Mohon tunggu...
Rian mahatma
Rian mahatma Mohon Tunggu... Analis Saham

Analis Saham

Selanjutnya

Tutup

Finansial Pilihan

Fenomena Lemon, Pengangkatan Direksi-Komisaris Garuda yang Direspons Negatif oleh Pasar

26 Januari 2020   08:55 Diperbarui: 27 Januari 2020   10:28 487 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Fenomena Lemon, Pengangkatan Direksi-Komisaris Garuda yang Direspons Negatif oleh Pasar
Reaksi pasar setelah perombakan pengurus yang baru dibentuk. | ilustrasi: wall-street.com

Kesan pertama menentukan masa depan. Begitulah pasar membaca sinyal dari pergantian pengurusnya termasuk Garuda yang bukunya mulai kelihatan bagus tetapi pengurusnya buruk.

Maka hari pertama pengurus barunya diangkat, saham Garuda malah nyungsep ke zona merah, langsung drop 2,8-4 persen.

Inilah lemon, gagal mengirim impresi positif dari pengangkatan orang yang kurang diinginkan pasar.

Betapapun hebatnya mereka beretorika yang disampaikan lewat akun-akun tak resmi semisal FB dan Twitter. Apalagi kalau bicaranya sudah personal, politis, saling bantah, fitnah, serapah, adu kuat, bukan program. Itulah fenomena lemon.

Teropong Buku
Pasar hidupnya autonomous dari membaca "signal".  Laporan keuangan, orang, kejadian, semua adalah signal. Termasuk pada Garuda Indonesia.

Orang yang punya uang selalu kepo. Mereka lebih kepo dari Anda, bahkan dari menteri atau CEO Garuda itu sendiri. Dilengkapi analis dan referensinya. Jadi jangan anggap remeh. Yuk kita kepoin bukunya Garuda yang kata orang tertentu rugi. Benarkah masih rugi?

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) diam-diam berhasil mengantongi laba bersih senilai US$ 122,42 juta atau setara Rp 1,72 triliun hingga kuartal III 2019. Ini sudah jauh lebih bagus dari periode yang sama tahun2018 (year on year/yoy),  yang rugi hingga US$ 114,08 juta.

Hingga kuartal III 2019 Garuda mampu tumbuh 9,9% yoy.  Padahal Garuda Indonesia masih mencatatkan rugi pada 2014 dan 2017 dengan masing-masing angka kerugian USD 370,04 juta dan USD 216,58 juta.

Kerugian itu dipicu beban usaha naik 11,63 persen pada 2017 menjadi USD 4,23 miliar dari periode sama tahun sebelumnya USD 3,79 miliar.

Sementara pada tahun 2019 (hingga September) pendapatan usaha Garuda mencapai US$ 3,54 miliar, naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 3,21 miliar.

Pendapatan tersebut terutama ditopang pendapatan dari penerbangan berjadwal senilai US$ 2,79 miliar, tumbuh 8,8% secara yoy dari US$ 2,56 miliar. Sedangkan pendapatan tidak berjadwal  (angkutan haji) malah turun dari US$ 254,75 juta menjadi US$ 249,92 juta.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x