Mohon tunggu...
Reyvan Maulid
Reyvan Maulid Mohon Tunggu... Freelancer - Writing is my passion
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Penyuka Seblak dan Baso Aci. Catch me on insta @reyvanmaulid

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Renungan Maulid Nabi, Mengerem Lidah dan Tangan

19 Oktober 2021   08:52 Diperbarui: 19 Oktober 2021   19:10 215 9 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi Umat Muslim Saat Bercengkrama. Photos by Rawpixelimages/Dreamstime.com

Setiap hari kita disibukkan dengan kehidupan di media sosial yang rasa-rasanya kita sendiri ingin mengumpat hal-hal yang menjadi kegusaran dan sakit di hati kita. Terkadang kehidupan yang cenderung "maya" ini menjadikan manusia selalu ingin merasa lebih dari manusia lainnya. 

Terkadang ucapan yang kita lontarkan berasal dari mulut yang ditransfer ke jari jemari manis kita untuk mengutarakan maksud dan hal-hal yang selalu membuat risau dan gelisah bagi pembacanya. 

Kehidupan di dunia maya memang selalu mengasyikkan tapi tidak jarang orang-orang bisa terbius isi pikirannya karena mereka dengan santainya mengeksplor kebahagiaan dunia.

Di era media sosial sekarang ini. Ucapan dengan mudah diwakilkan dengan jempol untuk mengetikkan chat di keyboard gawai kita. Dengan kehadiran media sosial, sudah bisa dipastikan kita dengan mudahnya mengatakan dan melakukan apapun yang ingin kita ketikkan. 

Tidak peduli mau moodnya jelek atau bagus, memang media sosial seakan membuat ricuh suasana karena kehadiran akun bodong atau akun fake yang dinilai meresahkan dari segi etika mengutarakan pendapatnya. Wajar jika ada orang merasa risih karena menurutnya mereka loss control sehingga tidak bisa menjaga lisannya dengan baik.

Sadarkah teman-teman bahwa terkadang ucapan kita melalui media sosial seringkali tidak disaring dan terlalu oversharing, sehingga menimbulkan kegusaran dan sakit hati bagi para pembacanya. Ucapan di media sosial seakan sarat makna yang misinterpretasi. Bicara A tetapi kita menanggapi dengan BCDE dan lain lain.

Sudahkah kalian mengerem kebiasaan buruk yang membudaya ini?

Mengutip perkataan sebuah pepatah yaitu mulutmu harimaumu, mengisyaratkan bahwa lebih baik kita diam daripada berbicara pun hanya semata-mata omong kosong gak ada gunanya. Karena momennya pas yaitu Maulid Nabi Muhammad SAW maka ini adalah sebuah momentum bagi kita semua untuk meneladani sifat dan suri tauladan Nabi kita Nabi Agung Muhammad SAW. 

Semasa hidupnya kita dianjurkan untuk mengerem gerak-gerik lidah dan tangan kita yang kita sudah tahu sendiri bahwa menjaga keduanya merupakan hal yang sangat penting. 

Sebagai manusia yang sudah dibekali akal dan lisan oleh Allah SWT kita diberikan keleluasaan untuk mengutarakan sesuatu. Namun dalam prosesnya terkadang tidak mudah, maka dari itu pintar-pintarnya kita untuk menjaga lidah dan tangan kita. Penjagaan terbaik untuk menjaga lisan dan tangan adalah iman.

Hal ini sudah diterangkan lebih lanjut dalam Al Quran Surah Al-Ahzab ayat 70-71. Allah berfirman:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan