Mohon tunggu...
INDRIAN SAFKA FAUZI (Aa Rian)
INDRIAN SAFKA FAUZI (Aa Rian) Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Pemuda asal Cimahi, Jawa Barat kelahiran 1 Mei 1994. Sang pemerhati abadi kemanusiaan dan peradaban. Penuh perjuangan dan kebahagiaan tiada batas. Kompasianer Ranking #30 Tahun 2022. Bercita-cita menjadi Pemimpin Bangsa dan Negeri.

🌏 Akun Kedua yang berfokus pada pengkajian Ilmu Humaniora (Sembari Menggali Hikmah dalam Al-Qur'an/Ajaran Islam dan Veda/Ajaran Hindu) dan Gemar mengisi kanal Fiksiana, sesekali ragam topik 🌏 Senang disapa Aa Rian oleh Keluarga Besar, Para Guru, Sahabat dan Kerabat 🌏 Bertekad Penuh dalam Menulis Sepenuh Hati Jiwa Raga untuk Kemajuan Peradaban 🌏 Pernah mengikuti kuliah Akuntansi, Manajemen dan Administrasi Negara, dan pernah menjadi Pelatih Olahraga Pernafasan selama 2 tahun lebih, serta berkelana mencari Ilmu Spiritual dari berbagai Agama di Bumi Nusantara selama 10 tahun lamanya. 🌏 Link Akun Pertama: https://www.kompasiana.com/integrityrian 🌏 Surel: indsafka@gmail.com 🌏

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tanya Pada Diri Sendiri, Apa Urgensi Saya Mengkritik Selain Diri?

4 Januari 2023   14:35 Diperbarui: 4 Januari 2023   14:34 216
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hai sahabat pembaca!

Memberikan kritik sejatinya memang diperlukan dalam kehidupan. Karena saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran adalah salah satu poin penting dari ajaran beragama.

Namun...

Tanya Pada Diri Sendiri, Apa Urgensi Saya Mengkritik Selain Diri?

  • Apakah kritik kita memang sarat urgensi demi kepentingan umum? Apa dampaknya dari kritik kita jika dilaksanakan pihak terkait?
  • Apakah kritik kita benar-benar mampu menyelamatkan kehidupan orang banyak? Apa dampaknya jika kritik kita diaplikasikan oleh yang berwenang?

Disaat kita sibuk menengok orang lain, melihat kekurangan yang ada pada diri beliau. Dan kita terus tenggelam dalam aktivitas ini (mengkritik). Hingga lalai, bahwa dalam diri kitapun terdapat banyak kekurangan yang mesti dibenahi.

Menyalahkan diluar kita memang terasa nikmat. Apalagi kalau kritikan kita itu benar adanya.Β 

Mengkritik diri sendiri (psychologytoday.com - Sarah Loreth/Flickr)
Mengkritik diri sendiri (psychologytoday.com - Sarah Loreth/Flickr)

Tapi... sebelum mengkritik diluar diri kita, apakah diri kitapun tidak lepas dari kritikan diluar kita?

Maka sebelum mengkritik sesama kita. Maka alangkah tepatnya kita mengkritik diri kita sendiri.

  • Sejauh mana kebenaran dan kebermanfaatan akan kualitas pikiran kita untuk berkontribusi pada sesama kita?
  • Sejauh mana kepekaan hati kita perihal hal-hal sosial yang nampak di lingkungan terdekat kita?
  • Sejauh mana motivasi kita untuk mengaplikasikan nilai-nilai religius-spiritual dan budaya kita?

Apakah itu semua sudah terjawab? Dan apa dampak dari yang kita perbuat untuk kehidupan?

Ada pepatah religius-spiritual mengatakan.

"Kamu bisa melarang seseorang berbuat kebatilan, selama engkau belum pernah melakukannya, ataupun pernah melakukannya namun berhenti selama-lamanya untuk tidak mengulanginya kembali, karena mengetahui akan dampak buruknya."

Karena terkadang orang yang sedang sakit keras yang memberikan nasihat akan kiat-kiat hidup sehat pada orang sehat, maka yang dinasihati terkesan meremehkan dan kemudian berkata dalam hatinya, "Kalau kamu tahu kiat-kiat hidup sehat, kenapa tidak kamu terapkan dalam hidupmu sendiri, lihatlah dirimu dahulu... sebelum menasihati orang lain!"

Itulah pedihnya realita kehidupan.

Tertanda.
Aa Rian (Indrian Safka Fauzi)
Cimahi, 4 Januari 2023.

Aa Rian untuk Kompasiana.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun