Ri Rie
Ri Rie Penulis

Pikiran baik, perkataan baik, perbuatan baik. Insya Allah yang datang selalu yang baik 🐰

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Istri yang Tak Disentuh - Bagian 1

11 Februari 2019   11:25 Diperbarui: 11 Februari 2019   12:48 111 2 2

Malam Pertama

"Kenapa?" Sakura berbisik pelan.

"Aku lelah," ucap Randy dingin.

"Istirahatlah." Menyerah, Sakura beranjak dari ranjang dan mengalihkan perhatian pada tumpukan buku di meja yang terletak di sudut kamarnya.

Malam pertama ini tidak seperti bayangannya. Randy menolak menyentuhnya, hanya beberapa kecupan tipis dan pria itu tampak tidak nyaman.

"Apa yang salah dengan diriku?" lirih Sakura sambil membenamkan wajahnya ke tengah buku.

Ia tidak pernah menyangka, malam pertama yang menurut banyak orang adalah momen mendebarkan dan penuh kenangan, justru menjadi malam paling menyedihkan untuk dirinya.

Sakura berdiri dan menatap lama Randy yang sedang berbaring menghadap tembok. Perlahan ia mendekat, sekelebat pikiran buruk melintas di kepalanya.

"Randy ...," bisiknya, tepat di telinga suaminya.

"Aku lelah, kau juga pasti lelah. Tidurlah," kata Randy sambil beringsut menjauh.

Sakura mendesah kesal. Ia bersandar dan pikirannya menerawang jauh entah ke mana. Berulang kali ia menoleh ke arah sang suami, bermacam tebakan gila muncul di benaknya.

Batinnya terus menerka-nerka, "Mungkinkah Randy ...."

Sakura menggeleng cepat, menepis pikiran yang menurutnya tak beralasan itu.
Mungkin ia hanya sedang lelah. Begitu pikirnya.

Dengan kegelisahan yang menggantung itu, Sakura memejamkan mata dan berlari menuju lelap. Dengan harapan, esok malam apa yang ia nantikan itu akan terjadi.

🌸🌸🌸

Sakura menggeliat pelan saat cahaya mentari jatuh menimpa wajahnya, matanya masih enggan terbuka. Ia baru bisa tertidur lelap pukul dua tadi malam.

"Ran, tolong tutup tirainya," ucap Sakura pelan. Ia masih ingin tidur lebih lama. Lagi pula, mereka kan pengantin baru, sudah sewajarnya berdiam diri di kamar seharian, terlebih ini adalah hari pertama mereka menjadi pasangan suami-istri.

"Aku akan keluar."

Sakura membuka mata mendengar ucapan Randy. "Keluar? Ke mana?" tanyanya sambil menoleh cepat ke arah Randy. Pria itu sudah sangat rapi, dengan kemeja cokelat muda dan aroma mint yang menggelitik perut Sakura.

"Ada klien yang datang dari Jepang, aku harus menemui mereka di hotel. Ada perjanjian investasi yang harus selesai hari ini." Randy tampak dingin menanggapi pertanyaan istrinya. Ia bahkan tak terganggu dengan air muka Sakura yang jelas menunjukkan keberatan.

"Bukankah kau masih cuti?" tanya Sakura dengan nada lemah. Apa yang akan orang pikirkan tentangnya setelah ini? Pertanyaan itu muncul dengan sendirinya.

"Ya, aku cuti. Tapi klien tetap harus aku temui, aku kan tidak ke kantor."

"Berapa lama?"

"Entahlah, aku pulang sebelum makan malam."

"Aku akan menunggu untuk makan malam," ucap Sakura lemah. Ia tidak tahu harus menanggapi apa dan bagaimana, melihat sikap suaminya itu.

"Aku pergi dulu." Randy mendaratkan kecupan tipis di bibir Sakura.

Hanya satu kecupan dan letupan yang menyiksa muncul di dalam diri Sakura. Berbeda dengan tadi malam, kali ini rasanya lebih menyiksa.

Setelah Randy pergi, Sakura tetap berada di ranjang. Ia tampak tak bersemangat untuk melakukan apa pun. Belum ada pembicaraan bulan madu antara ia dan Randy. Pria itu sungguh berubah menjadi sosok yang sangat dingin, berbeda dengan Randy yang ia kenal dulu, Randy yang selalu hangat dan mesra.

Keduanya menjalin hubungan selama dua tahun. Randy, pria berwajah manis khas suku Jawa, dengan kulit kuning langsat yang selalu menguarkan aroma mint. Pria 31 tahun itu bekerja sebagai pengacara pribadi bagi beberapa perusahaan rokok di Indonesia. Tidak jarang, ia menjadi konsultan untuk investor asing.

Sementara Sakura adalah seorang travel blogger, ia hoby berkeliling Indonesia juga beberapa Negara terdekat dengan Indonesia. Berkat kelihaiannya mengelola blog dengan baik, tidak jarang pula wanita yang baru berusia 25 tahun itu dicari-cari oleh wisatawan asing untuk menjadi pemandu wisata. Tentu saja dengan bayaran yang tidak murah, karena ia sudah menjelajah seluruh Indonesia, maka pengetahuan yang dimiliki tak perlu diragukan lagi.

Ia bertemu dengan Randy di Perpustakaan Nasional, saat itu dirinya tengah mengantarkan beberapa buku wisata. Pertemuan pertama itu dirasa sangat berkesan oleh keduanya, bagi Randy itu adalah momen paling manis. Berkenalan dengan gadis yang tidak sengaja tertabrak olehnya di parkiran.

Sakura bersandar di tepi ranjang, matanya menatap langit-langit dengan pertanyaan yang masih sama. Ia butuh teman bercerita, tapi memilih untuk menyimpan semuanya sendiri. Ia tidak mau ada kekurangan dalam rumah tangganya yang diketahui oleh orang lain. Tidak keluarganya atau keluarga Randy, tidak juga teman-teman terdekatnya atau bahkan Rania, sahabat terbaiknya.

Sakura banyak belajar, bahwa kekurangan pasangan bukanlah sesuatu yang boleh dibawa keluar dari hatinya. Ia harus menghadapi semuanya sendiri, agar harga diri suami tetap terjaga di mata semua orang.

"Apa yang kau sembunyikan dariku, Ran?" Sakura merasakan napasnya sesak. Ditepisnya kemungkinan bahwa Randy memiliki kelaikan seksual atau semacam penyimpangan. Karena ia tahu, Randy adalah lelaki normal. Dua tahun menjalin hubungan, Sakura juga merasakan saat sesekali Randy terlihat menahan hasrat lelakinya ketika mereka sedang berdua.

Ya, kecupan-kecupan hangat yang terjadi saat merek masih berpacaran membuat Sakura sangat yakin, bahwa Randy tidak mungkin menyimpang.

"Agh ...!" Dibenamkannya wajah ke bantal, ada sesuatu yang dirasa mengganjal di hati Sakura. Namun ia tidak tahu, apa yang salah dan apa yang harus diselesaikan.

Ponselnya berdering saat Sakura sedang meringis geram di antara bantal. Sigap ia melompat turun dari ranjang dan berlari meraih telepon genggam dari meja kerjanya.

"Halo, Rania!" serunya saat dilihat nama Rania yang tertulis di layar datar ponselnya.

"Bagaimana malam kalian, pengantin baru?" Sahabatnya itu selalu menggoda bahkan sejak mereka berencana menikah.

"Kau ini, malam kami biasa saja," ucap Sakura sambil meremas ujung piamanya.

"Apa maksudmu dengan biasa saja?" Nada bicara Rania seperti terkejut mendengar jawaban Sakura.

"Maksudku, seperti pengantin baru pada umumnya. Kau tahu apa yang kumaksud."

"Aku lupa, seharusnya kuletakkan kamera tersembunyi di kamar kalian," ucap Rania sambil tertawa.

"Kau gila, Rania."

"Di mana Randy?"

"Sedang keluar, ada klien yang tidak bisa menunggu sampai cutinya usai," jawab Rania jujur.

"Beruntung sekali kau mendapatkan pria sepertinya, gigih dalam bekerja. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu," ucap Rania tulus.

"Kau benar. Terima kasih, Rania."

"Baiklah, aku hanya ingin memastikan kalau kau masih hidup setelah melewati malam mendebarkan."

"Huh, kau ini."

Cepat-cepat Sakura menutup teleponnya. Ia takut, jika terlalu lama berbincang dengan Rania, maka semua yang dipikirkannya akan tertumpah ruah tanpa jeda. Hanya Rania yang selalu siap mendengar setiap keluhnya yang meresahkan. Namun kali ini, ia tahu bahwa beban itu harus ditahannya sendiri.

🌸🌸🌸

Pukul tujuh, Sakura sudah bersiap dengan riasan tipis dan cocktail dress berwarna merah yang menampakkan leher jenjangnya. Di meja makan telah siap bermacam menu yang ia masak sendiri, cumi bakar kesukaan Randy tampak nikmat ia tata di atas piring. Pria itu selalu menggilai masakannya sejak dulu.

Sakura adalah wanita yang sangat mandiri. Ia juga sudah memiliki rumah sendiri, sebelum menerima lamaran Randy, ia memberi syarat bahwa keduanya harus tinggal di rumahnya setelah menikah. Randy memang belum memiliki rumah, selama ini pria itu tinggal di apartemen, dan Sakura tidak pernah suka menetap di gedung yang lebih mirip indekos berukuran besar itu.

Selain itu, ia jadi tidak bisa memasak dengan bebas, karena aromanya akan mengganggu penghuni lain.

Berulang kali Sakura melirik jam dinding yang gerak detiknya terdengar nyaring. Namun, Randy masih belum kembali. Lilin di meja mulai habis separuh, bahkan asap cumi di piring pun sudah tak tampak lagi.

Entah sudah berapa kali pula ia menguap, menunggu suami yang berjanji akan pulang sebelum makan malam.

Tepat pukul sembilan, lelah dan kantuk tidak bisa lagi ia tahan. Sakura tertidur di meja makan, berbantalkan lengan dan membiarkan tubuhnya kedinginan.

Dua jam berlalu, Randy pulang dan mendapati sang istri tertidur dengan tampilan sempurna. Ada gelora tak biasa yang ia tahan seperti kemarin malam.

Pelan, diangkatnya tubuh ramping Sakura ke kamar. Dengan lembut ia membaringkan wanita yang sangat dicintainya itu di ranjang, menutup tubuh indahnya dengan selimut lalu mengabaikannya.

Ada perih yang melintas di hati Randy saat dengan keras ia harus mengabaikan istrinya.

BERSAMBUNG 🌸

Ri Rie

Jakarta, 11 Februari 2018