Mohon tunggu...
Reza Ahmad Wildan
Reza Ahmad Wildan Mohon Tunggu... Pembelajar

Pembelajar || 081211011411 || ahmad.rezawildan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

MWC-NU dan PAC Ansor Bojonggede Menggelar "Majelis Mantik Nusantara untuk Memahami Kaidah Berpikir

29 Juli 2020   11:00 Diperbarui: 29 Juli 2020   11:09 22 0 0 Mohon Tunggu...

Bojonggede -- Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC-NU) dan Pimpinan Anak Cabang Ansor (PAC Ansor) Kecamatan Bojonggede menggelar "Majelis Mantik Nusantara" di kediaman KH. Ahmad Zein, MTs. Al-Mujtahidin, Bojonggede, Bogor, Minggu 26/07/2020.

Kajian Ilmu Mantik yang didominasi oleh Generasi Melenial di Bojonggede dan khususnya PAC Ansor, Banser, LTN, dan Fatayat Nahdlatul Ulama mengusung tema 'Sorogan Mantik: Sebagai Kajian untuk Memahami Kaidah Berpikir', sehingga, setelah mengikuti Kajian Ilmu Mantik di Majelis Mantik Nusantara, diharapkan mereka dapat berpikir sistematik, terukur, dan mendalam.

dokpri
dokpri
Dalam Kajian Ilmu Mantik tersebut turut dihadiri oleh Ustadz Aceng Audad sebagai Ketua Tanfidz MWC-NU Bojonggede, Kang Daniel Zuchron sebagai penggagas daripada "Majelis Mantik Nusantara" di Bojonggede, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua di Lakpesdam PBNU, dan sebagai anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Republik Indonesia priode 2012-2017.

Kegiatan Majelis Mantik Nusantara mendapat dukungan penuh dari Ketua Tanfidz MWC NU Bojonggede, agar anak muda melenial dapat menumbuhkembangkan potensi berpikirnya untuk meluruskan kekeliruan informasi di media sosial.

"Ilmu mantik berpusat di akal dan merupakan kajian untuk mengolah akal kita untuk berpikir agar tidak salah mengambil keputusan. Sehingga tidak mudah berbicara tanpa adanya berpikir", pengantar Ustadz Aceng.

"Dengan mengkaji dan memahami ilmu mantik, kita nantinya akan dituntut untuk berpikir sebelum berucap, merenung untuk bertindak, menelaah sebelum menghakimi orang yang berbeda paham, dan menangkal berita bohong/hoaks," kata Kang Daniel dalam pengantar awal ilmu mantik di "Majelis Mantik Nusantara".

dokpri
dokpri
Wakil Ketua Lakpesdam PBNU ini juga berharap generasi muda NU bisa menjadi anak muda berintelektual tinggi yang berpikir rasional dan mampu ikut terlibat perang argumen melawan pihak-pihak penyebar hoaks yang mengatasnamakan agama di kehidupan nyata maupun kehidupan media sosial.

Adapun pemateri ilmu mantik disampaikan oleh Kang Deni Gunawan, yang mana beliau merupakan Ketua Kaderisasi PK PMII STFI Sarda, Koordinator Kaderisasi PC PMII Jakarta Selatan, dan pernah menjadi Ketua Riset Mahasiswa Tafsir STFI Sarda 2014.

Dalam acara inti, yaitu Sorogan Mantik: Sebagai Kajian Memahami Kaidah Berpikir, Kang Deni memaparkan bahwa "ilmu mantik adalah sebagai sebuah ilmu alat untuk menghindarkan seseorang dari kesalahan berpikir dan menunjukkannya kepada cara berpikir yang benar. Ilmu mantik dapat mencegah seseorang terpapar hoaks dan mampu mendeteksi proposisi-proposisi yang bernilai fallacy".

"Baik hoaks ataupun fallacy adalah bentuk-bentuk dari kesalahan berpikir yang dapat menyebabkan penyakit mental, dan adapun cacat piker sendiri merupakan ciri dari sakit akal. Maka upaya untuk melawan hoaks dan fallacy yaitu dengan pendekatan ilmu mantik, dengan upaya menyehatkan akal manusia", lanjutnya.

Editor: Reza Ahmad Wildan

tayang di ltnnujabar.or.id

VIDEO PILIHAN