Ri Rie
Ri Rie Penulis

Pikiran baik, perkataan baik, perbuatan baik. Insya Allah yang datang selalu yang baik 🐰

Selanjutnya

Tutup

Novel

Wanita Penghuni Surga (Cerbung)

10 Februari 2019   22:43 Diperbarui: 10 Februari 2019   23:10 26 2 2

Bagian 1 - Menuju Masa Lalu

Bukan perihal arah yang salah membawa langkah, tapi luka yang tampak tak berdarah, benar-benar bisa membuat seseorang marah hingga melupakan Rabb-nya.

Ialah Andrea, gadis muda yang sukses, memiliki wajah cantik nyaris sempurna bagi sebagian orang. Otak yang teramat cerdas, selalu bermain dengan logika. Hidup seorang diri, karena kedua orangtuanya sudah tiada sejak ia masih balita.

Andy, begitu ia biasa disapa, sukses dengan kerja kerasnya. Seorang desainer yang namanya dikenal baik dalam maupun luar negeri. Berbagai ajang fashion ia ikuti, dengan keahliannya dalam melahirkan model busana, namanya kian diperhitungkan di dunia fashion. Meski usianya masih terbilang muda, 27 tahun.

Tidak ada yang tahu bagaimana gadis itu memulai karirnya, selain karena tertutup, Andy juga bukan tipe orang yang senang membagi proses hidupnya. Baginya, masa lalu sebaik dan seburuk apa pun letaknya tetap di belakang. Tertinggal jauh saat kaki mulai melangkah maju dan mengejar masa depan.

Sayang, kehidupan sempurna Andy tidak seindah yang terlihat. Gadis itu adalah seorang ateis, tidak percaya akan Tuhan dan bagi sebagian orang disebut sesat.

"Andy ...!"

Gadis itu menghentikan langkah. Kepalanya berputar untuk melihat siapa yang memanggilnya.

"Rose?"

Kedua alis Andy bertaut, ia tidak percaya, teman lamanya kini ada di hadapannya. Terakhir yang ia dengar orangtua gadis sombong itu bangkrut beberapa tahun yang lalu. Entah apa yang membuatnya terdampar di sini.

"Hey, bagaimana kabarmu?" Gadis bernama Rose itu kini sudah berdiri di hadapannya. "Aku dengar, seluruh negeri akan menunjukkan fotomu jika ada yang bertanya 'siapa Andrea Murphy?' Benarkah begitu?" Gadis bermata cokelat itu tertawa sambil merapikan rambutnya yang menutupi mata.

Andy tahu gadis itu tidak sedang mengaguminya. "Jangan berlebihan. Kalau kau bertanya kepada pekerja di rumahku, maka mereka akan melakukannya. Tapi tidak jika di tempat lain." Andy mengusap keringat yang baru saja mengalir di keningnya.

"Apa kegiatanmu sekarang?" Rose mencoba kembali berbasa-basi dengannya. Tampak berbeda dengan beberapa tahun silam, Rose adalah gadis angkuh dan selalu bersikap seperti seorang Ratu, sekarang gadis itu sedikit lebih ramah. Entah apa sebabnya.

"Seperti yang kau tahu, aku hanya menggambar dan mewarnai di atas kertas." Andy meneruskan langkah perlahan. Biasanya ia tidak senang jika ada yang mengganggu ritual lari paginya. Tapi itulah resiko saat seseorang berlari di tempat umum.

"Kalau kau tidak sibuk hubungi aku. Kita makan siang bersama." Rose memberikan kartu nama kepada Andy. "Luangkan sedikit waktu untuk bersenang-senang," lanjutnya.

"Baiklah, terima kasih." Andy meraih kartu nama yang Rose berikan.

Rose adalah teman semasa sekolah menengah pertama dulu, waktu itu Andy masih hidup dengan bantuan Negara. Sementara Rose adalah putri dari pengusaha kaya. Hidupnya bergelimang harta, hampir di setiap sudut jalan nama perusahaan ayahnya berada di papan iklan.

Sejak lulus sekolah mereka tidak lagi saling bertemu. Yang terakhir terdengar adalah Rose melanjutkan sekolah menengah atasnya di Negeri Kincir Angin sana. Sementara Andy, masih dengan beasiswa melanjutkan sekolah menengah atas. Ia sekolah sambil bekerja, hobinya menggambar ia jadikan sebagai peluang. Ia hebat dalam melukis objek hidup atau sekadar imajinasi, sejak saat itu ia mencoba menggambar berbagai model pakaian, hingga suatu hari seorang desainer ternama melihat hasil kerjanya, orang tersebut bersedia memberi beasiswa sekolah desain untuk Andy. Sungguh benar adanya, saat kamu terjatuh akan selalu ada tangan yang membantu.

Namun sayang, Andy tidak percaya terhadap keberuntungan. Yang ia tahu, semuanya adalah hasil kerja keras tanpa campur tangan Tuhan atau takdir kehidupan.

***

"Lea, tolong ambilkan buku sketsa lama milikku."

Tak lama lagi Andy akan meluncurkan beberapa rancangan terbarunya. Ia selalu memberi tanda pada semua desain lamanya, mana yang banyak terjual dan mana yang tidak, ia juga akan belajar dari kegagalannya itu. Meski bukan sepenuhnya kegagalan, justru bagi orang lain itu adalah keberhasilan. Namun, Andy memiliki target, jika tidak tercapai maka sama dengan gagal. Baginya kegagalan terjadi karena kesalahan dirinya sendiri.

"Andy, aku sudah memesan tiket." Reno menyerahkan selembar kertas kepadanya. Reno adalah assisten pribadi Andy, sejak pertama kali gadis itu menapaki karir, Reno sudah berada di sisinya. Tapi sayang, lelaki itu terlalu gemulai di mata Andy. Jika tidak, mungkin Andy akan jatuh cinta padanya.

"Dalam rangka apa kau kembali ke Indonesia?" Reno yang merasa heran, mengapa Andy ingin kembali padahal sudah bertahun-tahun ia memilih Jepang sebagai tempatnya tinggal. Menetap tanpa berpikir untuk meninggalkan Negeri Sakura itu.

"Aku ada pekerjaan di sana selama dua pekan," jawab Andy sambil terus menekuni sketsanya. "Lagipula, aku memang harus kembali 'kan? Di sana aku lahir."

Andy mengingat kembali kepahitan yang ia tinggalkan di negeri kelahirannya itu.

Ketika semua yang ia cintai pergi meninggalkan dirinya sendiri, Ayah dan Ibu yang bahkan tak ia ingat seperti apa wajah mereka, juga masih banyak kepahitan yang ia rasakan di sana. Bagaimana bisa ia percaya bahwa Tuhan ada, jika semua yang dicintainya pergi begitu saja? Pusat kebahagiaannya lenyap. Itu yang selalu ada di pikirannya.

Lalu ia memilih Jepang sebagai tempat untuk menetap, bukan tanpa alasan. Negeri itu tidak pernah mempertanyakan siapa Tuhan seseorang atau apa agamanya. Andy merasa lebih baik hidup di tengah orang-orang dengan faham yang sama seperti dirinya.

"Andy!" Reno menepuk pundaknya, membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. "Aku mau keluar. Hubungi aku jika kau butuh sesuatu." Lelaki gemulai itu keluar, meninggalkan Andy sendiri.

Setelah yakin beberapa pekerjaannya selesai, Andy membereskan barang-barangnya. Ia melihat beberapa lembar dokumen, membaca ulang dan memasukkannya ke dalam tas. Ia memastikan semua sudah tertata dan besok bisa pergi dengan tenang. Andy adalah gadis yang selalu ingin semuanya sempurna, ia tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun.

"Lea, aku mau istirahat. Besok aku akan berangkat pagi, kalau sudah selesai kau pulanglah, sudah malam."

"Sedikit lagi." Lea melambaikan tangan ke arah Andy. Lea adalah desainer muda yang ia pekerjakan, sebenarnya Andy tidak butuh rekan, tapi gadis dua puluh tahun itu setiap hari mendatangi Andy untuk mendapat pekerjaan. Dengan beberapa pertimbangan akhirnya ia menerimanya.

***

Pesawat yang membawa Andy mendarat di Bandara Kota Jakarta. Debar di dadanya terasa begitu kuat, sedikit mengganggu karena ia dapat mendengar degup jantungnya dengan jelas. Sendi kakinya mulai terasa lemas tatkala mentari menyilaukan pandangannya.

"Indonesia." Gadis itu bergumam. Tidak pernah menyangka ia akan kembali ke negerinya.

Tujuan utama adalah Kota kelahirannya, Bandung. Di sana kedua orangtuanya dimakamkan. Kedua orangtuanya bukanlah penganut Atheis seperti dirinya, hanya saja memang tidak ada yang mengajarkan kepadanya bagaimana hidup beragama. Setelah mereka meninggal, Andy diasuh oleh tantenya, seorang pemabuk. Jangankan Tuhan, bahkan dirinya sendiri saja ia tidak kenal. Jangan pertanyakan orang lain, karena tidak ada yang peduli bagaimana nasib anak itu dulu. Ia hanya memiliki keinginan kuat untuk hidup, itulah satu-satunya alasan kenapa ia masih bertahan sampai saat ini.

Dari Bandara Andy menyewa mobil menuju Kota Kelahirannya. Kurang dari enam jam, akhirnya ia tiba di depan sebuah rumah. Kumuh dan tidak seperti rumah. Di sana ia dulu dilahirkan. Di sebuah kamar berukuran tiga meter persegi.

Ia tidak berniat masuk dan memperbaiki rumah itu, alasan kedatangannya kesini adalah untuk memastikan, berapa harga jual yang pantas untuk tanah dengan ukuran kurang dari tiga puluh meter persegi itu. Gadis itu akan menjualnya, dia benar-benar ingin menghapuskan semua sisa kenangan di sana.

Setelah yakin mendapatkan harga yang pas, ia kembali ke mobil dan menuju sebuah Villa di Lembang. Tempat yang cocok untuk orang sepertinya, menyendiri dan tidak mencolok. Ia berdiri di halaman rumah kayu itu, melihat begitu banyak macam bunga yang sedang mekar di halaman.

"Assalamu'alaikum."

Andy melihat ke arah suara. Seorang pria paruh baya dengan kopiah di kepalanya. Tidak menjawab, gadis itu hanya menundukkan sedikit kepalanya dan memberi senyum tipis.

"Neng Andrea?" Pria itu bertanya dengan logat sunda yang kental. "Saya Rohim, Neng. Yang ngurusin Villanya. Neng mau langsung ke kamar atau mau dianterin keliling dulu?"

"Saya langsung ke kamar saja, Pak."

"Panggil Mamang saja, kalau Bapak mah untuk pejabat. Hayu atuh ku Mamang dibawain kopernya." Pria itu meraih koper besar dari tangan Andy.

"Terima kasih." Andy melangkah mengikuti Mang Rohim. Sesekali ia mengedarkan pandangan, melihat isi Vila yang tampak biasa saja, tapi cukup istimewa menurutnya. Tidak terlalu besar, sesuai dengan iklan yang ia baca. Hanya memiliki tiga kamar dengan kolam renang di belakangnya. Bangunan terbuat dari kayu, begitu pula lantainya. Membuat seluruh ruangan terasa hangat, padahal di luar cukup dingin tadi.

"Ya udah, Neng Andrea istirahat dulu aja. Mamang mau bersihin halaman, kalau Neng butuh apa-apa, teriakin aja nama Mang Rohim. Nanti langsung muncul."

Andy tersenyum mendengar lelucon Mang Rohim. "Panggil Andy saja, Mang."

"Jauh, ya, namanya Andrea panggilannya Andy. Padahal mah bagus namanya Andrea. Cocok sama mukanya, arab kebarat-baratan kitu. Komo deui tah idungnya ampun meuni mancung pisan." Logat sunda yang begitu kental membuat Andy tersenyum. Sudah lama ia tidak bicara bahasa sunda, hanya artinya yang ia tahu, bagaimana cara mengucapkannya ia tidak mengerti.

"Ya udah atuh istirahat dulu aja. Permisi, Neng."

"Terima kasih, Mang."

Andy duduk di dekat jendela, melihat jauh ke tengah pepohonan. Tidak terasa senyumnya mengembang, kembali ke kota kelahiran. Tidak terpikirkan sebelumnya.

Ia menyentuh hidung tatkala bayangan wajahnya muncul dari kaca jendela. "Benarkah aku seperti orang barat atau arab?" Begitu pikirnya. Andy memang memiliki wajah campuran. Ayahnya keturunan Belanda yang lahir di Jawa dan ibunya gadis sunda asli. Itulah mengapa wajahnya sangat cantik, hidung mancung dengan mata bulat menarik.

Di bawah ia melihat Mang Rohim bicara dengan seorang lelaki muda. Memakai kopiah putih dengan setelan koko biru tua. Sepertinya Mang Rohim sedang membicarakan dirinya. Terbukti, pemuda itu baru saja melihat ke jendela kamarnya.

Andy beranjak dari jendela, meski ia tahu orang di luar tidak akan melihat keberadaannya. Tapi perasaan tak nyaman membuatnya memilih untuk menghindar.

B E R S A M B U N G

Penulis: Ri Rie