RH Notes
RH Notes

Pegawai, Praktisi, Pengajar Bidang Manajemen SDM dan Kepemimpinan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

"Pandora's Box"

20 Januari 2018   15:49 Diperbarui: 21 Januari 2018   10:02 719 1 0
"Pandora's Box"
Ilustrasi Pandora's Box

Ini adalah kisah seorang karyawati Pabrik bernama Pandora, yang memiliki ambisi sebagai wanita karir yang sukses.

Dahulu ia adalah gadis biasa yang pada umumnya punya banyak teman wanita. Setiap malam ia dan teman-temannya biasa berkumpul untuk makan malam bersama sekaligus bercerita tentang hari-hari mereka. Bebagi tawa dan berbagi kesedihan. Saat-saat berkumpul dengan teman terdekat serasa begitu bahagia.

Seiring berjalannya waktu, masa-masa bahagia itu harus pudar karena ia beranjak dewasa. Pandora dan teman-temannya mulai memasuki dunia kerja. Kebetulan Pandora melamar pada sebuah Pabrik Sepatu. Tugasnya adalah membuat rancangan sepatu. Sebelum diangkat sebagai Karyawati Tetap, ia harus menjalani masa percobaan selama 3 (tiga) bulan.

Sayang sekali, saat itu keadaan Pabriknya sedang kurang baik. Penjualan sepatu menurun. Kondisi perusahaan terancam bangkrut. Kepala Pabrik terpaksa harus memecat beberapa karyawan dan karyawati senior yang dianggap kurang produktif. Kepala Pabrik mengatakan bahwa jika kondisi pabrik tidak membaik, maka akan ada lagi karyawan yang akan menyusul di PHK. 

Melihat situasi tersebut, Pandora merasa terancam dan ia merasa harus bekerja keras agar tetap dapat bertahan di Pabrik tersebut dan mampu memiliki karir yang baik.

Tanpa ia sadari, saking memprioritaskan pekerjaannya, tak jarang ia sering lembur untuk menyelesaikan rancangan sepatu baru. Pertemuan rutin malam hari dengan teman-temannya jarang ia hadiri. 

Bahkan saat ada teman baiknya berulang tahun, ia pun tak sempat menghadirinya. Ia pulang kantor selalu dalam keadaan letih dan sakit kepala. Pekerjaan rumah seperti mencuci baju dan membuang sampah sering ia lupakan.

Saat ia tak dapat bergabung pada pertemuan rutin malam hari dengan teman-temannya, salah satu teman baiknya mengingatkannya, "Pandora, kami tahu bahwa pekerjaan itu penting bagi mu, tetapi jangan engkau lupakan juga perhatian mu pada pertemanan kita. Engkau juga berhak untuk bahagia, berkumpul dengan kita seperti biasanya". 

Namun saat itu Pandora dalam keadaan letih dan stress memikirkan pekerjaannya hanya berkata "Saat ini aku tak punya alasan untuk bahagia lagi, saat ini aku harus bekerja keras untuk kebahagiaan ku di masa depan"

Hari-hari Pandora dilalui dengan kerja keras, berangkat pagi, pulang malam. Tak terasa 3 (tiga) bulan telah berlalu. Kepala Pabrik memanggil Pandora. Pandora pun cemas sekali apakah ia akan diberhentikan atau diperpanjang masa percobaannya. Ternyata hari itu Pandora mendapatkan Kontrak Kerja. Ya.... Hari itu ia telah diangkat sebagai karyawati tetap.

Namun saat Pandora menerima surat pengangkatanya, Kepala Pabrik mengatakan "Pandora, kau tau kan kondisi Pabrik sedang tidak baik, tidak mudah bagi saya untuk mengangkatmu sebagai karyawati tetap disini, jadi kau harus bekerja lebih keras lagi mulai saat ini, dan jangan ragu untuk bekerja lembur ya?". Dengan spontan, Pandora pun menjawab "Baik Pak".

Pada hari itu, perasaannya campur aduk, antara senang dan takut. Senang karena kebutuhan dasar manusia, yaitu sandang, pangan, papan dapat terpenuhi. Takut karena sebagai karyawati tetap ia dituntut lebih bekerja keras dan lembur. Yang artinya ia semakin tak punya waktu untuk berkumpul dengan teman-temannya. Kebutuhan psikologis nya terasa terganggu.

Teori Motivasi Maslow
Teori Motivasi Maslow
Pandora merasakan ia seperti membuka kotak Pandora, yang dalam mitologi yunani adalah sebuah hadiah yang terlihat sangat berharga, namun isinya adalah sesuatu masalah yang tak terduga atau sebuah kutukan. 

Dalam kisah yunani, saat kotak dibuka, yang keluar adalah para iblis yang mengacau dunia. Namun di dasar kotak masih ada yang tersisa, yaitu harapan.

Kisah Pandora ini banyak sekali dijumpai oleh para pekerja yang sedang/baru meniti karir. Saat mereka belum dewasa (masih ikut orang tua), mereka mudah bahagia karena kebutuhan dasar mereka telah dipenuhi oleh orang tua mereka. Mereka banyak mengejar kebutuhan psikologis dan kebutuhan pemenuhan diri sendiri. 

Namun saat mereka meniti karir, menjadi orang yang mandiri. Mereka harus memulai dari awal. Memulai dari memenuhi kebutuhan dasar mereka. Tak jarang harus mengorbankan kebahagiaan psikologis dan pemenuhan diri yang sudah mereka raih.

Seperti kisah Pandora, di dasar kotak, selalu ada harapan. Harapan untuk meraih apa yang diinginkan setiap manusia. Sebuah kebahagiaan. Bagaimana meraihnya, adalah bagaimana kita mampu membagi waktu dengan adil dan tidak terjebak hanya disebuah titik.