Mohon tunggu...
Bloor
Bloor Mohon Tunggu... Lainnya - Masih dalam tahap mencoba menulis

Tertarik pada pusaran di sekeliling lapangan sepak bola. Belajar sejarah bukan untuk mencari kambing hitam

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Tetap Menjadi Kanak-kanak Bersama One Piece dan Eiichiro Oda

24 November 2021   07:25 Diperbarui: 24 November 2021   07:29 592
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Halaman baerwarna One Piece chapter 628 jauh sebelum Jinbei bergabung (Eiichiro Oda/Shonen Jump/Shueisha)

Baru-baru ini adaptasi animasi One Piece baru saja merayakan perilisan episode ke-1000nya. Sejak dimulai dari penayangan perdananya di tahun 1999 jelas lebih banyak urusan sentimentilnya dibanding isi episode 1000 itu sendiri. Secara jalannya cerita episode 1000 tidak spesial-spesial amat, Kaido masih belum kalah dan pemerintahan dunia masih langgeng. Memang bagi para nakama, ini semua tentang milestone.

Apresiasi tak lain harus ditujukan kepada Eiichiro Oda sendiri sebagai sang empunya One Piece. Dedikasi 20+ tahun jelas bukan omong kosong dan kemampuannya masih belum menumpul untuk menopang beban 1000+ chapter manga yang masih bertumbuh. Tapi ada satu sisi yang bagi saya membuat Oda-sensei istimewa dalam racikannya, selalu mengajak pembacanya menjadi anak kecil.

Masa paling indah sepanjang hidup manusia tentulah masa kanak-kanak. Tak ada beban hidup, tekanan dari lingkungan sosial, dan tertawa riang setiap saat. Sepertinya premis ini menopang keseluruhan sendi humor di One Piece. Lihat saja Luffy yang hingga kini seperti remaja belum puber yang hanya memikirkan caranya menjadi raja bajak laut sekaligus bersenang-senang dengan para nakama.

Fragmen chapter 634 (Eiichiro Oda/Shonen Jump/Shueisha)
Fragmen chapter 634 (Eiichiro Oda/Shonen Jump/Shueisha)

Dia baru risau ketika ada rekannya yang diusik atau diremehkan. Menjadi hero bukanlah obsesinya, baginya pahlawan adalah orang yang mau berbagi daging dengan orang lain, sedangkan dirinya tak mau berbagi daging dengan siapapun. Sungguh pikiran polos anak kecil yang tak mau berbagi barang kesukaannya.

Hal yang sama hampir diterapkan Oda di semua karakter di One Piece. Seperti Usopp yang gemar berbohong demi kelihatan kuat hingga sekelas Aokiji yang bisa tertidur sambil berdiri. 

Mungkin beberapa karakter super serius macam Rob Lucci bisa terselamatkan dari ide kekanakan Oda-sensei. Saya membayangkan Oda-sensei yang sekarang sudah paruh baya masih mempertahankan imajinasi kanak-kanaknya dan One Piece tak lain adalah sarananya mengkhayal.

Kemudian kita mencermati bahwa tak ada pihak antagonis yang kalah karena bertaubat setelah mendengar khotbah inspiratif Luffy. Semua ia hajar, mulai dari perwira Marine macam Kapten Morgan, antek pemerintah seperti Gecko Moria, sampai Usopp ketika menentang keputusannya untuk mempensiunkan Going Merry.

Apakah itu tak terlalu kasar mengingat tak semua permasalahan harus diselesaikan dengan baku hantam?. Sayangnya itu pikiran kita saja ketika semakin menua. Anak kecil dari lipatan bumi mana yang suka diceramai atau bernegosiasi ketika mainannya dirusakkan temannya. Ya, tak semua permasalahan harus diselesaikan dengan diplomasi dan khotbah.

Tapi di sisi lain Oda-sensei menunjukkan hal kekanakan lainnya. Dimana anak-anak akan gampang berkelahi tapi juga dengan mudahnya akan kembali berteman. Skil merubah lawan menjadi kawan adalah keistimewaan Luffy yang diamini Mihawk Si Mata Elang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun