Mohon tunggu...
Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)
Indrian Safka Fauzi (Aa Rian) Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Pemuda asal Cimahi, Jawa Barat kelahiran 1 Mei 1994 yang dikelilingi Orang-Orang Hebat dan Luar Biasa. Sang pemerhati abadi. Penuh perjuangan dan kebahagiaan tiada batas. Sang Pemimpin di Masa Mendatang.

🌏 Akun Kedua yang Concern Humaniora (Sembari Menggali Hikmah dalam Al-Qur'an/Ajaran Islam) juga Sesekali Fiksiana, Lyfe, OIahraga dan Vox Pop 🌏 Berbagi Tulisan sarat Manfaat 🌏 Senang disapa Aa Rian oleh Keluarga Besar, Para Guru, Sahabat dan Kerabat 🌏 Visioner 🌏 Kritikus juga Solutif 🌏 Gamers 🌏 Sedang dalam kondisi Uzlah dan Tirakat 🌏 Pengetahuanku untuk Dirimu 🌏 Kekuatan Kata Dapat Merubah Dunia, Namun Kekuatan Terbesarmu adalah Merubah Karaktermu menjadi Luar Biasa 🌏 Seorang pemuda single belum pernah berpacaran yang mendambakan kehadiran Gadis Muslimah Salihah berhijab cantik dan mulia luar dalam 🌏 Bertekad Penuh dalam Menulis Sepenuh Hati Jiwa Raga untuk Kemajuan Peradaban 🌏 Link Akun Pertama: https://www.kompasiana.com/integrityrian 🌏 Surel: indsafka@gmail.com 🌏

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pengalaman dan Rasa Dikritik Bahkan Dihujat dengan Bahasa Pedih

24 November 2022   17:00 Diperbarui: 24 November 2022   17:32 324
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hai sahabat Pembaca Budiman!

Pernahkah sahabat merasakan mendapati kritik yang baik? Bahkan hingga merasakan Hujatan dengan Bahasa Pedih?

Saya ingin berbagi kisah kepada para pembaca, perjalanan panjang saya hingga mampu menulis dengan karya demikian yang mana saya bersyukur mendapatkan respon positif dari kebanyakan pembaca. Alhamdulillah.

Bermula dari Sakit Psikis akibat pengaruh sihir

Saya pernah menulis hal-hal negatif bahkan melampaui batas-batas nalar saat saya sakit non-medis saat duduk di bangku SMA. Karena pengaruh sihir diluar nalar berdasarkan pengamatan "orang-orang yang mengaku bisa".

Saya sampai menghabiskan uang kedua orang tua saya karena tidak mampu mengendalikan diri ketika mengirim SMS berantai mengerikan kepada teman-teman saya saat itu.

Hingga saya diancam teman saya sendiri, saya akan dilaporkan kepada pihak kepolisian dengan membeberkan sejumlah bukti tulisan negatif yang saya tebarkan.

Tidak sampai disitu sahabat.

Pengalaman mengerikan lagi, berlanjut kemudian saat saya menggunakan Facebook.

Saya sampai divonis dan dijudge "Gila" bahkan "Anak ****** (Saya sensor karena tidak pantas untuk diucapkan) karena saya dianggap mengaku diri sebagai "Imam Mahdi", "Nabi Isa" bahkan "Dajjal" sekalipun di Facebook saat itu.

Itu tidak saya pungkiri, karena saya begitu terinspirasi dengan kisah akhir zaman Islami di masa-masa pendidikan SMA. Namun sayang karena kemampuan kognisi saya begitu terkikis karena pengaruh magis yang melekat pada pikiran saya. Saya harus sampai mengalami isolasi di sebuah rumah sakit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun