Mohon tunggu...
Resty
Resty Mohon Tunggu... Freelancer

Penikmat fiksih dan non-fiksih

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Efek Samping Konstruksi Sosial "Budaya Kita" Soal Keperawanan

19 September 2019   15:34 Diperbarui: 20 September 2019   18:12 0 10 3 Mohon Tunggu...
Efek Samping Konstruksi Sosial "Budaya Kita" Soal Keperawanan
Sumber ilustrasi: flo.health

Karma adalah hukum universal. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Tapi saya ingin mengajak pembaca untuk lebih jauh melihat karma. Karma yang bukan sekadar berkisar pada bagaimana kita mendapat nasib buruk karena pernah berbuat buruk pada orang lain. 

Tapi karma yang muncul karena perilaku masyarakat umum, dari sistem sosial-budaya yang kita bangun dari generasi ke generasi. 

Konstruksi yang tanpa sadar telah membuat banyak orang menderita, termasuk keluarga, teman dekat, atau bahkan diri sendiri. Kontruksi yang kita pikir benar, tapi mungkin kita melewati dampak buruknya.

Ini cerita soal efek samping konstruksi sosial kita. Cerita yang disaksikan olehku yang masih mudah dan diperankan oleh seorang teman baik yang tak lagi bersamaku di dunia ini.

***

Usiaku lima belas tahun ketika berpikir untuk meninggalkan keluarga dan kampung menuju Ibu Kota. Kupikir begitulah pikiran anak remaja, tinggalkan yang membuatmu sakit atau mungkin lebih tepat jika disebut lari dari masalah.

Toh apa yang bisa dilakukan perempuan 15 tahun untuk menyelesaikan masalah yang menyangkut keutuhan keluarga. Mengurus konflik dalam diri saja tidak mampu.

Di sekolah baru, saya bertemu Reni. Dia nampak penyendiri dan murung. Seperti gambaran orang yang menyimpan luka besarnya sendirian. Melihatnya seperti melihat jeritan terdalam dalam diriku yang tak mampu kuteriakkan.

Satu cerita terangkai dengan cerita lain, kami menjadi dekat. Kupikir dia seseorang yang sama persisi sepertiku. Tapi tidak juga. Dia punya seorang pacar, lebih tepatnya seorang mantan pacar yang masih dekat. Sesuatu yang bahkan dalam seribu tahun kemudian tak akan kulakukan.

Laki-laki itu adalah pacar pertamanya. Mulai berpacaran saat SMP lalu putus saat masuk SMA karena laki-laki itu selingkuh. Membuatku bertanya-tanya, mengapa Reni masih saja mau dekat dengan laki-laki itu.

Aku tahu jawabannya kemudian. Jawaban yang saat itu tidak kupahami sedalam sekarang. Dia bilang dia memberikan keperawannya pada laki-laki itu. Dia menyesal. Sangat menyesal. Tapi dia merasa tidak akan ada laki-laki lain yang mau menerimanya kelak. Karena itu, ia bertahan bersama mantan pacarnya karena ia yakin suatu saat saat laki-laki itu sudah puas ke sana ke mari, ia akan kembali padanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x