Mohon tunggu...
Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)
Indrian Safka Fauzi (Aa Rian) Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Pemuda asal Cimahi, Jawa Barat kelahiran 1 Mei 1994 yang dikelilingi Orang-Orang Hebat dan Luar Biasa. Sang pemerhati abadi. Penuh perjuangan dan kebahagiaan tiada batas. Sang Pemimpin di Masa Mendatang.

🌏 Akun Kedua yang Concern Humaniora (Sembari Menggali Hikmah dalam Al-Qur'an/Ajaran Islam) juga Sesekali Fiksiana, Lyfe, OIahraga dan Vox Pop 🌏 Berbagi Tulisan sarat Manfaat 🌏 Senang disapa Aa Rian oleh Keluarga Besar, Para Guru, Sahabat dan Kerabat 🌏 Visioner 🌏 Kritikus juga Solutif 🌏 Gamers 🌏 Sedang dalam kondisi Uzlah dan Tirakat 🌏 Pengetahuanku untuk Dirimu 🌏 Kekuatan Kata Dapat Merubah Dunia, Namun Kekuatan Terbesarmu adalah Merubah Karaktermu menjadi Luar Biasa 🌏 Seorang pemuda single belum pernah berpacaran yang mendambakan kehadiran Gadis Muslimah Salihah berhijab cantik dan mulia luar dalam 🌏 Bertekad Penuh dalam Menulis Sepenuh Hati Jiwa Raga untuk Kemajuan Peradaban 🌏 Link Akun Pertama: https://www.kompasiana.com/integrityrian 🌏 Surel: indsafka@gmail.com 🌏

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Perang Tiada Akhir: Kecerdasan/Malaikat vs Ego Palsu/Iblis

27 November 2022   13:30 Diperbarui: 27 November 2022   13:33 201
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar Diolah Penulis (wallpaper.dog)

Hai sahabat pembaca budiman!

Dari semenjak dahulu kala, peperangan Dewa/Malaikat dan Asura/Iblis tak pernah berhenti.

Sebagaimana tertulis dalam Epic Ramayana dan Mahabharata, peperangan antara Kebaikan dan Kejahatan, Dewa/Malaikat melawan angkara murka Asura/Iblis mewarnai semesta raya ini ribuan tahun silam.

Kini kita hidup di zaman modern, yang mana Dewa/Malaikat dan Asura/Iblis berperang di pikiran kita. Siapa yang berkuasa, maka ia berkuasa atas Ruh diri kita kelak.

Karena baik malaikat maupun Iblis, semuanya memiliki kemampuan mistis yang mampu memperkecil ukuran dirinya, dengan merubah wujud diri menjadi energi yang hadir pada pikiran kita. Hal ini dijelaskan dalam Al-Hadits:

Rasulullah S.A.W bersabda, β€œSesungguhnya setan dan iblis menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah. Aku khawatir sekiranya setan dan iblis itu menyusupkan kejelekan dalam hati kalian berdua.” (Muttafaqun β€˜alaih. Hadits Riwayat Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175).

Malaikat menjadi energi positif, sementara iblis sebaliknya.

Malaikat akan merasa terbantu dalam peperangan di dalam pikiran kita, apabila kita senantiasa mengingat Nama Suci Tuhan sesuai keyakinannya, baik dilisankan atau didawamkan dalam hati. Dan juga sangat terbantu jika kita menghindari konsumsi daging-dagingan juga minuman keras, dan makanan juga minuman yang dilarang oleh agama.Β 

Mengapa daging-dagingan berpotensi mereduksi kesadaran? Karena pembawaan sifat hewani pada daging yang mempengaruhi pola pikir kita. Walau sejatinya daging yang dihalalkan dalam ajaran Islam, itu baik untuk daya kritis pengonsumsinya sehingga kesempatan untuk muhasabah/introspeksi di masa dewasa kemungkinan besar terjadi.

Sebaliknya Iblis akan merasa terbantu jika kita tidak mengingat Nama Suci Tuhan, bahkan dengan rakusnya makan daging-dagingan secara berlebihan, juga mengonsumsi makanan dan minuman yang diharamkan oleh agama.

Iblis berupa ego palsu dalam diri kita, sementara Malaikat berupa Kecerdasan dalam diri kita.

Kecerdasan pikiran kita mengantarkan diri manusia pada kemujuran dan keberuntungan. Dengan cerdasnya manusia melalui pikirannya menghindari segala ikatan duniawi yang menyengsarakan. Maka hidupnya dipenuhi kesederhanaan, sikap penuh kesalehan dan selalu terjaga dari segala kesalahan fatal yang kelak membuatnya putus asa.

Sementara ego palsu pada pikiran kita mengantarkan diri kita pada keputusasaan dan kemalangan. Ego palsu membuat manusia selalu berpikiran hedonistik dan materialistik, selalu mengejar pemenuhan syahwat, melanggar norma, hingga akhirnya rugi sendiri karena kesalahan fatal yang diperbuat dirinya sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun