Mohon tunggu...
Renov
Renov Mohon Tunggu... https://renovrainbow.com

Hallo saya adalah blogger yang menulis di laman pribadi saya di https://renovrainbow.com. Sama seperti kecintaan saya pada buku dan literasi, human resources adalah jiwa dan passion saya.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Optimalisasi Peran Keluarga Bagi Penyintas Kekerasan Seksual

22 Januari 2021   13:38 Diperbarui: 23 Januari 2021   20:07 44 1 0 Mohon Tunggu...

Edukasi seksual belum banyak dilakukan di Indonesia bahkan topik seks masih dianggap tabu di dalam keluarga. Orangtua juga jarang yang mengajarkan bagaimana bersikap jika anaknya mengalami pelecehan seksual. Bahkan banyak yang terjadi adalah kejadian ini ditutupi dan tidak dilaporkan ke pihak yang berwajib, dengan alasan dapat mencoreng nama baik keluarga. Padahal yang mengalami pelecehan seksual dapat mengalami trauma karena kejadian ini. 

Jika ada perempuan yang menjadi kekerasan seksual, lalu apalagi bentuk ketidakadilan apalagi yang dapat menimpanya?

Bentuk-Bentuk Ketidakadilan Bagi Perempuan

Marginalisasi

Marginalisasi adalah proses atau perlakuan peminggiran seseorang, khususnya karena perbedaan jenis kelamin. Ini dapat terjadi karena kurangnya pemahaman pada sistem reproduksi. Misalnya, ketika seorang buruh pabrik perempuan melahirkan. Jika perusahaan tidak mengikuti ketentuan perundang-undangan tenaga kerja, buruh perempuan itu dapat mengalami pemotongan gaji atau bahkan mengalami pemutusan hubungan kerja.

Dominasi pemikiran dan budaya patriarki juga menganggap bahwa perempuan tidak bisa menduduki jabatan yang penting dan tinggi. 

Subordinasi

Seseorang baik itu perempuan maupun pria berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan karir. Penyerahan jabatan seharusnya tidak memandang jenis kelamin namun lebih kepada kompetensi seseorang. Adanya pandangan superioritas terhadap laki-laki untuk sebuah jabatan ini harus dirubah. 

Kekerasan

Perlakuan kasar terhadap perempuan sering disebabkan karena perempuan dianggap sebagai objek pelampiasan amarah dan bukan sebagai subjek yang mempunyai kedudukan yang sama. Tindakan yang dilakukan oleh laki-laki ini terjadi karena masih ada anggapan kalau laki-laki lebih berkuasa dan superior.

Tanggapan terhadap pelaporan kekerasan pun terkadang dianggap tidak serius, dan terkadang si pelapor dianggap berdusta, mencemarkan nama baik atau bahkan lebih parahnya dianggap mencari sensasi.

Begitu pula dengan perintah suami yang misal di luar batas dan tidak sesuai ajaran agama. Pihak istri terkadang tidak diberikan kesempatan untuk berdiskusi. Yang ada istri dicap sebagai istri yang durhaka dan melanggar perintah agama.

Stereotype

Banyak stigma atau pelabelan yang melekat pada diri perempuan karena konstruksi sosial di masyarakat. Misalnya saja perempuan hanya diperbolehkan untuk bekerja di ranah domestik, sedangkan laki-laki pada sektor publik.

Contoh lain pelabelan cengeng kepada anak laki-laki yang menunjukan emosi seperti menangis.

Beban Ganda

Ini terjadi kepada perempuan bekerja yang tetap harus mengurusi urusan domestik termasuk mengurusi anak bahkan tanpa bantuan siapapun, termasuk suami. Pembagian tugas pekerjaan rumah tangga tanpa adanya kesepakatan kedua belah pihak, masih dibebankan kepada perempuan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN