Rian Hidayat
Rian Hidayat

Surat Cinta Dari Pengagum Rahasia

Selanjutnya

Tutup

Novel

Surat Cinta dari Pengagum Rahasia

13 Mei 2019   19:05 Diperbarui: 13 Mei 2019   19:13 22 2 0
Surat Cinta dari Pengagum Rahasia
Dokpri

Pada pertukaran rasa yang tak seimbang, aku menaruh bimbang. Ketika meneruskan hanya berarti menambah perih pada luka lainnya, dan berhenti juga tidak menyembuhkan apa-apa. Menaruh harap pada waktu yang akan menjawab, mungkin saja percuma; sebab hatimu bukan aku yang kau mau. Sedangkan aku hanyalah tamu yang diundang pada sedikit  kesempatan saja.

Belum genap memiliki, hati ini seperti dipaksa berhenti mencintai. Harapan sudah mencapai menara tertinggi, tapi terjatuh karena tahu bukan aku yang kau mau. Kornea seperti tercelik pada realita. Tadinya pinta bergegas menyapa pencipta agar lekas menyatukan kita. Tapi doa-doa itu menabrak dinding negeri utopia, menyadarkanku bahwa seharusnya angan-angan berhenti disini saja agar tidak menyakiti sesiapa. Andai pertemuan kita tak terbentur pada garis segita yang menyatukan aku, kau dan dia pada sudut-sudutnya. Dia yang kelak memperjuangkanmu lebih baik dari pada aku.

Pada ketiba-tibaan datangnya sebuah rasa, aku memupuk asa, seakan tidak perduli bahwa bagian kosong dihatimu  tak bisa aku tempati. Juga tidak ingin ambil pusing dengan kenyataan yang mengharuskan kita berada pada jalannya masing-masing. Mungkin sebenarnya ada garis tak kasat mata yang menghalangi agar aku tidak melangkah lebih jauh lagi. Namun aku memilih berpura-pura tak menyadarinya.

Rasa, R A S A. Empat huruf yang biasa-biasa saja, tetapi mampu mematahkan logika. Hati ini tak pernah memilih kepada siapa ia diambil alih, yang aku tahu aku jatuh cinta. Pada sebuah keramaian, dan kau jadi pusat perhatian. Sementara aku hanya duduk dipojokan, menyaksikanmu dari belakang.

Kita pecah dalam perbincangan tentang banyak hal, hingga kembali utuh dalam kata kenyamanan. Segalanya aku lakukan, dengan melakukan penolakan terhadap hatiku sendiri. Tapi kenyataannya, hanya dengan tatapan tenang; luar biasa pertahananku runtuh seketika.

Bukan salah hati, jika sedikit cinta mampu mengundang rindu setengah mati. Bukan pula salah hati, jika sedikit cinta kelak menjadi alasan ada rasa yang tersakiti. Kenyataannya, cinta memang Tuhan ciptakan dengan mata yang buta arah. Bisa menuju siapapun. Bisa terjatuh dimanapun.

Sebenarnya aku sudah lelah menjatuhkan cinta pada hati yang salah. Aku juga ingin rasa yang berbalas, bukan terus menerus berbatas. Harus meminta seperti apa lagi, agar hati yang pernah kutitipkan padamu, bersedia pulang kembali? Karena setiap kubiarkan perasaan-perasaan ini tertinggal, aku takut lukaku semakin kekal.

Padahal bukannya tak kucoba mendayung perahu gerakku keluar dari zona segitigamu, tapi setiap gerikmu merangkul rasaku untuk tetap disitu. Posisiku selalu serba salah. Disisi diri, aku tidak ingin kau dirangkul oleh orang yang salah. Karena hati ini bisa membahagiakanmu dengan berlipat kali dari yang ia beri. Tapi disisi hati, aku akan menjadi sangat salah jika berulah dengan memaksamu untuk mencintaiku juga. Tidak mungkin menumpukkan luka dengan sesuka demi kebahagiaanku semata. Pada akhirnya, aku akan meminum racun air mataku sendiri karena tak berdaya meraih kamu berada disisi.

Wujud cinta tak pernah tahu dengan pasti dimana semestinya ia berada. Karena bukankah ia tumbuh begitu saja? Kemana ia harus melangkah? Ketika untuk menetap ialah tidak mungkin, pun untuk meninggalkan hanyalah langkah yang begitu berat.

Begitu banyak pertanyaan yang terjun bebas di kepalaku tanpa jawaban yang sejatinya aku tidak tahu. Yang aku tahu aku mencintaimu, tapi akan rumit dalam realita. Setiap hari aku harus menenangkan rindu yang berteriak mencari dimana tuannya, karena senyatanya dia tidak diakui siapa-siapa.

Biarkanlah tulisan ini menjadi surat terakhirku, semua tentangmu, agar kamu tahu bahwa ada seseorang yang sebegitunya mencintaimu, sungguh-sungguh mencinta. Mungkin saja kamu belum terlalu percaya dengan cintaku? Atau bagaimana? Maafkan hatiku yang tidak bisa menepati janjinya untuk selalu mengejar hatimu. Maafkan diriku yang tidak bisa menjadi pahlawanmu lagi, yang hadir saat kau datang dan selalu mengawasimu dalam bayang-bayang. Aku tahu jika pun aku pergi kamu tidak akan melarangku. Jika seseorang yang dulu pernah kau sayangi, pergi meninggalkanmu dan kau membiarkannya, apa lagi aku yang tidak ada nilainya?

Yang aku ingin kebahagiaan dan kepastian. Tentang tarik menarik asa dan rasa yang seperti tak ada ujungnya. Yang aku ingin cinta yang sederhana, cukup sederhana hingga aku tidak perlu meminta apa-apa untuk dapat merasakan bahagia. Hingga aku tak perlu merasa kecewa, sebab keinginan tidak sejalan dengan kenyataan. Hingga aku tahu rasanya dicinta, tanpa perlu mengiba.

Biarkan perasaan ini perlahan mengikuti aliran tanpa terlihat sebagai kesalahan. Karena menurutku ini bagian dari pelajaran dalam perjalanan. Pada siapapun ia tak mungkin menurut, sampai waktu yang tepat membiarkan ia menyurut. Meski hati begitu mengingini, tapi aku tahu batas-batas yang tak bisa dipanjati. Entah siapa yang akan menggesermu dari segala ketetapan-ketetapan perasaan, tapi aku hanya bisa menyerahkannya pada tuhan.

Aku sedang menunggu saat yang tepat untuk keluar dari segitamu, lalu silahkan buatlah garis lurus agar dua sudut bersatu. Ya, garis penemu untuk kau dan dia tanpa ada aku. Bahagialah dengan kebahagiaanmu yang serba tanpa aku. Tersenyumlah selalu, meski senyum itu lahir dari balik harapan-harapan lamaku.

Tapi ingat satu hal. Aku bisa jatuh cinta berulangkali pada orang yang sama. Mungkin suatu saat Tuhan akan menyatukan kita. Semoga saja.