Mohon tunggu...
Riana Dewie
Riana Dewie Mohon Tunggu... Freelancer - Content Creator

Simple, Faithful dan Candid

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Catatan Seorang (Mantan) Murid

25 November 2019   23:17 Diperbarui: 26 November 2019   06:52 257
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Selamat Hari Guru 2019 (pixabay)

Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa
Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu dari siapa
Kita jadi pintar dibimbing pak guru
Kita bisa pandai dibimbing bu guru
Gurulah pelita penerang dalam gulita
Jasamu tiada tara

Ada yang pernah mendengar lagu ini? Tahun 90-an, lagu ini sering banget terngiang di telinga, bahkan setiap hari videonya muncul di salah satu stasiun televisi. Mengena banget ya? Bagi saya pribadi, iya. Saya yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar bahkan sangat hafal liriknya dengan video yang diperankan beberapa anak sekolah berjalan di pinggiran rel kereta.

Mudahkah Menjadi Seorang Guru? 

Tugas seorang guru sebagai pengajar memang saya rasakan luar biasa effort-nya. Beragam karakter muridnya yang aduhai memang membutuhkan perhatian tiada batas. Bayangkan saja, satu murid malas mengerjakan PR, dan yang lainnya malah asyik ngobrol tanpa menghargai keberadaan gurunya. Bagaimana perasaan Anda jika menjadi gurunya?

Ilustrasi Guru saat mengajar di depan kelas (pixabay)
Ilustrasi Guru saat mengajar di depan kelas (pixabay)
Kalau mau sama-sama jujur ya, tugas seorang guru tidaklah mudah. Pertama, ia harus menyampaikan ilmu atau informasi yang baik kepada muridnya. Kedua, ia harus mencari cara agar setiap muridnya mampu menyerap ilmu yang ia sampaikan.

Kita tidak bisa menampik ya, bahwa kemampuan penerimaan informasi pada otak setiap anak kan tidak sama. Ada yang mudah menerima, ada yang sulit.

Hal yang memprihatinkan adalah ketika seorang guru dihadapkan pada kondisi bahwa si anak sulit menerima informasi yang ia sampaikan. Ini artinya sang guru harus bekerja keras untuk menransfer ilmunya dengan cara "istimewa". Untung-untung jika si anak memiliki karakter mau belajar dan pantang menyerah.

Nah, kalau dihadapkan pada anak yang karakternya serba instan, tidak mau tahu atau malas berjuang? Ini tentu semakin menambah deretan PR bapak/ibu guru yang harus segera diselesaikan.

Menyampaikan Teori, Masih Bermanfaatkah? 

Zaman dimana saya masih sekolah dulu, teori yang disampaikan oleh guru itu semacam 'harta karun' yang gakkan pernah saya lewatkan. Saya selalu mencatat manual apa yang disampaikan oleh guru dan saya baca lagi saat ujian akan berlangsung. Bagi saya, penjelasan guru itu lebih mudah dipahami daripada teori yang tertulis di buku pelajaran.

Gak heran jika saat sepulang sekolah, buku catatan saya selalu menjadi rebutan teman-teman lainnya untuk diperbanyak atau mereka bawa ke rumah untuk dipelajari.

Anak-anak jaman sekarang lebih suka mengakses informasi melalu gadget mereka (pixabay)
Anak-anak jaman sekarang lebih suka mengakses informasi melalu gadget mereka (pixabay)
Tapi itu fenomena masa lalu. Hari ini tantangan guru semakin berat. Kenapa? Karena murid justru seringkali memiliki teori pelajaran yang lebih lengkap karena mereka sudah pandai mengakses teknologi. Ya, minimal punya jaringan internet, anak-anak sekarang sudah memiliki media yang lebih praktis untuk belajar.

Hal yang akan menjadi masalah adalah ketika anak-anak tersebut mengakses informasi yang tidak selayaknya mereka dapatkan. Nah, jika sudah masuk ke ranah ini, orang tua dan guru setidaknya bisa berkolaborasi untuk memberikan pengawasan & bimbingan berkelanjutan kepada anak tersebut.

Selain Mengajar, Tugas Guru adalah Mendidik 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun