Mohon tunggu...
Breaking Reza
Breaking Reza Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Penulis buku antologi Kebun Bunga Itu Telah Kering

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Belajar Bersyukur untuk Tetap Menghargai Kehidupan

4 Juli 2021   16:22 Diperbarui: 4 Juli 2021   21:26 459
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto: Masjid Lambaroangan, Aceh Besar (Dokpri)

Alhamdulillah, masih diberi napas, masih diberi umur, masih diberi kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Bukankah nikmat ini terasa begitu berharga?

Alhamdulillah, masih dapat melihat, masih mampu berbicara, masih bisa bergerak, masih diberi kesehatan. Bukankah nikmat ini terasa begitu berharga?

Alhamdulillah, masih dapat bertemu dengan kerabat, masih dapat melakukan aktivitas, masih mampu untuk berpikir menyelesaikan segala permasalahan yang ada. Bukankah ini nikmat yang begitu nyata?

Alhamdulillah, masih dalam keadaan terkontrol meskipun terkadang perasaan buruk hampir selalu mempengaruhi hati untuk menimbulkan aura-aura negatif. Tapi hingga saat ini kita masih mampu mengendalikan emosi negatif dengan tetap berjuang dan melawan. Sehingga, walaupun ada sedikit perasaan depresi atau sejenisnya, kita masih mampu menahan lajunya. Bukankah nikmat ini memang sangat berharga?

Lalu kenapa terkadang kita malah berpikir bahwa kita-lah seorang yang hidup dalam beban yang cukup berat. Padahal, jika mata dan hati mampu melihat serta merasakan jauh lebih dalam, ada orang lain yang punya beban hidup lebih berat dari kita.

Tapi tetap saja, kenapa kita seolah terpaku untuk bergerak, melawan ketidakberdayaan, dan tak pernah sedikitpun ingin untuk keluar dari situasi sulit ini?

------------------//-------------------

Penulis percaya bahwa penyakit mental atau perasaan-perasaan negatif yang muncul di dalam hati, memang berperan aktif untuk menghancurkan kehidupan setiap manusia. Depresi, putus asa, gelisah, trauma, dan lainnya tak dapat dipungkiri merupakan salah satu musuh terbesar dalam diri seseorang. Perasaan-perasaan tersebut seakan menjadi momok yang menakutkan, mimpi buruk yang sangat ditakuti, musuh yang memang harus dilawan.

Tidak mudah untuk terus hidup di bawah tekanan batin. Semakin kita menjalani hari-hari dalam keadaan tidak baik-baik saja, semakin terasa hancur jiwa kita, bahkan juga berdampak buruk bagi raga. Hal ini terjadi sebab kita sudah terpengaruh oleh perasaan-perasaan negatif itu. Ketika perasaan buruk telah bermain peran aktif di dalam batin, perasaan itu akan terus melahirkan rasa-rasa sakit hingga membuat kita tak mampu lagi bertahan, menyerah, lalu mengakhiri hidup.

Penulis juga paham, mereka yang sedang atau telah terjebak dalam "ilusi rasa-rasa batin palsu", akan sulit untuk menjalani hidup ini secara normal. Meskipun tak bisa dipungkiri juga bahwa semua manusia hidup bersama beban. Namun bagi mereka yang telah diambil alih hatinya oleh aura-aura jahat, akan merasa seakan dunia ini kejam, tak ada orang-orang yang peduli pada mereka, bahkan sampai berpikir Tuhan terlalu jahat karena telah memberi mereka cobaan hidup yang berat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun