Mohon tunggu...
Retty Hakim
Retty Hakim Mohon Tunggu... Relawan - Senang belajar dan berbagi

Mulai menulis untuk portal jurnalisme warga sejak tahun 2007, bentuk partisipasi sebagai warga global.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Sinau Borobudur: Upaya Mewariskan Makna Sumpah Pemuda

28 Oktober 2021   09:26 Diperbarui: 28 Oktober 2021   12:20 747 10 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sebagian pesarta Sinau Borobudur (foto: tampilan print screen zoom)

Siapa penerus Sumpah Pemuda kalau bukan generasi muda itu sendiri? Bagaimana mewariskan harta dari tanah air ini bila kaum muda tidak mengenal esensi dari warisan yang diterimanya? Karena itu perlu memperkenalkan kekayaan Indonesia kepada kaum muda, calon penerus yang akan menjaga dan melestarikan semua kekayaan Indonesia, baik berupa budaya, maupun sumber daya alam dan sumber daya manusia. Kaum muda ini yang ke depannya akan menjadi pembawa tongkat estafet untuk melanjutkan bangsa Indonesia.

ATSANTI Youth Festival 2021 berjudul "Sinau Borobudur" berlangsung secara daring pada tanggal 23 Oktober hingga 24 Oktober 2021, setelah itu dilanjutkan secara personal dan akan diakhiri dengan pengumpulan Infografis pada hari Sabtu, 30 Oktober 2021 besok. Yang menarik, acara yang dibuat sebagai bagian dari perayaan Sumpah Pemuda oleh Yayasan Atma Nusvantara Jati (ATSANTI) dilaksanakan sepenuhnya oleh anak-anak muda yang masih duduk di bangku SMA.

Christopher Arya Kuncarajakti menjadi Produser Eksekutif yang melakukan koordinasi dengan teman-teman SMA lain dari berbagai daerah. Peserta muda yang mengikuti acara ini cukup beragam. Dari Bukit Tinggi hingga Papua hadir wakil-wakil anak muda calon penerus bangsa. Ito, panggilan akrab Christo, yang sekarang duduk di kelas 12 memulai langkahnya mempelajari Borobudur dengan sebuah pertanyaan bagi narasumber, "Tolong ceritakan apa saja mengenai Borobudur yang tidak bisa kami google dari internet..."

Nilo Wardhani dari ATSANTI mempertemukan Christo dan kawan-kawan dengan arsitek Salim Lee, fotografer Soeparno,  sosiolog Suryo Adi Pramono, dan jurnalis Widiarsi Agustina. 

Dua dari 23 panitia muda yang mengkoordinasi webinar untuk hampir 200 peserta murid dan pengamat (foto kolase IG @atsanti.foundation)
Dua dari 23 panitia muda yang mengkoordinasi webinar untuk hampir 200 peserta murid dan pengamat (foto kolase IG @atsanti.foundation)
 

Dari pertemuan dengan narasumber, Ito dan teman-teman panitia inti mengakui tercengang dengan kekayaan budaya Indonesia yang sebelumnya tidak terlalu mereka perhatikan. Mereka belajar menggali lebih dalam agar dapat membuat konsep acara yang sesuai bagi rekan-rekannya, dan dapat menggali lebih banyak dari narasumber. Demikian pula dengan peserta yang hadir dalam acara webinar Sinau Borobudur merasa diperkaya dengan materi dari narasumber. Bahkan guru-guru yang datang sebagai pengamat merasa perlu diadakan acara serupa khusus untuk guru-guru.

Salim Lee menegaskan bahwa keajaiban Borobudur bukan keajaiban mistis, melainkan suatu bukti peradaban masa lalu bangsa Indonesia yang sudah sangat maju. Bagaimana struktur Candi Borobudur dibentuk, dan filosofi yang diterjemahkan ke dalam bangunan candi tersebut adalah maha karya hasil refleksi dan budaya yang tinggi.

Dari kejayaan maritim hingga budaya agrikultur memang terekam di dalam relief-relief yang terdapat di Borobudur. Berbeda dengan kisah yang biasanya ditemukan mengenai tiga tingkatan candi; kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu, peserta muda diperkenalkan dengan tingkatan lain yang ada dalam catatan penelitian Salim Lee. Penjelasan mengenai bagaimana orang-orang pada abad ke-8 membangun candi tersebut, serta bagaimana mereka mampu memikirkan jalan keluar untuk memperkuat struktur bangunan ketika terjadi penurunan tanah merupakan hal yang sangat teknis, tetapi tetap memukau lebih dari 120 peserta muda dan puluhan pengamat.

Proses dibangunnya Borobudur dan perkembangan strukturnya dikisahkan oleh Salim Lee (foto: print screen zoom)
Proses dibangunnya Borobudur dan perkembangan strukturnya dikisahkan oleh Salim Lee (foto: print screen zoom)
 

Hebatnya, anak-anak muda ini dengan penuh antusias mengikuti webinar yang sejatinya memiliki muatan yang cukup mendalam. Bahkan Mario, seorang murid SMP yang karena ketertarikannya ikut diundang hadir, merasa lebih tertarik untuk mengenal Borobudur. Hanya saja, bagi Mario yang mencintai kegiatan fotografi, sesi fotografer Soeparno yang paling menarik baginya.

Soeparno, fotografer senior yang terkenal dengan foto-foto bangunan warisan sejarah, memang memukau anak-anak muda itu dengan kisahnya mencari sudut-sudut terbaik untuk merekam keindahan Borobudur di tengah alam. Beliau berkisah bagaimana mengejar keindahan candi Borobudur di kala menyongsong hari ataupun ketika mentari akan berlalu ke peraduannya.  

Kalau acara di hari pertama lebih banyak mengurai Borobudur, mencoba mempelajari Borobudur, maka hari kedua Suryo Adi Pramono dan Widiarsi Agustina mengajak peserta muda ini belajar tentang Focus Group Discussion dan bagaimana menuliskan hasil diskusi mereka dalam bentuk essai. Dalam acara hari kedua itu, peserta acara ditantang untuk bermimpi menjadi orang yang mempunyai posisi membuat kebijaksanaan bagi pengembangan Borobudur. Apa yang akan mereka lakukan menghadapi masalah-masalah di Borobudur? Bagaimana mereka akan membuat kebijaksanaan untuk melestarikan kekayaan budaya yang pemikirannya bahkan mungkin direncanakan jauh sebelum abad ke-8. 

Tangkapan layar peserta yang terus bersemangat mempelajari warisan budaya bangsa (foto: tampilan print screen zoom)
Tangkapan layar peserta yang terus bersemangat mempelajari warisan budaya bangsa (foto: tampilan print screen zoom)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan