Mohon tunggu...
Repa Kustipia
Repa Kustipia Mohon Tunggu... Ahli Gizi - Gastronomist (Gastronome)

Membahas Gastronomi di @gastrotourism_academy Berhenti Menjadi Ahli Gizi (Nutritionist Registered) di tahun 2021. Bertransformasi Menjadi Antropolog Pangan. Dokumentasi Lapangan ig : @repakustipia

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Minimalisme: Dari Makanan, Pikiran, dan Kehidupan

8 November 2022   07:41 Diperbarui: 8 November 2022   09:43 142
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber gambar : istockphoto.com 

Siapa sih pelopor hidup minimalis ini ? Apa tujuannya ? Filsuf mana lagi sih yang perlu disimak tentang isi pikirannya dalam menghadapi hidup ? kok kayanya mumet banget ya kehidupan masa kini, sampai harus mereduksi beberapa hal. Hal ini tidak dirasakan oleh satu orang tapi beberapa orang yang mengalami fase kehidupan dengan ekologinya, entah sedang berada pada tahap kebosanan, kejenuhan, kesulitan, kebahagiaan, bahkan kesuksesan versi masing-masing. 

Apa yang disebut dengan Minimalisme

Menurut buku yang ditulis oleh Stephanie Marie Saferian yang berjudul Sustainable Minimalism: Embrace Zero Waste, Build Sustainability Habits That Last, and Become a Minimalist without Sacrificing the Planet (Green Housecleaning, Zero Waste Living). Bagaimana ? Panjang sekali ya judulnya. Tapi buku ini akan memberikan peta jalan realistis menuju kehidupan yang berkelanjutan. Minimalisme disini adalah menyederhanakan hidup dengan keperluannya serta meyakini kecukupan. Tentunya definisi ini berbeda dengan perspektif seni, arsitektur, dan ketertarikan yang selalu dikaitkan dengan passion (gairah), namun gaya minimalis bangunan sudah terlihat tidak ada keborosan material, kalau harga yang boros sesuai kualitas, itu bukan boros tapi tingkatan harga sesuai kualitas material. Lupakan soal bangunan, kembali pada kehidupan. 

Siapa saja para pelaku Minimalisme ? 

Sudah banyak dan beragam dari berbagai usia, bahkan orang desa, orang dusun, orang kampung punya versi hidup minimalisnya masing-masing, tentunya hidup minimalis tidak bisa disamaratakan dan harus mutlak demikian, namun hidup minimalis harus memiliki prinsip sesuai kebutuhannya. 

Minimalisme muncul pada akhir 1950-an ketika seniman seperti Frank Stella, yang Lukisan Hitamnya dipamerkan di Museum of Modern Art di New York pada tahun 1959, mulai berpaling dari seni gestural generasi sebelumnya. 

Namun, minimalisme semakin kesini bisa diterjemahkan dalam segala hal termasuk gaya hidup dan pilihan hidup. Entah itu dari konsumsi, pakaian, kendaraan, kegiatan, penggunaan media sosial, bahkan minimalisme dalam berbicara. 

Bagaimana memulai Hidup Minimalis

Mudah sekali, begini pengalaman saya sebagai orang kampung dalam menjalani minimalisme, dampak baiknya hidup lebih mindfulness

Mindfulness menurut Jon Kabat Zinn, seorang profesor emeritus kedokteran Amerika dan pencipta Klinik Pengurangan bidang Stres dan Pusat Perhatian dalam Kedokteran, Perawatan Kesehatan, dan Masyarakat di Fakultas Kedokteran Universitas Massachusetts. mengartikan mindfulness sebagai kesadaran yang muncul dari perhatian anda saat ini tanpa bertujuan menghakimi, artinya penerimaan sepenuhnya tanpa penilaian macam-macam, jadinya lebih bisa menikmati secara penuh dalam hal apapun. Begitu menenangkan bukan ? 

Miliki Prinsip Minimalisme Versi Diri Sendiri 

Hidup minimalis ini : 

  • Tidak wajib memiliki benda-benda minimalis estetik yang sengaja beli. 
  • Minimalis adalah mereduksi dan mengganti bahkan mensubstitusi. 
  • Minimalisme bukanlah harus membeli sesuatu yang baru, namun tidak terlalu perlu. 

Makanan : 

  • Mulai dari apa yang  akan dimakan
  • Misi Minimalisme : mereduksi jejak karbon kalau berkendara jika hanya ingin menikmati es krim di Mall dengan jarak yang cukup jauh ? Tunggu dulu, ada warung tetangga atau minimarket terdekat yang menjual es krim dan bisa menikmatinya, bahkan jika bisa bikin es lilin di rumah, mengapa tidak membuatnya ? 
  • Hal lain seperti memilih ayam goreng paketan dianter ke rumah dengan berdiam diri dan menunggu tanpa melakukan apa-apa, sepertinya akan setara dengan menyediakan ayam ungkeb atau beberapa frozen food. Waktu tunggu dan waktu masaknya hampir sama. 

Barang-barang Keseharian : 

  • Dimulai dari kebutuhan di kamar mandi, kebutuhan face and body care, outfit (dari keperluan penutup kepala sampai ujung kaki), dan perintilan keseharian lainnya sudah disesuaikan dengan kebutuhan, tidak banyak menumpuk namun jarang atau tidak terpakai sama sekali. 
  • Misi Minimalisme : mengurangi sampah kemasan
  • Bisa memulai dengan mulai membeli keperluan rumah tangga dalam volume besar untuk beberapa bulan, misalkan saja daripada membeli 250 ml per satu saset sabun cuci piring dan 1 minggu habis, mengapa tidak membeli 5 Liter saja untuk 6 bulan dengan sistem pemakaian per 250 ml per 1-2 minggu. Selain tidak repot menambah daftar belanjaan bulanan, hal ini bisa lebih ekonomis dan mengurangi sampah kemasan.

Pemilihan Warna : 

  • Pilihlah warna-warna senada dan memiliki harmonisasi, boleh tabrak warna asal tidak membuat uring-uringan karena kurang cocok bahkan tidak cocok. Lebih aman memilih warna-warna yang memiliki nuansa filosofi seperti : kuning untuk kesejahteraan, hijau untuk kedamaian dan ketenangan, biru agar tetap semangat, merah memiliki kesan mewah dan berani, dan filosofi bebas lainnya. Prinsipnya tetap gunakan yang ada dan maksimalkan yang ada, jika perlu membeli silakan sesuaikan dengan urgensi keperluan. Tidak wajib kan ? 
  • Meminimalisme warna akan menambah fokus dan tidak membuat pusing karena ketidakcocokan. 
  • Misi Minimalisme : Mengurangi pikiran tambahan gara-gara hal spele. 

Memanfaatkan Barang-Barang Lama, Yang Sudah Ada, Bahkan Kuno : 

  • Memangnya ada apa dengan tahun pembuatan ? selama masih bermanfaat tidak salahnya untuk digunakan. Seperti masih punya cangkir-cangkir dari zaman nenek-kakek dan masih bagus. Tidak perlu merasa kampungan atau ketinggalan zaman. Justru itulah yang berkesan. Kan tidak harus langsung disimpan digudang. Bisa dikreasikan dengan mengambil tema klasik, asyik, ciamik. Daripada membeli hal baru namun fungsinya sama saja. Konsep minimalisme kan tidak menambah hal-hal yang tidak terlalu perlu. 
  • Misi Minimalisme : Tidak membeli hal serupa namun menambah koleksi namun tidak terpakai dan menjadi menumpuk. 

Sumber Referensi dan Bacaan : 

  • Ini sudah era digital bukan ? mengapa tidak mengkombinasikan bacaan dan referensi dari yang konvensional dan digital, jangan salah usia yang sudah berusia 50, 60,70,80 tahunan itu sudah banyak yang tidak ketinggalan zaman karena lingkungan sosialnya mendukung pada akses informasi digital. Dan ini sesuatu yang hebat. Dimana mereka bisa mengakses berbagai informasi lewat sebuah kanal yang tersedia, tanpa harus menambah koleksi bacaan kertas. Sesekali tidak mengapa, namun jika hal tersebut menambah ruang tambahan untuk menyimpan. Tidak ada salahnya bertransformasi. Misalkan saja jika masih berlangganan majalah cetak, surat kabar cetak, bisa beralih pada langganan digital. Begitu pula buku,referensi dan penyimpanan. Tidak harus sepenuhnya digital namun mulai dikombinasikan. 
  • Misi Minimalisme : Meringkas barang agar tersimpan rapi. 

Meminimalisir Media Sosial : 

  • Satu hari masih 24 jam bukan ? Menurut dataindonesia.id Negara terbanyak menghabiskan waktu di sosial media ada di Indoensia yang berada pada peringkat ke-10 dengan durasi 3 jam 16 menit per hari. Apakah akan dihabiskan begitu saja dalam produksi konten dan postingan di berbagai media sosial ? Itu tergantung penggunanya. Bijaklah dalam menggunakan media sosial masa kini.
  • Misi Minimalisme : Menyediakan waktu rehat sejenak dari dunia maya dengan segala keviralannya.
  • Tidak masalah juga kan terlewat beberapa informasi yang tujuannya hanya sebuah informasi saja. Peduli boleh saja, namun ingat adakah kuasa lebih untuk merubah peristiwa tersebut. Posisikan sebagai penyimak saja sudah cukup dan tidak perlu terlarut-larut, kecuali berkontribusi atas nama suatu instansi dalam isu itu untuk suatu hal yang solutif, itu silakan dilanjutkan.

Hiburan Minimalis Namun Harmonis : 

  • Seberapa mahal sih harga sebuah kebahagiaan ? Apakah yakin sebahagia itu pada kenyataannya ? Ciri bahagia itu apa memangnya ? Dimulai dengan senyum sumringah dan semangat yang bagus dengan mood bagus itu adalah kebahagiaan dan awal kecerian menghadapi hari-hari bukan ? 
  • Menghibur diri, Melakukan Liburan, Melakukan hal-hal menyenangkan sebetulnya bisa dengan cara mudah, murah, dan bisa pada saat itu juga dilakukan atau spontan. 
  • Misalnya : Penat sedang dalam pekerjaan bisa rehat sejenak hanya dengan memejamkan mata 5-10 menit saja kemudian kembali fokus, bisa dengan menyeduh minuman-minuman hangat aromatik sebagai relaksasi (ada yang memilih teh, kopi, atau buah-buahan kering yang menambah kesegaran, bisa juga menyalakan aroma terapi wewangian menenangkan seperti wangi lavender, mint, atau sereh jeruk nipis), bahkan berjalan-jalan 10 menit saja menghirup udara segar bisa menambah kesenangan. Tidak perlu mahal kan ? 

Sediakan Hari Khusus Untuk Berbenah : 

  • Tentunya, repot sekali jika hal seperti beres-beres, membersihkan, merapikan, merawat jika dilakukan setiap hari tanpa henti, rutin, bahkan tidak ada habisnya. 
  • Mulailah menyediakan hari khusus untuk berbenah, bisa setiap hari sabtu meluangkan hanya untuk mencuci, sabtu depannya lagi merapikan peralatan, sabtu depannya lagi membersihkan halaman. Dengan demikian pekerjaan domestik atas nama beberes terjadwal rapi dan biasa dilakukan. Jadi hari-hari sebelumnya bisa fokus dengan kegiatan yang lebih bermakna lainnya. Bahkan 1 hari penuh hanya untuk istirahat dan menikmati tidur siang, bukankah suatu kenikmatan rehat dan rileks ?

Berhenti Memperbudak Diri Sendiri : 

  • Tidak semua kegiatan, kontribusi, dedikasi harus dilakukan sendirian bukan, manusia adalah makhluk sosial dimana didalamnya ada kolaborasi, daripada stress sendirian lebih baik beberapa pekerjaan mulai dibuat prioritas dan jika urgensi harus mewakili bisa mulai delegasikan. 
  • Contoh sederhana : jika ada undangan pernikahan namun tempatnya jauh dan menghabiskan banyak anggaran, bisa mulai mendelegasikan atau mewakilkan dengan hal lain, misalnya tidak sempat datang, namun hadiah ala kadarnya bisa tersampaikan dan tidak perlu dibawa hati.
  • Misi Minimalisme : Mengurangi urgensi-urgensi yang membuat stress diri. 

Membuat Ekspektasi Berjangka dan Logis : 

  • Mimpi memang indah sebagai bunga tidur, namun hidup dalam impian dan khayalan sepertinya perlu diminimalisir, namun mulailah dengan hal-hal kecil namun bisa mengantarkan pada hal-hal yang membuat nilai baru, seperti membiasakan olahraga 10 menit setiap pagi akan menambah kebugaran sebelum menjalani hari jika intens dilakukan. 
  • Misi Minimalisme : Mengurangi hal-hal halusinasi. 

Bekerja Untuk Kebermanfaatan yang Bersahaja : 

  • Hal-hal matrealis tentu akan sangat menarik karena bisa menjadi sumber motivasi, namun hidup kan tidak selalu bekerja, ada waktunya ngobrol, ndusel-ndusel dengan hal-hal yang lucu, mengajak bermain anak kecil, bercanda dengan keluarga, bahkan menikmati sajian-sajian kuliner dengan orang tersayang. 
  • Berkata cukup jika urusan finansial sudah lebih dari cukup, setidaknya kebutuhan primer dan sekunder sudah terpenuhi dan kebutuhan tersier sesekali bisa dinikmati. 
  • Tidak perlu memaksakan pekerjaan yang memang tidak disukai jika itu menjadi beban dan membuat stress, alih-alih mendapat pendapatan untuk kebahagiaan, karena stress, pendapatan tersebut digunakan untuk pengobatan. 
  • Misi Minimalisme : Mengurasi sumber stressor. 

Terakhir, konsep minimalisme dalam hidup adalah selalu merasa cukup, bersyukur, tentunya versi minimalisme setiap orang berbeda. 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun