Mohon tunggu...
Review Film
Review Film Mohon Tunggu...

Mengulas film, sineas, budaya, dan berbagai kabar sosial, politik, budaya dari dalam dan luar negeri.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Review Film: Pendekar Tongkat Emas

22 Desember 2014   14:47 Diperbarui: 17 Juni 2015   14:44 261 0 0 Mohon Tunggu...

Oleh: Yan Widjaya

IBU saya bilang, “Cerita film silat bisa disingkat hanya dalam satu kata, Pembalasan. Balas dendam atas kematian ayah atau guru sebagai wujud bakti seorang anak atau murid.”

Benar, karena itulah intisari ratusan film silat Mandarin yang membanjiri bioskop kita dari era 1970 sampai 1990-an, sebagian besar produksi Shaw Brothers, Hong Kong. Nah, pakem klasik itu pulalah yang digubah empat penulis skenario Pendekar Tongkat Emas/PTE; Jujur Prananto, Mira Lesmana, Ifa Isfansyah, dan Seno Gumira Ajidarma.

Film dibuka dengan monolog Christine Hakim sebagai Cempaka, pendekar nomor satu, “Dunia persilatan itu bagai lorong panjang dan gelap...” suara berat sang aktris kawakan yang familiar bagi fansnya tak ubahnya mengulang opening Merantau.

Cempaka yang terpaksa menumpas lawan-lawannya, kemudian malah mengasuh anak-anak mendiang sebagai murid. Merekalah Biru, Gerhana, Dara, dan Angin. Perbuatannya sama dengan, “Memelihara anak macan…”, sebagai lawan peribahasa, “Membabat rumput sampai ke akar”, supaya tiada masalah di kemudian hari.

Dan bibit penyakit memang sudah dirancang dua murid sulung yang sekilas patuh namun terus menabur racun dalam minuman sang guru. Puncaknya kala Cempaka memilih Dara menjadi pewaris tongkat emas sekaligus hendak mengajarkan jurus pamungkas pada dua murid bungsunya, Biru dan Gerhana memberontak dan menghabisi guru mereka. Si bocah Angin ikhlas berkorban demi meloloskan Dara. Sesuai amanat terakhir gurunya, Dara mencari Naga Putih untuk mempelajari jurus pamungkas, dan ia pun bertemu Elang, satria piningit yang menyembunyikan diri di kampung. Sebaliknya Biru melampiaskan ambisi dengan memimpin persilatan dan mengabaikan para datuk.

Eva Celia sebagai Dara, Nicholas Saputra sang Elang, Reza Rahadian memerani Biru, dan Tara Basro alias Gerhana, memang pemain watak berkualitas. Ditambah pendatang kecil Aria Kusumah sebagai si bungsu Angin mirip hwesio cilik gundul. Untuk menghayati silat tongkat mereka ditempa fight instructor Xiong Xinxin yang diimpor dari Hong Kong. Xiong adalah pelatih kawakan yang biasa menangani film-filmnya Jet Li, bahkan mengarahkan film laga Hollywood, The Musketeer (2001).

Hakekatnya tongkat adalah senjata panjang yang keras dan kaku, beda dengan toya yang lentur dan luwes. Lihat keindahan jurus toya yang diperagakan Jet Li dalam debutnya, Shaolin Temple (1982). Keruan kedahsyatan Li yang tergembleng 20 tahun usah dibanding dengan yang baru belajar jurus kembangan empat bulan. Mau tak mau hal ini kian menyadarkan kebenaran prinsip Gareth Evans, Ang Lee, Zhang Yimou, dan sineas lainnya untuk memasang pemain yang menguasai seni bela diri sejati dalam film berbasis martial art, karena lebih mudah bagi mereka untuk belajar seni peran ketimbang sebaliknya.

Untungnya kemantapan akting para pemain menutupinya hingga penonton diyakinkan, bahwa mereka betul-betul pendekar. Keunggulan PTE dibanding made in Hong Kong 1980-an yang umumnya digarap di studio adalah Sumba Timur nan gersang sebagai alam persilatan antah-berantah dalam dunia rekaan sutradara.

Toh saking kesengsem Quentin Tarantino maka Ifa pun mencuplik adegan Kill Bill dengan menongolkan anak yang memanggil ibu pada Gerhana. Balas-membalas tiada akhirnya, karena pada antiklimaks sudah digambarkan anak Gerhana yang diangkat murid oleh Dara, diam-diam mengintai latihan gurunya dan berlatih keras sendiri dengan mata menyimpan bara kesumat. Kelak bocah yang diperani Nuh Putra Damar Alam ini bisa diramal pasti menuntut balas kematian orangtuanya dan sejarah pun terulang… *** YaWi


Untuk verdict nilai akhir film ini lihat di: http://reviewfilm.info

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x