitektur Perancis. Bangunan ini masih rapi dan sampai saat ini masih difungsikan. Saat aku berkunjung sedang ada pertunjukkan, dikarenakan harga karcis mahal aku mengurungkan niatku untuk menyaksikan pertunjukkan.

Saigon Post Office (dok. pribadi)
Saigon Post Office (dok. pribadi)

Masih berbekal peta dari hostel kami melanjutkan perjalanan menuju Ton Duc Thang Museum. Ternyata tidak jauh dari Saigon Opera House terdapat People Committee Building. Lokasinya sangat strategis yakni di jalan Nguyen Hue. 

Bangunan ini berdiri sejak 1909. Merupakan salah satu gedung tertua dan tentu saja terindah dengan arsitektur Perancis. Saat ini bangunan ini berfungsi sebagai gedung dewan kota. 

Aku punya pengalaman, saat mengambil gambar di bangunan ini. Karena aku tidak tahu, aku pun foto di dekat pintu, dan tiba-tiba ada petugas yang menegur bahwa tidak boleh berfoto di dekat pintu, foto hanya bisa sampai di tangga. Dan aku cuman bisa menjawab Sowry Sir because I don't know. Bersyukur petugasnya mengerti.

People Commitee Building (dok. pribadi)
People Commitee Building (dok. pribadi)

Setelah ini, perjalanan menyusuri kota Ho Chi Minh tibalah di Ton Duc Thang Museum. Museum ini terletak di Ton Duc Thang street, Ben Nghe Ward district 1 Ho Chi Minh City. Pada awalnya museum ini merupakan rumah yang menampilkan tentang kehidupan dan karir presiden Ton Duc Thang. Nah pada tanggal 13 Agustus 1990 oleh kementrian kebudayaan, informasi, olahraga dan pariwisata menggantinya menjadi Ton Duc Thang Museum. Ini merupakan salah satu dari dua museum untuk mengenang tokoh revolusioner di Vietnam. Ada dua tokoh revolusioner di Vietnam yakni Ton Duc Thang dan Ho Chi Minh.

Museum Ton Duc Thang dibangun dengan tujuan sebagai tempat menyampaikan aspirasi, belajar dan memahami tentang Paman Ton yang dikhususkan bagi masyarakat yang berasal dari atau Ho Chi Minh City.

Alasannya, Paman Ton merupakan seorang pekerja keras dan merupakan anggota Labor Force Saigon- Cho Lon. Beliau juga merupakan kebanggaan dari orang-orang selatan.

Museum ini dilengkapi dengan tujuh ruang pameran yang terdiri dari dua lantai. Pada lantai 1 terdapat ruang tahanan. Berdasarkan informasi dari yang terpampang di dinding, paman Ton pernah menjadi tahanan.

Museum ini berkontribusi untuk menyampaikan ideology, kebudayaan, pendidikan dan meningkatkan rasa nasionalisme kepada Vietnam dan penghormatan kepada Ton Duc Thang. 

Setelah cukup menikmati museum ini, aku bertanya kepada mbak yang jaga. Jika presiden ke 2 Vietnam Ton Duc Thang memiliki museum apakah presiden pertama yakni Ho Chi Minh juga memiliki museum? Mbak yang menjaga mengatakan ada, sambil aku memperlihatkan peta yang aku miliki. Dan memang dalam peta Museum Ho Chi Minh ada. Untuk mencapai museum Ho Chi Minh cukup menyusuri jalan di samping sungai Saigon.

dokpri
dokpri

Ho Chi Minh Museum  terletak di Nguyen Tat Thanh Street di Saigon's District 4. Museum ini dibangun pada tahun 1863. Museum ini terdiri dari dua lantai. Museum ini berisi barang-barang dari presiden pertama Vietnam seperti beberapa pakaian, sandal dan kacamata beliau. Di museum ini juga di tampilkan dokumentasi tentang karir politik beliau, termasuk pubilkasi, jurnal dan skrip tentang kehidupannya.  Di bagian belakang museum terdapat mobil sang Presiden. Untuk masuk ke museum ini tidak dikenakan biaya alias free.

Di dean patting Ho Chi Minh (dok. pribadi)
Di dean patting Ho Chi Minh (dok. pribadi)

Museum Ho Chi Minh (dok. pribadi)
Museum Ho Chi Minh (dok. pribadi)

Mengakhiri perjalanan di Ho Chi Minh City, mengunjungi street food market dan menjelajah malam di daerah Buivien yang sangat ramai dengan performance music dan menikmati baguette bersama telur dan tak lupa es segar limau murni.

Minggu, 11 Februari 2018 pukul 01.00 PM perjalanan dilanjutkan menuju Phnompenh. Meskipun hanya dua hari di Ho Chi Minh City tetapi begitu banyak pengetahuan dan wawasan serta informasi baru yang aku dapatkan.

Jika suatu hari nanti, aku memiliki waktu aku ingin sekali menjelajah Ha Noi, Danang  dan Sa Pa. Dari beberapa referensi yang aku baca Sa Pa merupakan salah satu daerah pegunungan yang terletak di sebelah barat laut Ha Noi dan daerah yang sangat unik karena merupakan 'rumah' bagi beraneka ragam etnis minoritas di Vietnam.