Hijau

Setelah Pemanasan, Akankah Terjadi Pendinginan Global?

8 Februari 2018   23:33 Diperbarui: 9 Februari 2018   04:29 381 0 0
Setelah Pemanasan, Akankah Terjadi Pendinginan Global?
IPCC

Pemanasan global adalah kenaikan suhu permukaan bumi yang disebabkan oleh peningkatan keluaran (emisi) gas rumah kaca, seperti; karbondioksida, metana, dinitro oksida, hidrofluorokarbon, perfluorokarbon, dan sulfur heksafluorida di atmosfer. Adapun proses peningkatan signifikan gas karbondioksida di atmosfer oleh kegiatan manusia, meliputi pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan organik (bahan bakar fosil yang dibentuk dari jasad tumbuhan dan hewan yang telah lama mati) lainnya. 

Pembakaran batu bara, minyak dan gas bumi melepaskan milyaran ton karbon ke atmosfer setiap tahunnya (yang seharusnya tetap berada jauh di dalam kerak bumi), juga metana dan nitrous oksida dalam jumlah besar. Akan lebih banyak karbondioksida yang dilepaskan ke atmosfer ketika pohon-pohon ditebang dan tidak ditanami kembali. 

Hal ini tentu untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun, penggunaannya yang melebihi kemampuan tumbuhan dan laut untuk menyerap, membuat banyak sisa gas yang terperangkap di atmosfer sehingga timbul efek gas rumah kaca. Energi yang seharusnya dipantulkan kembali oleh permukaan bumi, tertahan oleh awan dan gas karbondioksida sehingga terjadi peningkatan suhu bumi.

Emisi gas rumah kaca (GRK) yang kontinu pada atau di atas tingkat kecepatannya saat ini akan menyebabkan pemanasan lebih lanjut dan memicu perubahan-perubahan lain pada sistem iklim global selama abad ke- 21 yang dampaknya lebih besar daripada yang diamati pada abad ke-20. 

Hal yang menyebabkan emisi GRK menjadi masalah yang besar adalah karena dalam jangka panjang, bumi harus melepaskan energi dengan laju yang sama ketika bumi menerima energi dari matahari. Selubung GRK yang lebih tebal akan membantu untuk mengurangi hilangnya energi ke angkasa, sehingga sistem iklim harus menyesuaikan diri untuk mengembalikan keseimbangan antara energi yang masuk dan energi yang keluar. 

Proses ini disebut sebagai "efek GRK yang semakin besar". Iklim menyesuaikan diri terhadap selubung GRK yang lebih tebal dengan "pemanasan global" pada permukaan bumi dan pada atmosfer bagian bawah. Kenaikan temperatur tersebut diikuti oleh perubahan-perubahan lain, seperti tutupan awan dan pola angin. Beberapa perubahan ini dapat mendukung terjadinya pemanasan (timbal balik positif), sedangkan yang lainnya melakukan hal yang berlawanan (timbal balik negatif). Berbagai interaksi tersebut sangat menyulitkan para ahli untuk menentukan secara tepat bagaimana iklim akan berubah dalam beberapa dekade ke depan.

Kemudian, konferensi National Astronomy yang diadakan awal Juli tahun 2015, seorang Profesor bernama Valentina Zharkova mengutarakan sebuah hasil penelitian bahwa zaman es akan kembali membekukan Bumi. Berdasarkan hasil penelitiannya, zaman es itu akan terjadi sekitar tahun 2030 akibat dari kacaunya siklus matahari.. Aktivitas matahari akan mencapai titik terendahnya, sama seperti 370 tahun silam., dengan fenomena yang disebut 'Maunder Minimum'.

Sedikit menilik kebelakang, beberapa abad yang lalu, planet bumi sendiri telah mengalami zaman es yang disebut Little Ice Age, yang didefinisikan oleh NASA terjadi antara tahun 1550 hingga 1850. Zaman Es Kecil adalah periode pendinginan yang berlangsung setelah periode hangat abad pertengahan

Meskipun masa ini bukan merupakan zaman es yang sesungguhnya, istilah ini diperkenalkan ke dalam ranah ilmiah oleh Franois E. Matthes pada tahun 1939. Zaman ini bertepatan dengan periode menurunnya aktivitas matahari (Maunder Minimum, dinamai dengan astronom Edward Maunder). The Maunder Minimum, juga dikenal sebagai "minimum sunspot berkepanjangan", adalah istilah yang digunakan oleh para ilmuwan untuk periode yang dimulai sekitar tahun 1645 dan berlanjut sampai sekitar 1715 saat bintik matahari menjadi sangat langka, seperti yang dicatat oleh pengamat matahari pada masa itu.

Peneliti masa kinipun mengungkapkan hasil penelitian terkait bintik hitam matahari Hasil penelitian menunjukkan, saat ini bumi sedang mengalami tren pendinginan jangka panjang, terutama di tahun 2009, dimana output matahari berada pada tingkat terendah dalam lebih dari satu abad. Adapaun dapat mempengaruhi iklim bumi, jika bintik matahari tidak jatuh ke tingkat Maunder Minimum, dan penurunan suhu dari matahari adalah minimal bila dibandingkan dengan pemanasan dari gas rumah kaca buatan manusia. Pendinginan dari turunnya output matahari diperkirakan sekitar 0,1 C (dengan kemungkinan nilai maksimum adalah 0,3 C) sedangkan pemanasan gas rumah kaca akan berkisar antara 3,7 C sampai 4,5 C, tergantung pada berapa banyak CO2 yang kita pancarkan di abad 21.

Berdasarkan website IPCC, ditampilkan data keadaan bumi pada abad ke 20, yakni ; suhu permukaan rata-rata global naik sebesar 0,6 0,2 C. Pada sumber lain, dalam artikel yang diunggah oleh UNCFF menyebutkan, temperatur rata-rata global naik sebesar 0.74oC selama abad ke-20.  Jadi kita dapat yakin, bahwa zaman Little Ice Agetidak terjadi di waktu dekat.

Sumber :

https://unfccc.int/files/meetings/cop_13/press/application/pdf/sekilas_tentang_perubahan_iklim.pdf

https://ipcc.ch/

https://skepticalscience.com/translation.php?a=53&l=24

https://id.wikipedia.org/wiki/Zaman_Es_Kecil