Mohon tunggu...
Rhea Griselda
Rhea Griselda Mohon Tunggu... Universitas Kristen Petra

Halo nama saya Rhea Griselda! :) Jurusan Desain Interior di Universitas Kristen Petra Surabaya angkatan 2018. Hobi saya yaitu traveling, fotografi, menyanyi, dan menggambar. Semoga artikel-artikel saya bermanfaat! :)

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama Pilihan

Mengejutkan! Ini 5 Fakta Unik Gereja Baroque Tertua di Filipina

8 April 2021   17:34 Diperbarui: 11 April 2021   18:11 150 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengejutkan! Ini 5 Fakta Unik Gereja Baroque Tertua di Filipina
Bagian Depan Gereja San Agustin (Sumber: Rhea Griselda, Universitas Kristen Petra)

Gara-gara Covid jadi nggak bisa jalan-jalan? Siapa bilang? Yuk jalan-jalan online!

Jalan-jalan online kali ini, kita bakal pergi ke Gereja Katolik San Agustin yang merupakan gereja batu Baroque tertua yang terletak di Metro Manila, Filipina. Gereja ini dibangun pada tahun 1595 yang resmi dikenal sebagai "Church of Immaculate Conception of San Agustin". 

Tahun 1993, Gereja San Agustin ditetapkan menjadi Situs Warisan Dunia oleh UNESCO di bawah deklarasi serial gereja-gereja Baroque bersama dengan beberapa gereja lainnya seperti Gereja Paoay di Ilocos Norte dan 2 gereja lainnya. Selain menjadi tempat beribadah, di dalam gereja ini juga terdapat museum dan makam, lho! Yuk simak lebih dalam tentang sejarah dan 4 fakta menarik dari Gereja San Agustin berikut:

(Sumber: Rhea Griselda, Universitas Kristen Petra)
(Sumber: Rhea Griselda, Universitas Kristen Petra)

1. Menjadi Saksi Bisu dari Naik Turunnya Filipina

Pembangunan gereja dimulai pada tahun 1587 dan selesai dibangun pada tahun 1607 oleh Juan Marcias sebagai arsiteknya dan di bawah naungan Romo dari Ordo Agustinian, Francisco de Bustos, Ildefonso Perez, dan Diego de Avila serta Frater Alonso de Perea. Gereja ini awalnya dibangun dengan material nipa dan bambu. Sehingga pada tahun 1574, saat seluruh kota dibakar oleh bajak laut dari Cina, Lim Hong, Gereja San Agustin pun ikut terbakar. Lalu dilakukan renovasi dengan menggunakan material batu adobe.

Monumen Peringatan Perang Dunia II (Sumber: Rhea Griselda, Universitas Kristen Petra)
Monumen Peringatan Perang Dunia II (Sumber: Rhea Griselda, Universitas Kristen Petra)

2. Kokoh Meskipun Dihantam Bencana

Setelah gereja  mengalami renovasi pada tahun 1586, Filipina mengalami gempa bumi pada tahun 1645 namun bangunan gereja tidak runtuh. Pada tahun 1762, Gereja San Agustin berhasil bertahan melalui Invansi Inggis. Setelah itu gereja ini juga melewati perang antara Spanyol-Amerika pada tahun 1898. Tidak hanya itu, pada tahun 1942, Gereja San Agustin juga bertahan pada saat Perang Dunia ke II dari pasukan Jepang. Pada saat itu, Jepang mengubah gereja menjadi kamp bagi para tahanan dan menyandera para pendeta dan ratusan penduduk di dalam gereja. Perang Dunia II memakan banyak korban sehingga di dalam Gereja San Agustin terdapat sebuah monumen untuk mengenang kejadian tersebut.

Interior Gereja San Agustin (Sumber: Rhea Griselda, Universitas Kristen Petra)
Interior Gereja San Agustin (Sumber: Rhea Griselda, Universitas Kristen Petra)

3. Interior Gereja yang Sungguh Megah (dan Misterius)

Dilansir dari Vigattin, Gereja San Agustin memiliki panjang 67,15 meter dan lebar 24,93 meter. Memiliki bentuk pondasi elips sehingga membuat gereja ini tetap kokoh walaupun terjadi banyak gempa bumi yang telah menghancurkan banyak gereja Manila yang lainnya. Desain gereja ini merupakan adopsi dari gaya gereja-gereja yang dibangun oleh orang-orang Augustin di Meksiko. 

Walaupun bentuk fasad-nya sederhana dan bahkan dikritik sebagai "kurang keagungan dan pesona", namun gereja ini memiliki sentuhan gaya Baroque yang sangat menonjol, terutama ukiran hiasan pada pintu kayunya. 

Halaman gereja dihiasi oleh beberapa patung granit singa yang telah dihadiahkan oleh orang-orang Tionghoa yang beralih ke Katolik pada masa itu. Interior gereja berbentuk salib Latin serta memiliki 14 kapel di samping-sampingnya. Lalu terdapat lukisan atau trompe-l'il pada ceiling dibagian utama gereja yang dilukis pada tahun 1875 oleh seniman Italia yang bernama Cesare Alberoni dan Giovanni Dibella. 

Di bagian loteng paduan suara terdapat kursi molave abad ke-17 yang diukir dengan tangan dan bermaterialkan kayu keras tropis serta terdapat organ dari abad ke-18.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN