Mohon tunggu...
Hadi Gumilar
Hadi Gumilar Mohon Tunggu... Hanya Seorang Pengamat

Mohon ma'af apabila gaya penulisan dalam setiap artikel belum mencerminkan seperti seorang penulis sungguhan. Karena saya hanya seorang pengamat dan penulis amatiran.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Lebih Baik Terlihat "Lemah" daripada Terlihat "Kuat"

20 November 2019   23:07 Diperbarui: 21 November 2019   21:02 80 0 0 Mohon Tunggu...
Lebih Baik Terlihat "Lemah" daripada Terlihat "Kuat"
images-8-5dd5d133097f362edf6129a2.jpeg

Source : https://m.detik.com/news/berita/d-4725865/jokowi-didesak-selamatkan-kpk-ini-syarat-penerbitan-perppu

Tidak perlu di ambil pusing kalau kita sering di remehkan, di rendahkan, apalagi di anggap sepele. Itu tidak penting dan tidak berpengaruh pada kualitas kekuatan kita.

Bagi orang kuat terlihat kuat itu tidak penting. Fakta nya orang kuat kerapkali menyembunyikan kekuatan nya dalam kelemahan. Justru hanya orang lemah lah yg kerapkali ingin terlihat kuat, bahkan berpura-pura kuat demi menutupi kelemahan dan "keminderan nya".

Kekuatan disini berati aspek-aspek yg ada dalam diri kita. Baca : (kelebihan, potensi, kemampuan, bakat, talenta, prestasi, value, kecerdasan dlsb).

Jadi saya tidak pernah sama sekali merasa keberatan bila ada orang yg kerapkali merendahkan, meremehkan, bahkan menganggap saya sepele. Ini malah suatu keuntungan bagi saya dan bukan sebuah kerugian. Karena hanya orang yg selalu terlihat lemah lah yg paling sulit di kalahkan. Loh kok bisa ? 

Jadi begini, dalam suatu pertempuran jika kita terlalu memperlihatkan atau mendemo kan kekuatan kita, maka lawan akan lebih mudah membaca peta kekuatan kita. Karena lawan bisa saja kekuatan nya lebih besar melebihi kekuatan kita, tapi kita malah blunder, karena terlalu percaya diri, akhirnya kita jadi terlena dan lawan bisa mencium kelemahan kita.

Contoh ini terlihat nyata dalam kontestasi politik kemarin pada saat pilpres, Jokowi yg di pandang lemah oleh lawan politiknya justru malah yg memenangkan kontestasi yg panas dan sengit itu. Jokowi tak seperti yg mereka kira. Presiden yg di anggap planga-plongo, lemah, dan ndeso itu justru pada saat akhir-akhir, berhasil menunjukan kekuatan yg sebenarnya. Padahal lawan nya adalah Jendral bintang tiga.

Artinya apa ? Menunjukan kekuatan justru adalah kesalahan. Bersikap jumawa, menunjukkan kelebihan, mempertontonkan kemampuan yg berlebihan malah akan melemahkan kita secara perlahan tanpa di sadari.

Jokowi adalah salasatu figur yg pas yg bisa di jadikan contoh tentang hal ini. Beliau yg dulu saya ragukan kemampuan nya dalam berpolitik, malah sekarang banyak menginspirasi saya untuk belajar tetap rendah hati dan sabar menghadapi komentar netijen. :P

Kita bisa amati bersama-sama, Jokowi sama sekali tidak pernah memperlihatkan kekuatan yg sebenarnya, ia malah dengan sengaja membuat dirinya terlihat lemah di depan lawan politiknya. Sehingga lawan-lawan politiknya tidak menyadari apa yg selanjutnya akan ia lakukan. Dengan cerdas dan rapi ia menyusun kekuatan dalam bungkus kelemahan.

Nah berkat fenomena itulah akhirnya saya mendapatkan inspirasi untuk menulis note ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x